Dear Mahasiswa Penghalang Jalan,

Dear Mahasiswa Penghalang Jalan,

Saya tidak peduli kalian berbaju jaket bertuliskan unit atau himpunan yang kalian banggakan itu. Saya juga tidak peduli apa yang kalian omongkan, selenggarakan, atau bualkan. Namun, saya sangat-sangat menyayangkan apabila tempat kalian membual adalah jalan tempat lalu lalang orang banyak.

Kampus institut yang katanya tempat orang-orang terbaik berkumpul – meskipun itu pun bualan – ini masih punya beberapa hektar untuk tempat kalian berkumpul dan membual. Sayang sekali jika bualan Anda membuat kesal para pejalan kaki yang ada di pedestrian walk atau trotoar dengan mencegat mereka yang hendak menggunakan fasilitas yang disediakan untuk berjalan, bukan untuk membual.

Atau mungkin rangkaian bualan-bualan kalian yang kalian sebut acara kaderisasi atau whatsoever itu memang mengajarkan bahwa mengganggu orang itu menyebabkan kepuasan yang tiada tara? Kalau memang demikian, bubarkan saja acara bual-membual kalian itu. Lebih baik kalian berlatih etika dan sopan santun, atau mungkin bisa membaca definisi kegunaan jalan itu untuk apa.

Itu baru keluhan sebagai pengguna jalan yang diperuntukkan untuk pejalan kaki di kampus. Belum lagi, kalau bualan-bualan kalian itu diselenggarakan di tempat yang diperuntukkan untuk parkir atau lalu lintas kendaraan. Dari pertama kalian masuk kampus ini pun sudah diajari untuk dibuali di jalanan dan tempat parkir. Mungkin ini yang menginspirasi kalian untuk membuali angkatan berikutnya dengan cara yang sama-sama annoying.

Sekali lagi, saya tidak peduli anda membual seperti apa, jika itu ada di tempat yang tidak mengganggu orang lain. Kenapa kalian tidak membuat acara bualan di ruang kelas, misalnya? Kalau acara bual-membual kalian itu masuk akal dan tidak berbuat macam-macam, izin sudah pasti diberikan bukan? Kenapa kalian harus membuat orang lain mengumpat-umpat acara bual-membual Anda?

Poin yang terpenting dari saya, jika Anda ingin membual dan sudah mengumpulkan cukup orang untuk dibuali dan menutup jalan, carilah ruangan. Sehingga di sana Anda bisa membual sepuasnya.

Terima kasih,
Pejalan kaki yang tidak suka dibuali,
Setelah dicegat para pembual di selasar planologi dan belakang perpustakaan.

50 thoughts on “Dear Mahasiswa Penghalang Jalan,

  1. Apa itu apatis? Kalau apatis = tidak peduli, saya lebih suka mereka yang peduli sopan santun daripada yang tidak.

    Lalu kenapa kalau saya non-him? Dosa?
    Lebih dosa mana sama yang tidak punya sopan santun dan etika?

  2. yaudah ganti deh, skeptis. skeptis dengan kehidupan himpunan/unit.
    emang mereka gak sopan darimana? izin udah ada, legal. so?

    dari mata anak himpunan anda dosa. dari mata umum ya sah-sah aja.
    saya masih gak paham pola pikir anda. nutup jalan = todak sopan??? definisi darimana sih?

    saya dapat gambaran tentang anda, ada suatu kegiatan himpunan nutup jalan, anda disuruh gak lewat situ tetapi dengan cara yang tidak mengenakkan, tidak berkenan dengan anda, bisa anda bilang tidak beretika lah..
    lalu anda curhat di blog anda, menyalahkan segala kegiatan yang menutup jalan. what a coward. kalo’ lu cowok, datengin kegiatan yang bikin gak berkenan menurut lu.
    ini malah nyindir dari belakang, ngejudge kegiatan-kegiatan itu tidak ‘beretika’, kayak cewek aja lu.

  3. anda tulisnya kita “membual”. yah, inilah contoh orang yang berpandangan sempit. whatever kalo’ masalah itu, itu sudut pandang dari “orang berwawasan sempit”.

    terus nyuruh di kelas, gak mengganggu tempat umum.
    emang ini tempat punya nenek moyang lu? kita sama-sama bayar disini men, hak kita semua lah memanfaatkan apa yang ada.

  4. Jadi legal = sopan?
    Saya kentut sembarangan juga legal loh, tapi tidak sopan.

    Jadi menutup jalan adalah sopan?
    Hoo, jadi begini pemikiran mahasiswa itu. Sekarang saya mengerti kenapa ada demo anarkis di jalan, karena toh kalau saya sudah dapat izin legal maka saya bisa melakukan apa saja, termasuk menutup jalan tol dan rel kereta api dan mengganggu orang lain.

    Dari dalam kampusnya aja udah diajari seperti itu.

  5. Ya, saya juga bayar kalau masuk di jalan tol dan di kendaraan umum,
    Kalau saya pipis di dalam angkot dan gelar tikar di jalan tol, apa itu benar? Saya sudah bayar dan saya berhak memanfaatkan apa yang ada.

    Oke Anda mengganti kata ‘apatis’ dengan ‘skeptis’, bagaimana kalau sarkasme saya ‘membual’ diganti dengan ‘acara Anda’?

  6. sudut pandang anda sempit, analogi yang dipakai sungguh konyol dan bodoh.. percuma saya tanggapin🙂

  7. Analogi saya flawed sebelah mananya?
    Anda kan bilang, “Kalau sudah bayar, kita berhak memanfaatkan semua yang ada”

    Ya, kalau syarat sudah bayar terpenuhi, saya berhak memanfaatkan semua dong. Termasuk angkot untuk pipis dan gelar tikar di jalan tol”

    Kampus, jalan tol, dan angkot juga fasilitas umum yang kita sama-sama harus bayar kok.

    Btw, sebenarnya Anda lah yang flawed argumennya. Yang saya tanggapi juga bukan yang menyerang personal saya kan? Yang selalu Anda tambahkan setelah argumen Anda.

    ini malah nyindir dari belakang, ngejudge kegiatan-kegiatan itu tidak ‘beretika’, kayak cewek aja lu.

    non-him ya? hahaha

    http://en.wikipedia.org/wiki/Argumentum_ad_hominem

    FYI, saya tidak berdosa menurut sudut pandang Anda.

  8. wah, tulisan yang benar-benar bagus…
    “gua udah bayar uang kuliah, jadi suka2 gue mau ngapain” –> nampak kapasitas yang ngomong, udah jelas fungsi jalan buat apa, masih aja dibenarkan untuk dijadikan tempat “berbual”. ck ck ck

  9. Sudah, mas ardianto ini mengungkapkan opini sebagai mahasiswa umum yang merasa terganggu ketika lewat belakang perpus dan selasar plano. Kenapa itu tidak dianggap sebagai masukan saja? mungkin memang cara ngomongnya kurang berkenan buat anda. tapi yang penting isinya. kurangi lah debat kusir macam ini.

  10. Anda orang Himpunan? Kok pengecut sembunyi di balik anonimitas?

    Jangan berani-berani bawa nama Himpunan kalo sifat Anda pengecut gitu, cuma bikin nama anggota-anggota Himpunan tercemar.

    Ibrahim Arief
    13503038

  11. “Kalau dari sekarang saja sudah berani melanggar hak orang lain, nanti ke depannya gimana ya?” kurang lebih begitu kata dosen kalkulus saya (Pak Saladin).

    Bener juga, sekarang sudah berani merampas hak orang lain, meskipun sepele, kalau dibiarkan terus lama-lama tumbuh dan mengakar nih. Nongkrong di selasar gedung, tiduran di tengah ruang masjid salman, buang sampah di selokan/ jalan, naik motor di trotoar, motor/mobil berhenti di zebra cross, ngrokok di depan umum, markir mobil di tepi jalan, sampai korupsi yang jumlahnya trilyunan. Zehahaha.. Selamat datang di Indonesia.

  12. Well done Ardianto, Anda berdebat secara lebih etis dan dewasa dibandingkan orang yang ngaku anak himpunan.😀

    Sayang sekali secara kebetulan Ardianto sang “non him” ketemunya anak himpunan yang mungkin kupingnya lagi panas, sehingga bercuap2 semacam itu… Percayalah tidak semua anak himpunan seperti itu.🙂

    > dari mata anak himpunan anda dosa.

    Kenapa dosa ya? Saya juga dulu anak himpunan, saya rasa dia gak dosa. Mau lewat, dilarang. Dosa? Engga dong. Yang melarang pun belum tentu dosa. Trus menyampaikan kekecewaannya karena jalan ditutup, dalam bentuk tulisan. Dosa? Engga juga ah, kan kebebasan berpendapat itu ada. Ini kan bentuk teguran, kalo kita menganggap tulisan ini sebagai teguran dan memperbaiki cara2 kita dalam berkegiatan kan justru bisa menimbulkan image baik tentang himpunan bagi anak “non him” (meminjam istilah Anda). Yang Anda lakukan justru memperburuk citra himpunan.

    > lalu anda curhat di blog anda, menyalahkan segala kegiatan yang menutup jalan. what a coward. kalo’ lu cowok, datengin kegiatan yang bikin gak berkenan menurut lu.
    > ini malah nyindir dari belakang, ngejudge kegiatan-kegiatan itu tidak ‘beretika’, kayak cewek aja lu.

    Ybs. menyampaikan keluhannya di blog pribadi, bukan di forum anonymous. Di halaman About, ada nama lengkap, jurusan, angkatan, sampai judul dan pembimbing tugas akhir segala. Kalau namanya di-search di Google mungkin malah ketemu alamat rumah atau kosannya. Lebih coward mana sama nick ‘sekali’ tanpa ada URL atau apapun yang menunjukkan identitas?

    > kita sama-sama bayar disini men, hak kita semua lah memanfaatkan apa yang ada.
    >> Ya, kalau syarat sudah bayar terpenuhi, saya berhak memanfaatkan semua dong. Termasuk angkot untuk pipis dan gelar tikar di jalan tol”

    Kalau memang Anda tidak mengerti analogi angkot dan jalan tol, biar saya tulis dengan lebih detail: kita bayar kuliah, bayar angkot, dan bayar tol itu untuk jasa, bukan beli barang. Kalau beli barang, barang itu jadi hak Anda, mau dibuang, dirusak, diludahi… silakan. Tapi kalau jasa, ya pergunakan sesuai jasa yg disediakan. Kalo kampus ya pendidikan. Angkot ya transportasi. Jalan tol ya hak lewat jalan. Biar bayar juga harus sesuai aturan (baik legal maupun moral). Naik angkot kalo minta sopirnya lewat jalur lain, ya penumpang lain gak suka… apalagi pipis di angkot. Lewat tol tapi naik sepeda motor, ya namanya bunuh diri… apalagi gelar tikar. Di kampus, menyulitkan orang lain yang *sama-sama bayar dengan tujuan menuntut ilmu*, ya wajar kalau ada yang kesal.

    > anda tulisnya kita “membual”. yah, inilah contoh orang yang berpandangan sempit.
    > … analogi yang dipakai sungguh konyol dan bodoh..

    Pandangannya tidak sempit, atau setidaknya tidak lebih sempit dari pada pandangan Anda. Cuma sudut pandang kalian mungkin tidak beririsan sehingga masing2 menganggap yang lainnya berpandangan lebih sempit. Dia merasa terganggu dengan acara yang menghalangi jalan, wajar kalau pemilihan kata-katanya bernada negatif, seperti “membual”. Sewajar Anda yang merasa tersindir sehingga mengeluarkan istilah-istilah “berpandangan sempit” dan “konyol dan bodoh”.

    Sekian, semoga bisa meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara kalian berdua.

  13. To clarify, “Saya bukan non-him”.

    Pertanyaan “memangnya kenapa kalau saya non-him?” diajukan karena memang status him atau non tidak berpengaruh di sini. Guilt by association.

    Saya memang pakai sarkasme di tulisan di atas, karena memberi kesan yang lebih menusuk ke pembacanya. Terbukti ada yang tertusuk.

    btw IMO, anonimitas itu hak, karena kata-kata dan opini itu tidak tergantung pada siapa yang mengucap. Tapi ini menurut pendapat saya saja, kalau berbeda saya sangat menghargai kok.

  14. Iwaaan, tulisan yang luar biasa. Memang mahasiswa banyak sekali yang senang membuat-membual di luar sana. Saya juga pernah dicegat sama mahasiswa ketika saya masih jadi mahasiswa juga gara2 lagi ada acara bualan akbar di kampus gajah. Kesal sekali rasanya.

    Apalagi yang jadi penghalang jalan (baca:keamanan) pasang muka ga enak sambil ngelipet tangan di atas dada. Bikin emosi aja liatnya

    Saya berharap agar para pembual yang biasa nutup jalan pas lagi membual kelak jangan jadi pejabat. Karena kalo jadi pejabat nanti makin lebih sering nutup jalan pas lewat dengan alasan VVIP or something.

  15. Agree tentang tidak relevan-nya yang mengemukakan pendapat mahasiswa himpunan atau non-himpunan. Disagree tentang anonimitas.

    Ini bukan masalah hak atau kewajiban, kualitas diskusi kritis dan rasional menurun kalau participant dalam diskusinya mengemukakan pendapatnya secara anonim. [1] Participant yang anonim cenderung lebih banyak omong tanpa meningkatkan kualitas diskusi.

    IMO, bagian dari pembelajaran dan pendewasaan yang harus diterima sewaktu menjadi mahasiswa adalah be responsible with what you said, stand up with your opinion, and humbly admit it when you are wrong. Mengemukakan pendapat secara anonim mengurangi dan menghilangkan ketiga aspek pembelajaran tersebut.

    Dan secara pribadi, menurut saya alasan seseorang berpendapat secara anonim adalah karena mereka takut akan konsekuensi ucapan-ucapan mereka. Kalau konteksnya seseorang tersebut anonim karena mereka kritis akan pemerintahan yang represif, masih bisa dimengerti alasan ketakutan mereka. Tapi dalam kasus di atas saya tidak melihat motif lain selain kepengecutan.

    [1] Connolly, T., Jessup, L.M., Valacich, J.S., Effects of Anonymity and Evaluative Tone on Idea Generation in Computer-Mediated Groups, Management Science Vol. 36, No. 6. (1990)

  16. halo mas bro semua, keep calm bero,. udah ah jangan dibawa him non-him atau apapun itu dalam argumentasi. Yang terbaik adalah yang bisa berkontribusi buat orang banyak, yang berdosa adalah yang merugikan orang lain. Jadi jangan pake dikotomi him&non-him untuk mengukur pemikiran seseorang. wah jangan ada yang beranggapan kalo non-him = dosa loh, justru tambah dosa karena buat agama baru :p
    *Fitrian Pambudi
    13207082

  17. klo menurut saya sih lebih baik saling memaafkan aja
    klo toh ada orang membual dan mencegat jalan ya ngalah aja … ga setiap hari juga kan …

    kadang pun hal kaya gini terjadi di kehidupan nyata, misalnya lapangan bola umum ditutup sementara karena ada konser atau acara apa misalnya , apakah kita mau ngotot tetap main disana dan gontok2an sama yg punya acara? atau jalan dago yang ditutup karena car free day ? mau tetap lewat sana? apa kita mau bilang CFD melanggar hak pengendara mobil / angkot?

    (mungkin ada yg bilang iya, ada yg bilang tidak, terserah sih, ga masalah buat saya)

    ini klo kita bicara masalah ijin2 tadi,

    bukan berarti saya langsung membenarkan yang mencegat jalan …
    suatu masalah harus dilihat dari setiap sisi yang mungkin, dan masing2 dicari solusinya … jangan sepihak …
    yang mencegat jalan pun harusnya bijak memilih tempat dan hati2 dengan omongan waktu mencegat orang … rasanya selama saya di kampus ini puluhan kali saya pernah dicegat ga pernah tuh ada yg ngomong dengan tidak baik

  18. Sayang sudah ada yang punya pemikiran seperti itu Pam.😀
    Btw, saya mengapresiasi pendapat jangan ada dikotomi non-him dan him, contoh yang baik sebagai mantan ketua himpunan🙂

  19. Menurut saya ada 3 alasan orang berlindung di balik anonimitas,

    1. Melindungi diri, sehingga bisa mengungkapkan apa yang menurutnya benar tanpa perlu takut ditangkap, misalnya.

    2. Sama seperti perampok yang memakai topeng, untuk berbuat ‘sesuatu’ yang tidak baik/etis, tetapi tidak ingin identitasnya diketahui.

    3. Menganggap jati dirinya tidak penting, seperti misalnya Shakespeare yang hanya nama pena.


    Anonim versi 1 dan 3 mungkin memang acceptable, kalau yang versi 2, silakan masing-masing pribadi saja.

  20. yang mencegat jalan pun harusnya bijak memilih tempat

    This. Kadang saya heran juga, kenapa harus di jalan, apa yang menarik di jalan?

    Ah, ya,
    Car Free Day itu IMO sih karena kita nggak cukup punya taman kota (kalau alasan CFD untuk hiburan) atau hutan kota, transportasi umum, dan regulasi yang memadai (kalau alasannya lingkungan).

    Tapi itu soal lain buat saat ini.

  21. hmm, acara wisuda juga banyak yang pake jalan, entah wisuda ITB atau UNPAD biasanya berakhir dengan macet. Mungkin dari segi orang yang ga diwisuda bakal marah-marah, tapi klo yang lagi diwisuda ya maunya keluarga bisa kumpul semua, atau mungkin sekampung dan semua senang. Pada akhirnya kita yang memilih, apakah kita ikhlas terganggu dengan acara yang menggunakan ruang publik atau tidak, tergantung pandangan kita terhadap acara tersebut.

  22. wah tentang halang-menghalangi jalan😆

    btw, saya juga dulu suka kumpul-kumpul di selasar, bahkan sampe marah-marahin anak orang😛

    IMHO, kalo pake selasar buat kumpul-kumpul dan “membual” sih oke-oke aja, toh memang selasar itu dibuat untuk duduk-duduk dan kumpul-kumpul. Tapi sampai menghalangi jalan? a big NO. Apalagi mencegat pejalan kaki. oalah oalah.

  23. Sebelum liat sesuatu yang lumayan besar, kita liat dulu yang kecil-kecil, apakah ketika sedang berjalan bersama teman-teman, katakanlah 3-4 orang, anda sedang asik mengobrol dan jalan pun pasti lambat. Apakah anda menghalangi jalan orang yang ingin jalan cepat dengan cara bergerombol menghalangi jalan?
    Hanya untuk renungan karena saya pun sering khilaf dalam hal ini🙂

    13208039

  24. Yang itu masih dibilang ‘termaafkan’
    Seenggaknya kalau ada yang bilang “permisi” toh juga masih dikasih jalan.

    toh jalan lambat juga make jalan dengan benar kan:mrgreen:

  25. kalo ngalangin doang kayak gitu, pas bilang permisi biasanya langsung ngerti dan ngasih jalan.

    Kalau misalnya jalannya ditutup bahkan untuk pejalan kaki seperti kasus saya dulu, saya diminta menunggu beberapa menit agar para mahasiswa yang akan dibuali bisa lewat oleh anggota keamanan anteknya pembual. Kalo kasus itu saya belum pernah tuh mencoba bilang “saya buru2 permisi bentar” or such. Kira2 bakal dikasih lewat ga yah?

  26. kalau sedang hujan, saya setuju dengan anda, (karena jalur ber-atap di itb terbatas, dan melarang orang untuk lewat jalur ber-atap tersebut saat hujan…cukup keterlaluan ya hehe)

    kalau tidak sedang hujan…yah jalan di itb masih banyak kan?🙂

  27. Tulisan keren to… gw dulu waktu masih hidup di kampus, pernah ngamuk2 juga ke salah satu ukm yang dengan seenak perutnya naro bale2 tempat duduk di selasar gedung bengkok (sekarang jadi apa ya gedung bengkok?, dulu sempet beberapa ukm tempatnya di gedung bengkok sebelahnya gedung kimia).

    (Sedihnya) ini sebenernya sudah jadi budaya umum di negara kita, coba lihat bagaimana pejalan kaki tidak punya sarana yang layak, trotoar dipake PKL, tempat parkir, atau motor seenaknya lewat trotoar. Pejalan kaki serasa gak punya tempat di negara kita.

    Di Jakarta, gw beberapa kali sempat ngomel2 sama pengendara motor yang seenak perutnya lewat trotoar terus nglakson2 minta jalan..

    Mahasiswa apalagi dengan embel2 HIMPUNAN, mustinya juga mikirin orang lain jangan egois mikirin diri sendiri / kelompoknya..

    Erry Aryanto
    10494009 (beneran 94, bukan salah tulis)

  28. Wah, sampai ada Paman Erry ^_^
    Padahal gak ada kaitannya sama cubing, haha.

    Yah, begitulah Pak, dari dulu sampai sekarang nggak ada kemajuan.

    Gedung bengkok sebelah kimia sekarang jadi kantin,
    Namanya kantin bengkok juga, entah itu bangunan yang dulu atau bukan.

    Woh, angkatan 94 ternyata, masih muda kok pak, haha:mrgreen:

    Kapan-kapan kita ketemu lagi Pak🙂

  29. (Wah apakah yang komen di atas adalah bung faikar yang saya kenal? :D)

    Masalah hak dan kepentingan adalah masalah yang sensitif, bung hehe

    Pertanyaan pertama adalah, kenapa bung Ardianto menganggap mereka sedang membual? apakah bung Ardianto sudah mempertanyakan secara langsung kepada pihak yang berkepentingan dalam acara itu tentang konsep acara mereka sehingga mereka harus memakai porsi yang berlebih?🙂
    Mohon dijelaskan, karena menurut saya itu cukup penting dalam topik ini.

    Karena kalau memang membual, ya tentu wajar kita marah-marah, karena hak kita (sebagai pejalan kaki) sudah dilanggar hanya untuk membodohi orang lain. Namun kalau ternyata tidak? nah loh🙂

    Karena saya merasa, sebagai orang yang juga pernah melakukan acara semacam itu (acara yang terpaksa menghalangi jalan), kita perlu tahu dulu kenapa mereka memakai konsep dengan interaksi yang cukup besar (saya katakan cukup besar, karena menghalangi jalan), tentulah berawal dari konsep mereka, yang sekarang masih abu-abu, karena belum diterangkan di atas toh?

    Perihal ijin kegiatan, tentulah kita semua juga tahu, kalau ijin kegiatan di kampus itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi di kampus saya, kampus gajah, ijin di atas jam 5 sore itu uda kaya ijin nikahin pacar. Banyak ini itu haha. Ditambah dengan ukuran kampus yang kecil pula, waduh!

    Maka itu, kalau memang kegiatan mereka sifatnya mulia, yaitu memberi pelajaran, dan membutuhkan ruang yang lebih besar, ya kenapa engga kita yang legowo sedikit toh? karena menurut saya, ruang yang menjadi irisan / daerah perebutan kita dan mereka, tentulah memiliki dampak yang lebih signifikan bagi mereka (intinya mengutamakan yang banyak lah hehe)

    Tapi, kembali lagi kepada pertanyaan pertama saya, mereka itu ngapain sih bung? karena kalau memang membual, ya mending kita kubur rame-rame aja gimana?😛

  30. By that logic, Frans Mateus, kalau saya teriak-teriak di depan rumah Anda jam dua pagi untuk mengkritik korupsi di BUMN, misalnya, Anda tidak punya hak buat marah.🙂

    This kind of mindset, that the ends justify the means, is horribly wrong. Karena dengan mindset seperti ini, Anda bisa dengan mudah menciptakan pembenaran pribadi bahwa tujuan Anda, apapun itu, adalah sangat mulia dan pantas dituruti semua orang.

    Kalau Anda terus berpegangan pada prinsip seperti itu, ketika Anda terjun ke dunia kerja, menurut saya dalam lima tahun Anda akan terjun ke dunia korupsi, sambil menciptakan pembenaran pribadi bahwa Anda berhak untuk lebih menikmati hidup Anda dengan cara korupsi, karena pekerjaan Anda sangatlah mulia dan ini menjadikan keputusan korupsi Anda pantas dituruti semua orang.

    Just some food for thought,

    Ibrahim Arief
    13503038

  31. @Frans Mateus Situmorang

    kenapa bung Ardianto menganggap mereka sedang membual?

    Majas sarkasme, semua post di atas juga sarkasme. Lagipula seperti yang saya bilang, saya tidak peduli apa yang terjadi di sana, concern saya cuma menghalangi jalan.

    Perihal ijin kegiatan, tentulah kita semua juga tahu, kalau ijin kegiatan di kampus itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi di kampus saya, kampus gajah, ijin di atas jam 5 sore itu uda kaya ijin nikahin pacar. Banyak ini itu haha. Ditambah dengan ukuran kampus yang kecil pula, waduh!

    Sekarang pikirlah kenapa izin itu susah dikeluarkan.
    Ini masalah who’s gonna responsible if some shit happens.
    Kalau ada apa-apa, siapa yang bertanggung jawab?

    @Ibrahim Arief

    By that logic, Frans Mateus, kalau saya teriak-teriak di depan rumah Anda jam dua pagi untuk mengkritik korupsi di BUMN, misalnya, Anda tidak punya hak buat marah.

    Saya suka analogi model kayak begini, seolah-olah konyol dan bodoh, tetapi benar, pintar, dan jenius.😀

    menurut saya dalam lima tahun Anda akan terjun ke dunia korupsi…

    Only God knows, I’m not gonna judge.

  32. wah asik nih hehe.

    @Ibrahim Arief

    “By that logic, Frans Mateus, kalau saya teriak-teriak di depan rumah Anda jam dua pagi untuk mengkritik korupsi di BUMN, misalnya, Anda tidak punya hak buat marah. ”

    wah kok bisa ya analogi di atas ditampilkan? karena saya ga ngelihat korelasinya loh. Misalnya ada orang yang teriak-teriak mengkritik korupsi, trus efeknya terhadap korupsi di BUMN apa dong? seberapa signifikan hasil yang dihasilkan dari teriak-teriaknya dibandingkan dengan hasil yang dihasilkan dari tidur saya? dan yang konyolnya, kenapa harus di depan rumah saya?! nah loh haha. Bisa aja becandanya bung🙂.

    nah beda dengan misalnya, saya (bersama kelompok) ngajarin anak orang apa itu tri darma perguruan tinggi, apa itu kesatuan dengan angkatan, apa itu kreatifitas (konsep mereka tetap misterius karena tidak ditanya ternyata kan?)

    Pasti lah hasilnya lebih signifikan jika dibandingkan anda tetap memaksa berjalan di situ. Apakah mementingkan kepentingan kelompok itu egois? makanya saya ingin tau dulu konsep mereka itu apa? kalo akhirnya mereka ingin menanamkan nilai- nilai yang saya sebutkan diatas,dan nilai-nilai nasionalisme? yang notabenenya menyangkut masalah yang lebih besar? nah loh🙂 (ya kalau ternyata cuma acara ecek-ecek semacam dangdutan bareng, yah mending kira kubur rame-rame. Tapi sayang toh, akhirnya apa yang mereka lakukan tetap misterius😦 )

    “Kalau Anda terus berpegangan pada prinsip seperti itu, ketika Anda terjun ke dunia kerja, menurut saya dalam lima tahun Anda akan terjun ke dunia korupsi, sambil menciptakan pembenaran pribadi bahwa Anda berhak untuk lebih menikmati hidup Anda dengan cara korupsi, karena pekerjaan Anda sangatlah mulia dan ini menjadikan keputusan korupsi Anda pantas dituruti semua orang.”

    tulisan anda yang saya kutip di atas menurut saya sangat disayangkan, dan lebih aneh lagi ada pula yang mengganggapnya jenius haha.

    mungkin tulisan saya kekecilan ya bung? karena sepertinya saya tidak pernah mengatakan mengutamakan kepentingan pribadi. Saya jelas mengatakan, kita sebaiknya legowo terhadap hal-hal yang menyangkut kepentingan orang banyak. Banyak sekali variabel yang harus kita pertimbangkan dalam mengambil keputusan. Justru kalau begini, yang saya takutkan, ketika anda sudah punya kekuasaan (katakanlah uda jadi orang kaya yang punya pengaruh), anda bisa seenaknya membubarkan marathon 10k for manula hanya karena menganggu jalur rutin anda ke kantor. Trak tak tak des~ Tapi ini cuma analogi loh, karena saya yakin anda, bung Ibrahiem pasti bisa menimbang hal yang baik dan benar. Atau bisakah?

    Terlepas tuduhan anda apakah saya terjun ke dunia korupsi, wah cuma Tuhan yang tau, sama halnya dengan apakah kita semua akan terjun ke dunia korupsi atau tidak. Tapi saya bingung, membaca buku dari mata kuliah yang berbeda dengan yang sedang kita hadiri, itu termasuk korupsi ga bung? Mungkin bung Ibrahiem bisa berikan kiat-kiat agar tidak terjun ke dunia korupsi ya🙂

    Yah semoga balasannya nanti, tidak lebih aneh ya bung🙂

    @Ardianto

    Jadi begini bung ardianto, saya bisa bilang tulisan anda ini sifatnya subjektif. Dan segala sesuatu yang bersifat subjektif hanya akan menghambat dialektika.

    Kenapa saya bilang begitu? karena tadi anda katakan sendiri bahwa yang anda pedulikan hanyalah bahwa mereka menghalangi jalan. What kind of pemikiran is that? Ga adil dong buat mereka? Disini kita mencak-mencak bahwa mereka ngalangin jalan, sedangkan mereka sendiri tidak punya kesempatan untuk memberi pengertian, memberi pemahaman. Dan bagaimana mereka bisa memberi pemahaman? mereka bahkan sepertinya ga tahu, bahwa mereka sedang jadi permasalahan.

    Makanya ga aneh kalo komen-komen sebelumnya juga ada beberapa yang menyudutkan si kumpul-kumpul tadi. Karena kita, sadar tidak sadar, dipaksa berpikir melalui sudut pandang anda! yaitu mereka membual dan mengganggu jalan (titik)

    “Majas sarkasme, semua post di atas juga sarkasme. Lagipula seperti yang saya bilang, saya tidak peduli apa yang terjadi di sana, concern saya cuma menghalangi jalan.”

    Cobalah bung, digugling lagi tentang majas sarkasme ya🙂.
    Namun terlepas dari itu, saya juga sangat menyayangkan pernyataan di atas. Yang menjadi pertanyaan saya selanjutnya adalah, kenapa anda menganggap mereka membual tanpa bertanya dulu?

    Jadi begini bung, dalam teori semiotika, ada yang namanya proses semiosis, yaitu proses pemaknaan suatu tanda (dalam hal ini sebut : kaderisasi) berdasarkan pengalaman kebudayaan orang tersebut. [1]

    Nah yang saya takutkan, bahwa jangan-jangan anda sendiri punya pengalaman buruk dengan kaderisasi, sehingga anda langsung menghakimi mereka sebagai pembual. Hal itu yang menurut saya harus dihindari jika kita ingin mengungkapkan pemikiran, apalagi ke media yang gampang diakses orang banyak. Karena lagi-lagi, seperti yang saya jelaskan di awal, pemikiran orang lain akan dipaksa terseret ke dalam pola pemikiran anda, yang adalah sangat subjektif dan tidak disertai data yang lengkap.

    Saya takutkan akan makin banyaklah orang yang akan menganggap bahwa kaderisasi=bualan atau kaderisasi = arogansi, dan kemudian menciptakan stereotip yang negatif terhadap kaderisasi, lalu makin banyak lah orang yang tidak mau dimintai tolong berpindah jalan, lalu beradu pantunlah (berselisih saya anggap terlalu berlebihan) pihak yang kaderisasi dengan mereka yang tidak mau jalannya diganggu. Dan akhirnya kaderisasi itu pun tinggal sejarah.

    Kalo mau main analogi nih ye, anda itu layaknya menilai buah mengkudu dari bau nya doang, tanpa meneliti lebih jauh (padahal kita tau sendiri mengkudu bermanfaat), dan mengatakan bahwa mengkudu itu harus dihindari. Nah akhirnya banyak orang yang menghindarinya, dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari mengkudu. Sayang ga tuh?🙂

    “Sekarang pikirlah kenapa izin itu susah dikeluarkan.
    Ini masalah who’s gonna responsible if some shit happens.
    Kalau ada apa-apa, siapa yang bertanggung jawab?”

    kalau yang ini sih, saya binggung juga mau ngomong apa. Soalnya gini ya bung, anda ini berkomentar seperti orang yang tidak paham medan. Kalau memang menurut anda di kelas lebih aman, kenapa faktanya (berdasarkan pengalaman saya di beberapa lembaga), kampus tidak mengijinkan ruangan untuk dipakai lebih dari jam 5 ? Dan kenapa kampus malah mengijinkan selasar dan lapangan untuk dipakai lebih dari jam 5? Atau anda sebenarnya tidak tau mengenai peraturan ini? Kalau nanti anda tanya kenapa kegiatan harus lebih dari jam 5, yah saya ga tau lagi mau bilang apa, mending deh kita nonton dangdut koplo dulu rame-rame.

    Intinya sih, yang ingin saya tekankan adalah komunikasi, komunikasi dan komunikasi. Kalo ada yang ga suka, samperin! tanya kenapa mereka harus begitu, kalo memang salah ya protes di tempat, kalau mereka ngeyel ga mau nerima, ya baru bikin tulisan. Bukan dengan begini bung, yang dimana setiap faktanya, lagi-lagi, berada dalam daerah antah berantah. Karena kalau begini, anda akan tetap teguh bahwa mereka bersalah (karena anda sudah terlebih dahulu menganggap mereka membual dan mengganggu nyamannya perjalanan anda) sedangkan saya tetap teguh bahwa kita lah yang harus legowo (karena berdasarkan pengalaman saya, kepentingan mereka jauh lebih besar dan toh saya bisa jalan dimana aja, ga harus disitu) dan akhirnya tidak terjadilah proses dialektika yang diharapkan.

    Harapan saya kedepannya, tidak bosan-bosannya (lagi, lagi dan lagi) saya sampaikan, sebaiknya sebelum mengeluarkan penghakiman, tolonglah agar mempertimbangkan segala aspek. Agar tercipta rasa saling tolerasi antar umat berhimpun. Salam.

    (tapi pertanyaan terakhir ya bung, berapa jauh sih anda harus berpindah dari jalur biasa?🙂. Tapi ga usah dijawab juga gak apa kok hehe, penasaran aja ini mah. )

    Frans Mateus Situmorang
    – nim cari sendiri –

    [1] Hoed, B. (2010). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu.

  33. Bung Frans:

    1. “Cobalah bung, digugling lagi tentang majas sarkasme ya ” http://www.sentra-edukasi.com/2009/09/definisi-pengertian-contoh-majas-majas.html. Dan semua tulisan di tulisan itu adalah majas sarkasme. Bisa kasih counter example nya kah Bung kalau itu BUKAN majas sarkasme? saya kira jika Anda tidak setuju bahwa itu adalha majas sarkasme, bukankah Anda yang memiliki kewajiban untuk memberikan counter example? CMIIW

    2. “Saya takutkan akan makin banyaklah orang yang akan menganggap bahwa kaderisasi=bualan atau kaderisasi = arogansi, dan kemudian menciptakan stereotip yang negatif terhadap kaderisasi” memang demikian sih menurut saya. Saya mau jalan dihalangi dan diminta sampai barisannya selesai dulu. Kepentingan kelompok > kepentingan umum. Itu bukan arogansi?

    3. “Harapan saya kedepannya, tidak bosan-bosannya (lagi, lagi dan lagi) saya sampaikan, sebaiknya sebelum mengeluarkan penghakiman, tolonglah agar mempertimbangkan segala aspek.” Aspek kepentingan umum kok ga dibahas yah?

    4. “Intinya sih, yang ingin saya tekankan adalah komunikasi, komunikasi dan komunikasi.”. Bukan tugas masyarakat umum untuk berkomunikasi dengan para pembual mengapa mereka menghalangi jalan, NNamun tugas para pembual sebagai pengganggu kepentingan umum untuk menjelaskan mengapa mereka harus menghalangi jalan. Jika kepentingan umum dikorbankan untuk kepentingan kelompok, dan kemudian justru masyarakat umum yang diminta untuk berkomunikasi mengapa kepentingan mereka diganggu, apakah itu namanya bukan arogansi/egoisme?

    5. “nah beda dengan misalnya, saya (bersama kelompok) ngajarin anak orang apa itu tri darma perguruan tinggi, apa itu kesatuan dengan angkatan, apa itu kreatifitas (konsep mereka tetap misterius karena tidak ditanya ternyata kan?)” dari mana Anda tau si pembual lagi ngomongin perguruan tinggi? Gimana kalo pembual lagi marahin adek2nya yang ga bawa spek tugas ospek yang sesuai atau salah beli merk roti? Atau lagi marah2in adek2nya karena quota untuk membual jamaah tidak terpenuhi?

    6. Oh ya, semua kata2 “pembual” di atas menggunakan majas sarkasme berdasarkan penjelasan pada (Tarigan, 1985:92) pada abstrak skripsi milik Arsyi Resvitayani. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

    Zulfikar Hakim
    13507085

  34. Salam kenal bung Zulfikar🙂. Tulisan saya sebelumnya kayaknya kepanjangan ya? makanya ngutipnya cuma beberapa poin. Padahal jawabannya beberapa sudah disebutkan disitu.

    1. Haha jadi begini bung, tentang majas sarkasme, yang saya tahu adalah sebuah bentuk singgungan (sebut saja kasar) langsung yang tepat sasaran. Sekarang saya tanya, singgungan ini sudah tepat sasaran tidak? Yang dituju jelas tidak atau tau tidak? Memang salah saya, yang secara tidak jelas, menjelaskan apa maksud dan tujuan saya menyuruh mas ardianto untuk gugling.
    Semoga topik majas ini tidak jadi bahasan utama ya?🙂

    2. Tolong kita definisikan dulu apa itu kepentingan umum. Menurut saya, kepentingan kelompok itu juga kepentingan umum. Nah makanya tadi saya tanya, sebesar apa kepentingan kelompok sehingga harus mengambil jalan saya sebagai pejalan kaki? Seberapa signifikankah perbandingan kepentingan antar keduanya? Justru anda tanya diri sendiri, marah-marah karena jalannya dihalangi oleh hal (yang sebenarnya kita tidak tahu), apakah itu bukan arogansi?

    dan anda sendiri berkata, “Saya mau jalan dihalangi dan diminta sampai barisannya selesai dulu”. Ya Gusti, anda hanya diminta berhenti sampai barisan selesai! Sedang apa anda saat itu sehingga terdengar kesulitan sekali untuk menunggu? ngejar dosen? atau apa? Sedangkan bagi mereka, proses berbaris itu tentu punya makna yang besar (harusnya anda tahu kalau pernah menyusun kaderisasi). Dan kalaupun anda merasa kepentingan anda lebih besar, pasti lah akan lebih baik jika anda menyatakan keberatan anda dibandingkan marah-marah di dunia maya.

    3. idem dengan nomor 2

    4. Nah loh, definisi masyarakat umum itu apa? Mereka juga bukan masyarakat umum ga? jangan coba membuat kelas-kelas yang akan semakin memperkeruh masalah. Bukankah dengan adanya perimeter lapangan (baca=keamanan garis luar), itu membuktikan ada usaha untuk mengkomunikasi dari pihak mereka ke pihak ke jalan kaki? Jadi menurut bung Zulfikar, komunikasi seperti apakah yang bung inginkan? Bikin poster di seluruh kampus yang berisi permintaan maaf karena menganggu jalan? Ide bagus tuh. Kenapa ga disampaikan?🙂

    saya kutip tulisan anda ya: “Bukan tugas masyarakat umum untuk berkomunikasi dengan para pembual mengapa mereka menghalangi jalan”

    Coba baca lagi tulisan anda yang saya kutip itu, apakah itu tidak terdengar arogan? dan lagi-lagi, anda mengeluarkan kata “pembual”. Terlepas dari itu majas atau tidak. Menurut saya itu tuduhan yang ceroboh.

    Setiap orang, menurut saya, apalagi orang-orang terpelajar, harusnya cukup bijak untuk menempatkan diri di tempat orang lain. (awas aja kalau bung zulfikar bilang : kenapa ga mereka aja yang coba menempatkan diri mereka di posisi pejalan kaki? -> untuk menjawab ini, saya hanya akan mengelus dada dan mencoba melupakan bahwa pertanyaan itu pernah terjadi. Yaudah saya jawab aja deh, daripada nanti ditanya trus ngulang-ngulang lagi -> itu tergantung pihak mana yang lebih membutuhkan “daerah perebutan itu”. Kalau ada nenek2 mau lewat ya saya kira mereka pasti ngasi lah, contoh lainnya juga sudah disebutkan di atas)

    5. Astaga bung Zulfikar. Saya terangkan sekali lagi ya. KITA GA ADA YANG TAHU! Kenapa? ya karena tidak ada datanya, gitu loh. Trus kenapa saya berkata demikian? karena pengalaman saya dengan kaderisasi, bahwa itu adalah materi yang biasa saya tahu. Itu pengalaman saya loh. Nah jadi beda, ketika anda mencoba memaknai kaderisasi dengan pemahaman anda, entah itu membual atau cuma bacotan karena salah beli roti. Ini yang membuat proses dialektikanya itu terhambat. Tidak ada kesamaan persepsi ditambah data yang minimalis (uda kaya kantin aja pake minimalis segala).

    nah dari contoh yang anda paparkan sendiri, saya semakin penasaran tentang pengalaman dan apa pandangan anda tentang kaderisasi. Karena dari contoh-contoh yang anda paparkan di atas, terlihat sekali bahwa anda sendiri bukanlah orang yang pernah berada di balik layar kaderisasi. Sehingga terlihat bagi saya, dari tulisan anda, bahwa anda sepertinya sangat tidak suka dengan kaderisasi, yang menyamakannya dengan bualan, yang pastinya tidak lebih penting dari kenyamanan berjalan kaki. Nah loh🙂

    Trus apakah saya memaksakan pendapat saya ini? TENTU TIDAK, karena toh saya juga katakan di balasan saya sebelumnya, bahwa kalaupun memang mereka terbukti ngebacot ga jelas, ya mending kita kubur rame-rame toh? Namun karena datanya yang TIDAK JELAS, saya merasa berkewajiban untuk memberi masukan dari sudut pandang yang lain, yaitu berdasarkan pengalaman saya, agar topik ini berimbang.

    6. Anda tertarik sekali dengan majas ya sepertinya? Nanti saya coba cari bacaan yang anda tawarkan. Terima kasih sebelumnya🙂

    Gantian saya yang nanya ya bung.

    1. Menurut anda kaderisasi itu apa sih? dan apakah anda memiliki pengalaman buruk dengan kaderisasi? (Pertanyaan mengenai apa itu kaderisasi sepertinya akan panjang, kalau tidak ingin menjawab ya silahkan, namun pertanyaan kedua tolong dijawab yah)

    2. Sebagai angkatan tua di kampus dan anak teknik pula, pastilah anda uda pernah melakukan penelitian atau minimal bikin TA 1 lah. Pertanyaan saya, layak-tidak, adil-tidak, jika kita mengambil kesimpulan dari data yang minimal?

    atau kalau kurang jelas, bisa ga sih, saya ngatain mengkudu itu harus dihindari, tanpa mencari tau lebih jauh apa manfaat mengkudu?🙂

    Kalau kawan-kawan tidak suka dengan cara saya memandang kaderisasi dan dampaknya kepada pejalan kaki (yang sekarang saya masih bingung, sejauh apa hak anda sebagai pejalan kaki dilanggar). Silahkan memberi data yang jelas, biar kita bisa berpikir dalam suhu dan frekuensi yang sama.

    Seharusnya kawan-kawan penulis sudah paham mengenai betapa besarnya pengaruh media dalam membentuk pola pikir masyarakat. Sehingga saya sendiri mengharapkan, kita sebagai orang yang terpelajar mampu memberikan tulisan-tulisan yang jujur dan adil, tidak serta merta berdasarkan luapan emosi belaka.

    Salam.

  35. @Frans Mateus Situmorang

    wah kok bisa ya analogi di atas ditampilkan? karena saya ga ngelihat korelasinya loh. Misalnya ada orang yang teriak-teriak mengkritik korupsi, trus efeknya terhadap korupsi di BUMN apa dong? seberapa signifikan hasil yang dihasilkan dari teriak-teriaknya dibandingkan dengan hasil yang dihasilkan dari tidur saya? dan yang konyolnya, kenapa harus di depan rumah saya?! nah loh haha. Bisa aja becandanya bung🙂

    Jadi begini, analogi Ibrahim Arief ini seperti ini:
    Premis A: Berteriak-teriak mengkritik korupsi di BUMN.
    Premis B: Jam dua pagi di rumah Anda

    Sedangkan yang anda pakai:
    Premis A: Kaderisasi himpunan/unit di ITB.
    Premis B: Di tengah jalan sehingga menghalangi orang lain.

    Argumen anda adalah, “Kalau yang dilakukan itu baik (misalnya tidak membual dan seterusnya), maka mereka boleh melakukan itu, dan orang lain harus menghormati.” Demikian, apa pun yang terjadi di premis A, maka orang-orang yang terganggu di premis B harus mengalah.

    Nah yang saya takutkan, bahwa jangan-jangan anda sendiri punya pengalaman buruk dengan kaderisasi.

    Tidak

    Saya takutkan akan makin banyaklah orang yang akan menganggap bahwa kaderisasi=bualan atau kaderisasi = arogansi, dan kemudian menciptakan stereotip yang negatif terhadap kaderisasi, lalu makin banyak lah orang yang tidak mau dimintai tolong berpindah jalan, lalu beradu pantunlah (berselisih saya anggap terlalu berlebihan) pihak yang kaderisasi dengan mereka yang tidak mau jalannya diganggu. Dan akhirnya kaderisasi itu pun tinggal sejarah.

    Saya heran, kenapa sih Anda takut kalau kaderisasi distereotipkan negatif?
    Bagaimana sih stereotip masyarakat sekarang tentang kaderisasi? Menurut saya sih negatif,
    Dan kalau Anda penggemar berat kaderisasi, seharusnya Anda tahu stereotip inilah yang membuat izin susah dikeluarkan.

    Kalau nanti anda tanya kenapa kegiatan harus lebih dari jam 5

    Mari kita nonton dangdut koplo rame-rame.

    tulisan anda yang saya kutip di atas menurut saya sangat disayangkan, dan lebih aneh lagi ada pula yang mengganggapnya jenius haha.

    Heh, fitnah.
    Saya anggap jenius cuma analoginya ya.

    Sepertinya ini masih panjang, diskusinya, I’ll be back later – Masih banyak yang harus ditanggapi.

    btw, bung Frans, saya angkat topi buat Anda, karena mampu berdiskusi dengan baik, tidak menyerang orang tapi pendapat, dan mampu membawakannya tanpa emosi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s