Ad Hominem, Salah Satu Kesalahan Berpikir

Salah satu cara membedakan orang yang berpendidikan atau yang hanya duduk-duduk saja di bangku pengajaran adalah caranya berpikir, runtut dari premis-premis kemudian menarik kesimpulan. Penarikan kesimpulan dari premis-premis ini membutuhkan jalan pemikiran yang logis dan tidak fallacious. Salah satu penarikan kesimpulan dengan fallacious yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari adalah ad hominem, secara harfiah berarti “kepada manusia”.

Intinya, pada saat berdiskusi dan berargumen, si pengucap menggunakan atribut-atribut yang terkait dengan personal untuk menarik kesimpulan atau menyanggah pendapatnya. Sebenarnya masih banyak jenis kesalahan berpikir (fallacy) yang lain, tetapi kali ini saya hanya membahas salah satu saja.

Ada beberapa jenis ad hominem, diantaranya abusive ad hominem, tu quoue, dan guilt by association. Mari kita bahas satu per satu.

[1] Abusive ad hominem
Abusive ad hominem adalah menyangkal atau menarik kesimpulan berdasarkan sifat, personality, asosiasi, atau apa pun yang terkait orang yang mengutarakan pendapat. Contoh sederhana adalah seperti ini:

Ardianto kan cuma mahasiswa Teknik Elektro, tahu apa dia tentang ad hominem? Saya yakin dia tidak mengerti apa-apa.

Kenapa bukan penjelasan saya mengenai ad hominem yang diserang? Kenapa status saya sebagai mahasiswa Teknik Elektro yang diserang? Itulah kesalahan berpikirnya. Contoh lainnya adalah

Mrs. Puff tidak akan bisa mengajari Spongebob menyetir mobil karena dia seorang wanita.

Di sini kenapa status Mrs. Puff sebagai wanita yang dijadikan dasar bahwa dia tidak bisa mengajari Spongebob? Oh, ya, khusus untuk abusive ad hominem yang sering digunakan dalam bias gender, terutama kepada wanita, disebut ad feminam.

[2] Tu quoue
Berasal dari bahasa latin, “kamu juga”. Kalau pernah mendengar jenis argumen “jangan munafik”, maka si pengucap sedang menggunakan ad hominem jenis ini. Contoh

A: “Para siswa-siswi yang mengerjakan Ujian Nasional itu harus jujur, tidak mencontek, dan tidak melakukan kecurangan.”,
B: “Ah, jangan munafik, kamu dulu juga mencontek dan curang, biarkan saja mereka mencontek.”

Pernyataan A tetap benar, meskipun A dulu juga seorang pencontek. Mungkin memang si A munafik, tapi nilai kebenaran dari pernyataannya tetap.

[3] Guilt by Association
Yaitu mengkaitkan si pengucap argumen dengan hal lain di luar konteks argumennya. Contoh yang baru terjadi tempo hari:

P = Ardianto tidak setuju dengan acara yang diselenggarakan di tengah jalan,
Q = Orang-orang non-himpunan tidak setuju dengan acara yang diselenggarakan di tengah jalan,
Jadi, Ardianto non-himpunan.

Padahal himpunan dan non-himpunan tidak ada kaitannya dengan pandangan saya mengenai ketidaksetujuan acara yang diselenggarakan di tengah jalan.

Lalu bagaimana agar terhindar dari cara berpikir seperti di atas?

[1] Bedakan antara si pengucap argumen dengan argumennya
Ingatlah selalu bahwa apabila pendapat kita diserang, bukan berarti kita yang diolok-olok, tetapi pendapat kita, benda mati, bukan orang. Jangan tersinggung dan justru menyerang orang yang menyanggah argumen kita, tidak perlu memperhatikan siapa yang menyanggah argumen Anda, perhatikanlah isi argumennya.

[2] Cobalah mengerti jalan pikiran lawan bicara
Coba tempatkan diri sebagai orang lain yang berbeda pandangan dengan kita. Bagaimana orang tersebut memperoleh ide untuk pendapat itu, mengapa sampai berpandangan seperti itu.

Mereka yang suka mengeluarkan jurus ad-hominem, biasanya adalah orang-orang yang tidak bisa menempatkan diri pada jalan pikiran orang lain. Orang-orang semacam ini biasanya menganggap dirinya selalu benar (dan orang lain selalu salah)

Demikian penjelasan sederhana saya mengenai ad hominem, salah satu bentuk logical fallacy. Sayangnya, hal-hal seperti ini tidak pernah diajarkan di pendidikan formal. Saya hanya pernah baca tentang ini dalam pendidikan formal di buku Discrete Mathematics and Its Application karangan Kenneth Rosen, tapi sayangnya bukan mengenai kesalahan berpikir yang biasa kita dengar pada kehidupan sehari-hari, melainkan penarikan kesimpulan dalam logika matematika.

Further reading:
[1] Ad hominem, wikipedia.
[2] Mengapa Ad Hominem?, Argumentum Ad Pusingam, Fertob Hades

13 thoughts on “Ad Hominem, Salah Satu Kesalahan Berpikir

  1. gimana hubungannya pemikiran seseorang dan argumentasi dipengaruhi dimana dia belajar (latar belakang pengetahuannya) dan lingkungan yang membentuk kepribadian. Misalnya adrianto sebagai anak teknik pasti melihat suatu masalah sosial dari sudut pandang tekniknya?

  2. Yup, benar.
    Tapi asalkan latar belakang saya tidak dijadikan dasar untuk menyalahkan suatu pernyataan, maka nggak masalah dong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s