Tentang Kapan

Kapan lulus? Kapan nikah? Kapan isi? Kapan nambah lagi? Terus saja ada pertanyaan seperti itu. Berhentilah. Seriously, stop it.

Pertanyaan-pertanyaan itu sejujurnya membuat saya enggan. Enggan pulang, enggan menghadiri acara keluarga, enggan bertemu saudara. Sudah jarang bertemu, jauh-jauh datang, dan saya pun jengkel. Apa gunanya?

Saya pernah baca entah di mana, tumblr atau 9gag, sebuah kutipan.

Setiap orang punya masalahnya sendiri. Tak banyak yang ia ceritakan, mungkin lebih banyak yang disimpannya sendiri. Kutipan di atas biasanya diakhiri dengan be nice, always. Dan, pertanyaan tadi bukanlah sesuatu yang nice.

Kapan Lulus?

Pertanyaan beberapa tahun lalu untuk saya, entah berapa banyak lagi yang mengalaminya.

Tahukah kalian, berapa kali desain eksperimen saya gagal? Saya harus mengambil data di dini hari di kampus karena gedung sebelah sedang dibangun, dan saya harus menunggu mereka beristirahat? Jumlah data yang saya ambil ada ratusan, terkadang saya harus mengulangi eksperimen karena tidak sesuai dengan hipotesis? Berapa kali saya tidak punya ide tentang kenapa dan harus bagaimana.

Saya beruntung punya pembimbing yang baik, bahkan draft akhir saya pun disetujui jam 2 pagi di kampus. Alhamdulillah lulus juga.

Buat mereka yang belum lulus, keep fightingI won’t ask you.

Kapan Nikah?

Pertanyaan untuk saya saat ini. Selalu ditanyakan. Hell, I don’t know. Dengan siapa atau ingin dengan siapa pun, saya masih tidak tahu. Tuhan lebih tahu. Atau mungkin yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya.

Sebuah nasehat yang pernah saya dengar, katanya teruslah perbaiki diri. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Tertulis di kitab suci, An-Nur 26.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

Yang berujung pada saya mempertanyakan diri sendiri. Mungkin saya memang bukan orang baik. Saya orang yang jahat. Saya orang yang tak peduli orang lain. Saya pelaku kriminal. Saya tak pernah bersyukur. Saya tak mengerti lagi mana yang baik dan yang jahat.

Mungkin saya memang harus memperbaiki diri lebih baik lagi.

Berusaha mencari? Saya tak mengerti caranya. Berusaha bagaimana? Randomly talk to anyone then fall in love? How cliche. Saya hampir tak pernah tertarik pada orang yang baru dikenal. Selalu ingin tahu bagaimana orang berfikir, caranya mengambil keputusan, cara menyampaikan emosi dan marahnya. Barulah saya tertarik. Saya bukan pangeran di negeri dongeng yang langsung tertarik melihat putri negara tetangga.

Pernah mencoba? Pernah. Failed miserably. Semuanya. Belum lagi meyakinkan orang tua bahwa she is the one. Saya tak ingin menceritakannya di sini, terlalu pribadi.

Yang jelas, untuk sekarang ini, saya sudah tak peduli lagi. Mungkin saya sudah tak percaya lagi tentang cinta. Mungkin saya memang tak perlu memikirkannya lagi.

Saya sudah tak lagi peduli. Lelah.

Kapan (Istri) Hamil? Kapan Tambah Lagi?

Ditanyakan kepada teman-teman saya yang sudah menikah, dan seriously, don’t ask.

Saya tak tahu bagaimana mereka berusaha. Saya tak tahu masalah yang mereka hadapi. Saya tak ingin menambah beban mereka.

Tak peduli sudah berapa lama menikah. Siapa tahu, sang istri menderita penyakit dan sedang berjuang keras untuk sembuh. Siapa tahu sang suami sudah memeriksakan kesuburannya di dokter. Siapa tahu?

Tak semua orang ingin dan bisa punya anak. Hormati mereka dengan tidak bertanya hal-hal seperti ini.

Tak semua perempuan sanggup untuk mengandung beberapa kali, tak perlu bertanya kapan punya anak laki-laki kalau sudah ada dua anak perempuan. It’s their life.

Be Nice

Akhirnya, be nice.

4 thoughts on “Tentang Kapan

  1. Mungkin orang yang nanya nanya soal kapan anu dan kapan itu , sebenarnya gak niat nanya , cuma niat basa basi saja , secara dalam masyarakat kita , kalau ketemu orang tapi kita tidak berusaha untuk mengobrol , maka hal itu dianggap hal yang kurang baik , dianggap sombong . Cuma masalahnya yang nanya , cuma tau sedikit tentang kehidupan kita . Taunya cuma kita sekarang masih kuliah , tau nya cuma kita sekarang masih single , taunya kita baru nika dll . Alhasil , omongan / pertanyaan yang dilemparkan ya cuma yang seperti itu . Yang nanya ga tau , misalnya , si X masih single karena masih belum bisa move on dari si Y misalnya . Si X juga ga mungkin cerita ke sembarang orang : gini loh , aku itu masih single karena belum bisa lupa sama si Y , misalnya …

    Tapi , Menurut saya sih , kita jawab atau engga pertanyaanya , itu ga bakal terlalu ngaruh , kita jawab pun , jawaban kita ga akan terlalu diperhatikan , secara menurut saya sih , niat awalnya memang bukan untuk nanya , tapi cuma untuk basa basi saja , jadi ya kalau ada yang nanya seperti itu , mungkin di bawa santai saja , jangan terlalu dianggap serius🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s