Tips: Mengerjakan PR di Universitas

Ide untuk tulisan ini muncul setelah ada percakapan di Whatsapp tentang pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan di PR yang diberikan. Sebagai mahasiswa S2 yang bukan dari tipe orang rajin, saya hanya ingin berbagi tips mengerjakan PR ala saya.

Oh ya, latar belakang saya adalah dari engineering, mungkin untuk bidang lain bisa dipakai, tapi dengan sedikit penyesuaian.

1. Kerjakan PR sesegera mungkin.

Mungkin tips untuk stop prokrastinasi bisa membantu.

Selain memberi waktu untuk bermalas-malasan di kemudian hari, mengerjakan PR dengan segera juga bisa mengidentifikasi persoalan-persoalan mana yang sulit untuk dikerjakan, sehingga kita bisa meminta bantuan tanpa khawatir terbentur deadline.

2. Jawablah Soal dalam PR dengan benar.

Adalah haram hukumnya untuk mengumpulkan jawaban PR yang salah. Khususnya untuk kuliah-kuliah yang membutuhkan perhitungan. Dasar dari poin ini adalah dosen memberikan bobot nilai yang cukup tinggi untuk PR.

Sewaktu kuliah S1 dulu, bobot PR tertinggi yang pernah saya tahu adalah di kuliah EL2040 – Elektronika (35% dari total nilai). Dengan bobot nilai setinggi itu, dengan mengerjakan PR saja dengan benar ditambah sedikit usaha dalam belajar untuk ujian maka kelulusan dalam kuliah tersebut sudah di tangan.

No, Your Homework is Worth More Than 5%
No, Your Homework is Worth More Than 5%

Nah, bagaimana cara mengetahui jawaban soal PR sudah benar? Ada beberapa cara, jika soal-soal PR tersebut berawal dari textbook. Selain itu cara-cara ini mungkin bisa memberi insight bila kita tidak ada ide dalam mengerjakan PR dari textbook. Cara-caranya adalah:

a. Answer to Odd-Numbered Exercises atau Answer to Selected Problems.

Di bagian Appendix dari textbook biasanya terdapat jawaban-jawaban dari soal-soal bernomor ganjil atau soal-soal tertentu dalam textbook. Ceklah jawaban tersebut sebelum mengerjakan soal.

Apabila salah satu dari soal PR ada di sana, cobalah untuk mulai mengerjakan soal sehingga diperoleh hasil yang sama dengan yang ada di appendix. Jika sama, kemungkinan besar kita telah mengerjakan soal dengan cara yang benar.

b. Googling soal dari textbook

Di universitas-universitas lain di luar negeri di sana, pernahkah terpikir bahwa ada kuliah yang menggunakan buku yang sama dengan kita. Dosen mereka memberi soal yang sama dan memampang solusi PR di website beliau.

Cara menemukan website-website dosen yang baik tersebut adalah dengan memasukkan soal dalam textbook ke mesin pencari, dengan kata-kata yang sama persis.

Kemungkinan besar jawaban yang diberikan di website dosen itu adalah jawaban yang benar. Namun tetaplah berhati-hati dalam mengerjakan soal.

Contoh yang saya temukan untuk Textbook Applied Coding and Information Theory for Engineers, R.B. Wells, Chapter 1: [Soal][Jawaban].

c. Solution Manual

Ini adalah cara paling kontroversial, saya tidak menyarankan untuk menjiplak isi solution manual ke PR Anda. It’s just morally wrong.

Solution manual biasanya diberikan oleh penerbit textbook kepada dosen untuk mengoreksi pekerjaan mahasiswa. Isinya adalah jawaban dari semua soal yang ada di textbook beserta cara pengerjaannya. Oleh karena itu, solution manual biasanya tidak diberikan kepada mahasiswa dan di sana tertulis bahwa solution manual ilegal dimiliki mahasiswa.

Solution manual biasanya terdapat di tempat upload buku-buku. Saya menemukan solution manual dari textbook “Fundamental of Electric Circuits” oleh Alexander dan Sadiku di scribd.

Jika Anda tetap bersikeras menggunakan solution manual, saran saya adalah catat hasil akhir dari soal tersebut, tutup solution manual dan berusaha kerjakan sendiri sampai hasil tersebut Anda temukan.

d. Bertanya kepada Asisten Dosen (khususnya bagi mahasiswa S1)

Dosen adalah orang yang sibuk, sehingga beliau jarang ada di kantor untuk ditanyai, jika pun ada, jarang sekali beliau mau untuk memberi bantuan kepada mahasiswa dalam mengerjakan PR.

Tetapi tidak dengan asisten, asisten biasanya adalah mahasiswa yang telah lebih dahulu lulus kuliah tersebut. Jika asisten memiliki jam tatap muka dengan mahasiswa, bertanyalah kesulitan PR Anda pada jam tersebut.

Jika asisten tidak memiliki jam, cari cara menghubungi dia. Via e-mail misalnya.

Saya sendiri sebagai asisten tidak berkeberatan membalas e-mail yang terkait mata kuliah yang menjadi tanggung jawab saya. Usahakan untuk menunjukkan usaha yang telah Anda lakukan sebelum bertanya.

3. Make it readable!

Salah satu alasan dosen memberi nilai yang kurang maksimal adalah tulisan yang kurang rapi. Cobalah baca tulisan Anda sendiri setelah selesai mengerjakan PR, jika Anda sendiri kesulitan membacanya, bagaimana dengan orang lain?

Work on your penmanship, berlatih menulis dengan kertas menulis halus
sangat disarangkan! Gunakan penggaris dalam menggambar rangkaian, grafik, atau flowchart.

Jika Anda terlalu malas untuk memperbaiki tulisan Anda, kerjakanlah PR dengan komputer jika tidak ada larangan. Untuk tugas-tugas dengan banyak formula matematis, saya sangan menyarankan menggunakan Latex.

Dengan menggunakan komputer, tulisan Anda pasti terbaca.

Semoga bisa membantu dalam mengerjakan PR! Good luck!

Iklan

Stop Prokrastinasi!

Prokrastinasi adalah tindakan menunda-nunda pekerjaan.

Jika alasan prokrastinasi Anda adalah malas.

Saya adalah orang yang malas. Tetapi belakangan saya belajar bahwa prokrastinasi adalah penghambat terbesar saya untuk bermalas-malasan. Kok bisa? Misal pada waktu kuliah dosen memberi tugas pada waktu t_1 dan deadline pada t_2, pada umumnya mahasiswa akan mengerjakan tugasnya dengan pola seperti ini:

procrastination

 

Dengan T_1 adalah rentang waktu kita mengerjakan tugas.

Sebelum kita lanjut, saya membagi bermalas-malasan menjadi 2 jenis:

  • Bermalas-malasan dengan beban, artinya kita masih punya tanggungan untuk mengerjakan sesuatu. Ini adalah jenis bermalas-malasan yang saya tidak suka.
  • Bermalas-malasan tanpa beban, dengan demikian kita bisa memanfaatkan waktu untuk benar-benar bermalas-malasan, main game, tidur, nonton TV, dan lain-lain.

Jika mengikuti pola di gambar di atas, ketika saat “deadline masih lama” saya akan bermalas-malasan dengan beban. Saya masih memikirkan tugas jika sedang bermain game, tidur, nonton TV. Saya tidak bisa menikmati waktu saya.

Agar pola di atas menjadi bermalas-malasan tanpa beban, saya mengubah pola mengerjakan tugas menjadi seperti ini:

no-procrastination

 

Langsung kerjakan tugas setelah diberi. Dengan demikian, setelah T_1 saya akan bebas bermalas-malasan. Tidur siang, main game, dan nonton TV tanpa beban.

Coba pikirkan baik-baik:

  • Waktu yang kita butuhkan untuk mengerjakan tugas adalah sama, ditunda-tunda maupun tidak.
  • Jika ada tugas lain yang diberikan di antara t_1 dan t_2, maka saya tidak perlu lagi memedulikan tugas pertama.
  • Setelah selesai mengerjakan tugas, saya bisa bermalas-malasan tanpa beban pikiran untuk mengerjakan sesuatu!

Manfaat dari mengerjakan sesuatu dengan pola kedua jauh lebih besar!

Jika alasan prokrastinasi Anda adalah perfeksionisme

Perfeksionis adalah excuse lain yang sering saya dengar untuk melakukan prokrastinasi. Mereka yang “perfeksionis” cenderung memikirkan bagaimana agar tugas menjadi “sempurna” dalam jangka waktu yang lama.

Kira-kira flowchart mereka adalah seperti ini:

perfectionist

 

Ingatlah bahwa tahap “thinking to be perfect” adalah tahap yang memakan waktu paling lama. Dan itu tidak ada bedanya dengan prokrastinasi karena pada dasarnya kita tidak melakukan apa-apa pada saat itu.

Saya bukan orang yang perfeksionis, tetapi jika Anda memang perfeksionis, saya mengusulkan untuk melakukan pendekatan lain, pendekatan iteratif. Kira-kira flowchartnya seperti ini:

perfectionist2

 

Dengan pola seperti di atas, Anda akan mendapat hasil yang menurut Anda “sempurna” tanpa banyak membuang-buang waktu untuk memikirkannya.

Kalau pun Anda masih merasa tugas Anda belum sempurna, tetapi waktu pengumpulan sudah dekat, Anda tetap bisa mengumpulkan sesuatu meskipun hasilnya belum sempurna. Meskipun demikian, itu jauh lebih baik daripada mengumpulkan terlambat karena memikirkan bagaimana “sempurna” itu menurut Anda.

Stop Prokrastinasi!

Atau paling tidak prokrastinasilah dengan produktif! :mrgreen: