Ide: Payung Anti Basah

Kebetulan tadi saya lihat video di Youtube, mengenai “Never Wet”. Jadi never wet ini material yang tidak bisa basah. Sepertinya implementasi nanoteknologi.

Di iklannya sudah banyak ide-ide yang ditawarkan, sepatu, sikat, pendingin minuman, dan handphone.

Sepertinya si “Never Wet” ini banyak juga manfaatnya. Beberapa ide dari saya untuk penggunaannya:

Payung

Saat musim hujan, yang paling menyebalkan dari menggunakan payung adalah setelah dipakai, perlu dijemur hingga kering.

Rasanya kalau payungnya anti basah dengan “Never Wet”, kita tidak perlu menjemurnya lagi, praktis sekali. Tinggal dilipat kembali karena setelah dipakai pun masih dalam keadaan kering.

Yang jadi pertanyaan, apakah kalau dipakai dalam hujan, butiran-butiran air itu menyebar ke sekitar? Mengganggu sekali kalau iya soalnya.

Jas Hujan

Dengan alasan yang sama dengan payung. Jas hujan tinggal dilipat kembali, masuk rapi ke dalam jok motor.

Nyaman sekali sepertinya.

Kaos/Baju Putih

Kaos dan baju putih biasanya mudah sekali terkena noda yang membekas. Apalagi kalau hobi ngemil, minum teh atau kopi, yang mudah tumpah ke baju.

Apa lagi ya? Ada ide?

Saya juga mengecek harga Never Wet di toko online, harganya cukup terjangkau, 350.000 hingga 500.000 Rupiah. Tampaknya worth it buat dibeli.

Iklan

St. Totteringham’s Day

Telat sehari, walaupun sebenarnya bagi mereka yang ada di zona waktu +8 dan selebihnya memang merayakannya hari ini. Tak semua orang merayakannya memang. Hanya fans Arsenal saja.

St. Totteringham’s Day adalah hari ketika Spurs dinyatakan pasti finish di bawah Arsenal. Sialnya bagi fans Spurs, hari ini selalu dirayakan sejak 1995, bahkan 1 tahun sebelum Arsene Wenger datang. Dengan berakhirnya musim ini, maka sudah 21 musim berturut-turut St. Totteringham’s Day diperingati.

Walau demikian, banyak fans Arsenal yang meragukan St. Totteringham’s Day akan dirayakan musim ini. Spurs, secara statistik bahkan memiliki penguasaan bola terbanyak di liga, gol paling banyak, dan kebobolan paling sedikit.

Tapi itu tak cukup membuat mereka jadi juara, Leicester City secara mengejutkan tampil brilian sepanjang musim. Dari tim calon degradasi hingga menjadi juara, membalikkan bandar judi yang memasang taruhan lima ribu banding satu. But they deserved it!

Spurs adalah pesaing terkuat Leicester City sebagai kandidat juara. Konsisten, punya penyerang top skorer yang akhirnya meraih sepatu emas. Sampai sebelum kick-off gameweek 38 pun saya ragu, apakah Arsenal akan finish di atas Spurs.

Skenarionya hanya Arsenal harus menang, dan Spurs kalah. Keduanya menghadapi tim yang telah dipastikan degradasi, Aston Villa dan Newcastle. Arsenal unggul cepat 1-0 di menit keenam dan bertahan hingga turun minum, sementara Spurs tertinggal 2-0 di separuh pertandingan.

Wah, skor yang berbahaya, walaupun Arsenal sudah di atas Spurs, kebobolan satu saja, bubar. Apalagi di menit 61 Spurs memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 dan Arsenal belum menambah gol.

Sialnya, di menit 67, Newcastle harus bermain dengan 10 orang setelah Alexander Mitrovic diusir oleh wasit. Namun di luar dugaan, Newcastle menambah 3 gol setelah itu, mengakhiri pertandingan dengan 5-1. Di sisi lain Arsenal juga menambah 3 gol, mengakhiri pertandingan dengan 4-0.

Arsenal akhirnya finish di posisi runner-up, pertama kalinya sejak 2004/2005. Memastikan keikutsertaan di Liga Champions selama 19 musim berturut-turut, hanya kalah dari Real Madrid yang memiliki rekor 20.

Meskipun demikian, ada rasa kecewa musim ini tak ada trofi. Padahal peluang terbesar menjuarai liga adalah musim ini. Tapi Leicester memang patut mendapat respek lebih musim ini.

Akhir kata,

Happy St. Totteringham’s Day Fellow Arsenal Fans!

Tentang Kapan

Kapan lulus? Kapan nikah? Kapan isi? Kapan nambah lagi? Terus saja ada pertanyaan seperti itu. Berhentilah. Seriously, stop it.

Pertanyaan-pertanyaan itu sejujurnya membuat saya enggan. Enggan pulang, enggan menghadiri acara keluarga, enggan bertemu saudara. Sudah jarang bertemu, jauh-jauh datang, dan saya pun jengkel. Apa gunanya?

Saya pernah baca entah di mana, tumblr atau 9gag, sebuah kutipan.

Setiap orang punya masalahnya sendiri. Tak banyak yang ia ceritakan, mungkin lebih banyak yang disimpannya sendiri. Kutipan di atas biasanya diakhiri dengan be nice, always. Dan, pertanyaan tadi bukanlah sesuatu yang nice.

Kapan Lulus?

Pertanyaan beberapa tahun lalu untuk saya, entah berapa banyak lagi yang mengalaminya.

Tahukah kalian, berapa kali desain eksperimen saya gagal? Saya harus mengambil data di dini hari di kampus karena gedung sebelah sedang dibangun, dan saya harus menunggu mereka beristirahat? Jumlah data yang saya ambil ada ratusan, terkadang saya harus mengulangi eksperimen karena tidak sesuai dengan hipotesis? Berapa kali saya tidak punya ide tentang kenapa dan harus bagaimana.

Saya beruntung punya pembimbing yang baik, bahkan draft akhir saya pun disetujui jam 2 pagi di kampus. Alhamdulillah lulus juga.

Buat mereka yang belum lulus, keep fightingI won’t ask you.

Kapan Nikah?

Pertanyaan untuk saya saat ini. Selalu ditanyakan. Hell, I don’t know. Dengan siapa atau ingin dengan siapa pun, saya masih tidak tahu. Tuhan lebih tahu. Atau mungkin yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya.

Sebuah nasehat yang pernah saya dengar, katanya teruslah perbaiki diri. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Tertulis di kitab suci, An-Nur 26.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

Yang berujung pada saya mempertanyakan diri sendiri. Mungkin saya memang bukan orang baik. Saya orang yang jahat. Saya orang yang tak peduli orang lain. Saya pelaku kriminal. Saya tak pernah bersyukur. Saya tak mengerti lagi mana yang baik dan yang jahat.

Mungkin saya memang harus memperbaiki diri lebih baik lagi.

Berusaha mencari? Saya tak mengerti caranya. Berusaha bagaimana? Randomly talk to anyone then fall in love? How cliche. Saya hampir tak pernah tertarik pada orang yang baru dikenal. Selalu ingin tahu bagaimana orang berfikir, caranya mengambil keputusan, cara menyampaikan emosi dan marahnya. Barulah saya tertarik. Saya bukan pangeran di negeri dongeng yang langsung tertarik melihat putri negara tetangga.

Pernah mencoba? Pernah. Failed miserably. Semuanya. Belum lagi meyakinkan orang tua bahwa she is the one. Saya tak ingin menceritakannya di sini, terlalu pribadi.

Yang jelas, untuk sekarang ini, saya sudah tak peduli lagi. Mungkin saya sudah tak percaya lagi tentang cinta. Mungkin saya memang tak perlu memikirkannya lagi.

Saya sudah tak lagi peduli. Lelah.

Kapan (Istri) Hamil? Kapan Tambah Lagi?

Ditanyakan kepada teman-teman saya yang sudah menikah, dan seriously, don’t ask.

Saya tak tahu bagaimana mereka berusaha. Saya tak tahu masalah yang mereka hadapi. Saya tak ingin menambah beban mereka.

Tak peduli sudah berapa lama menikah. Siapa tahu, sang istri menderita penyakit dan sedang berjuang keras untuk sembuh. Siapa tahu sang suami sudah memeriksakan kesuburannya di dokter. Siapa tahu?

Tak semua orang ingin dan bisa punya anak. Hormati mereka dengan tidak bertanya hal-hal seperti ini.

Tak semua perempuan sanggup untuk mengandung beberapa kali, tak perlu bertanya kapan punya anak laki-laki kalau sudah ada dua anak perempuan. It’s their life.

Be Nice

Akhirnya, be nice.

Menulis 10 Ide Setiap Hari

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel dari James Altucher, The Ultimate Guide for becoming idea machine. Ide utamanya adalah menulis 10 ide atau lebih setiap hari. Apapun idenya, ide tulisan, ide bisnis, ide resep masakan, ide alat, ide software, ide script, ide pengaturan keuangan, ide tentang ide, apapun. Ditulis, minimal 10 ide sehari.

Eksekusi saya agak berbeda dengan Pak Altucher, tapi idenya mirip.

Modalnya cukup sederhana, buku catatan dan pulpen. Saya baru saja memulai beberapa hari yang lalu, belum ada seminggu. Sudah ada 78 ide, dan akan terus bertambah. Menimbang koin kemarin adalah salah satu ide yang muncul.

Tapi ide saya cupu

Tidak masalah, Tom Sam Cong memulai perjalanan ke barat dengan satu langkah, sendirian.

Setiap programmer memulai dengan “Hello World”. Siapapun dia, pencipta google sampai programmer rata-rata yang kita temui di hampir setiap perusahaan.

Grandmaster catur memulai dengan belajar cara bidak melangkah. Baru kemudian belajar notasi.

Pedagang memulai usahanya dengan untung yang kecil dahulu, atau bahkan dengan merugi dahulu.

Tidak ada orang yang memulai dengan langsung memperoleh hasil terbaik, lama kelamaan ide akan berkembang menjadi jauh lebih baik.

Seburuk apa pun idenya, tuliskanlah. Setidak masuk akal apa pun, tuliskanlah. Membuat kostum kevlar Batman? Memurnikan air laut dengan tenaga surya? Mengendalikan mobil dengan handphone android dengan koneksi bluetooth? Tuliskanlah.

Lama kelamaan akan ada banyak ide. Segudang. Jika ada 10 ide setiap hari, maka setahun ada 3650 ide, 3660 kalau beruntung kabisat, dan jauh lebih banyak jika pikiran sedang lancar.

Lalu diapakan ide sebanyak itu?

Bayangkan kalau kita punya 10.000 ide. Jika 1% saja yang bagus, itu berarti ada 100 ide bagus. Jika ada 0.5% ide brilian, berarti ada 50 ide brilian. Tidak mungkin dari ide sebanyak itu tidak ada yang menghasilkan, pasti ada jika dieksekusi dengan baik.

Kuantitas lebih penting dibanding kualitas. Dengan spamming jumlah, suatu saat akan ditemukan ide yang bagus. Edison melakukan hampir 1000 percobaan untuk filamen lampunya, bukan melakukan pemikiran sampai dia menemukan bahan yang sempurna. Kuantitas.

Masih tentang kuantitas, seorang siswa dengan kemampuan rata-rata bisa jadi masuk universitas favorit melalui tes, dengan mempelajari ratusan soal-soal tahun sebelumnya. Saya membuktikan sendiri dulu, saya hampir tahu semua tipe soal tes karena kuantitas soal yang saya pelajari dari jaman SKALU, Sipenmaru, UMPTN, hingga SPMB. Bahkan tes USM-ITB sebelum ada ujian masuk bersama.

Sepuluh ribu jam adalah angka minimum untuk menguasai sesuatu. Bermain gitar, catur, menulis, menari, melukis, atau apa pun yang bisa disebut. Sepuluh ribu jam adalah kuantitas. Kualitas akan meningkat seiring berjalannya waktu.

Ide bagus tak akan berguna tanpa eksekusi, tapi tetap saja, ide bagus perlu dicari.

Jadi mulai tuliskanlah.

Baiklah, tapi saya tidak punya ide

Benarkah? Pernah memikirkan aspal jalanan di depan rumah yang bolong? Bagaimana caranya supaya ada tindak lanjut dari pemerintah adalah ide. Bagaimana membuat warga sekitar memperbaikinya adalah ide.

Lihatlah sekitar, ada banyak masalah yang bisa diselesaikan. Lakukan kegiatan sehari-hari, ada saja masalah yang harus dipecahkan. Bagaimana cara ke Bank kalau jam buka bank sama persis dengan jam kerja kita juga ide bukan?

Berandai-andai. Kalau saya jadi Presiden, apa yang harus saya lakukan menghadapi orang yang terus menerus mencibir saya. Bagaimana mengatasi Lumpur Lapindo? Bagian mana lagi dari negara ini yang perlu diperbaiki? Bagaimana memberantas jaringan terorisme tanpa ada yang berkomentar tentang HAM? Ya, ide.

Tunggu apa lagi, tuliskanlah.

Saya sudah berhasil menulis beberapa, tapi susah sampai 10

Bagus. Paksakan, sampai sepuluh. Itu pertanda pikiran mulai bekerja. Pikiran kita ini seperti otot, harus dilatih. Mengenai latihan otot, petinju terkenal Muhammad Ali pernah berkata

I don’t count my sit-ups, I only start counting when it starts hurting, when I feel pain, that’s when I start counting, cause that’s really counts.

Setelah pikiran mulai blank, itu tandanya pikiran mulai seperti otot yang terasa sakit. Di sini lah banyak ide brilian muncul.

Tak muncul juga? Jangan menyerah, persistence. Tetesan air bisa melubangi batu karena terus menerus menetesinya. Tetesan air bisa menghasilkan hasil yang sama dengan bor yang tajam karena ke-terus-menerusan-nya.

Semoga saya bisa menghasilkan ide baru lagi besok. Erm, nanti maksudnya. Hari sudah berganti.

Pak Mamo

Puk, sebuah tepukan melayang di pundak saya ketika melangkah masuk ke Masjid LIPI untuk menunaikan Sholat Jumat. Saya menoleh, tukang hipnotis kah? Atau bapak-bapak yang biasanya tersesat dan minta bantuan ke Rancaekek atau Cicalengka, dan minggu depannya tersesat lagi?

Saya menoleh dan menatap wajahnya, saya hampir tidak mengenal wajah itu. Pangling? Tidak juga, saya memang tak terlalu mengenal wajahnya. Si Bapak penjual Bakso Tahu Siomay pikulan.

Si Bapak memperkenalkan diri ke saya, “Bapak teh Pak Mamo”. Ah, nama itu tidak asing bagi saya. Beliau penjual mie instan di Himpunan dulu, HME. Dahulu teman-teman sering memesan dari beliau entah acara apa, mulai dari mengerjakan tugas hingga pemilihan ketua himpunan. Selalu siaga, hampir 24 jam.

Pak Mamo
Pak Mamo

Ya, teman-teman, bukan saya. Saya bukanlah orang yang rajin ada di himpunan. Bukan tidak rajin lagi, hampir tidak pernah malah. Saya terharu Pak Mamo justru mengingat wajah saya, meskipun beliau tak tahu nama saya – karena saya memang tak pernah berbincang. Saya pun mengenalkan diri, “Iwan, angkatan 2007, jaman kahimnya Pambudi dulu”.

Karena adzan sudah memanggil saya bergegas ke dalam, Pak Mamo dengan penuh harap meminta saya untuk mampir setelah selesai Sholat Jumat. Baiklah, tak apa, dengan senang hari Pak.

Selesai menunaikan kewajiban, saya pun mampir ke lapak Pak Mamo sejenak memesan baso tahu dan siomay-nya, sambil berbincang-bincang.

Pak Mamo bercerita beliau tak lagi di HME sejak 2012, sejak ada larangan bagi himpunan untuk berjualan makanan. Beliau baru beberapa hari berdagang Baso Tahu setelah setahun menganggur. Pak Mamo bilang, dagangannya punya orang di Cihampelas, setoran setiap hari, dan juga tinggal di sana.

Itu dari sisi Pak Mamo, beberapa waktu lalu sebenarnya saya juga mendengar kabar tidak enak mengenai kenapa Pak Mamo tak lagi ada di HME. Tapi saya tak tahu, dan tak ingin tahu. Yang jelas beliau harus berusaha menyambung hidupnya sekarang.

Sukses Pak Mamo, meskipun saya hanya bisa memberikan “Ambil saja kembaliannya”.

Dan sialnya, saya lupa meminta nomor telepon beliau.

Ide: Menghitung Koin dengan Menimbang

Dua atau tiga minggu yang lalu saya menyetorkan uang di celengan ke Bank. Seperti biasanya, saya harus mengelompokkan koin satu per satu. Setiap sepuluh koin bernominal sama, diselotip hingga membentuk nominal yang sepuluh kali lebih besar. Sesampainya di bank, teller menghitung uang receh saya satu per satu, tanpa bantuan mesin.

Koin

Mengapa Bank di Indonesia tidak punya mesin penghitung koin? Mesin penghitung uang kertas biasanya sudah ada, tapi koin? Sama sekali tidak ada. Saya bahkan pernah dimarahi teller ketika setor dan koin belum dikelompokkan.

Saya jadi kepikiran, bagaimana caranya menghitung koin dengan mudah? Karena ini menyangkut uang, jadi harus akurat. Salah satu yang ada di pikiran saya adalah menimbangnya! Uang koin punya berat (well, massa kalau Anda seorang fisikawan sejati) yang berbeda-beda.

Berdasarkan wikipedia, uang koin yang umum beredar saat ini adalah:

  • 50 rupiah putih: 1.36 gram,
  • 100 rupiah putih: 1.79 gram,
  • 200 rupiah putih: 2.38 gram,
  • 500 rupiah kuning 1991: 5.29 gram,
  • 500 rupiah kuning 1997: 5.34 gram,
  • 500 rupiah putih: 3.10 gram,
  • 1000 rupiah putih-kuning: 8.60 gram,
  • 1000 rupiah putih: 4.50 gram

Katakanlah saya punya timbangan yang ketelitiannya 10 mg (mungkin biasa dipakai apoteker atau tukang emas). Dengan menimbang koin yang saya miliki, bisakah saya menentukan jumlah uang yang saya punya?

Misalkan a, b, c, d, e, f, g, dan adalah jumlah dari setiap jenis koin di atas, dan w adalah total berat dari koin di atas. Maka seharusnya persamaan ini bisa dipenuhi:

1.36a + 1.79b + 2.38c + 5.29d + 5.34e + 3.10f + 8.60g + 4.50h = w

Misalkan saya punya 100 koin seribuan putih, 80 koin limaratusan putih, dan 250 koin duaratusan, total uang yang saya punya adalah 190 000 rupiah dan beratnya 1293 gram. Persamaan di atas menjadi:

1.36a + 1.79b + 2.38c + 5.29d + 5.34e + 3.10f + 8.60g + 4.50h = 1293

Saya butuh bantuan matematikawan di sini:

  • Apakah persamaan tersebut dapat diselesaikan, sehingga diperoleh (a, b, c, d, e, f, g, h) = (0, 0, 250, 0, 0, 80, 0, 100)? Tidak masalah bila memerlukan data tambahan yang disimpan, bisa diatur.
  • Apabila dapat diselesaikan, apakah solusi tersebut unik? Karena bila tidak unik, tentu saja kita perlu mengatur strategi agar uang yang terhitung akurat.

Beberapa kemungkinan metode yang sudah saya baca-baca, dan mungkin bisa diterapkan:

Persamaan Diophantine

Persamaan di atas jelas memerlukan solusi a, b, c, d, e, f, g, dan h integer non-negatif, karena koin tidak mungkin pecahan bukan? Bukankah ini definisi dari persamaan diophantine?

Tapi saya tak banyak mengerti tentang teori bilangan, di Wikipedia pun hanya tersedia untuk 2 variabel, apakah untuk 8 variabel akan tetap sama? Well, need help here.

Apakah ada hubungannya dengan GCD dan LCM dari tiap-tiap berat koin?

Brute Force

Engineering solution starts here. Kita coba satu per satu nilai a, b, c, d, e, f, g, dan h. Untuk setiap variabel, kita coba sampai beratnya mencapai total berat koin.

Intinya nested for sampai 8 kali ke dalam. Tentu saja tidak efisien karena kompleksitasnya O(n^8), tapi sepertinya cara ini paling mudah dilakukan, sekaligus tahu apakah solusi tersebut unik atau tidak.

Aljabar Linier

Persamaan di atas terdiri dari 8 variabel, bisakah kita menyelesaikannya kalau kita punya 8 persamaan? Tujuh (atau lebih) persamaan yang lain kita simpan sebagai referensi dalam program.

Tapi sepertinya cara ini tidak bisa diterapkan, saya masih bingung memikirkan bagaimana caranya menyimpan referensinya.

Lainnya

Saya membaca referensi di reddit (internet positif, crap) namun lupa linknya. Beberapa user mengusulkan menggunakan weight to value ratio, ada pula yang mengatakan ini berhubungan dengan Knapsack Problem.

Bisakah ide ini dieksekusi? Entahlah.

Waktunya bersih bersih

Sudah lama sekali tidak menulis di blog ini. Saya sudah lama ingin menulis, sekenanya, tanpa memikirkan akibat dan perasaan orang lain. Susah sekali mengungkapkan isi hati dan perasaan, lisan maupun tulisan, buat saya. Mungkin bawaan lahir? entahlah.

Tulisan saya yang dulu-dulu pun jadi kaku, formal, tanpa opini. Kering. Tidak seberani dulu mengungkapkan isi pikiran, seperti komplain ke mahasiswa penghalang jalan.

Yang jelas kalau blog ini adalah rumah, di pojokan sudah banyak sarang laba-laba dan debu ada di mana-mana. Waktunya dibersihkan.

3918720

Semoga bisa rajin menulis, seperti jaman telurebus dulu.