Window Seat

Eksekutif 1, 8D. Itulah yang tertulis di tiket kereta saya pagi itu. Karena kereta berangkat jam 05:00, sementara Subuh jam 04:42, terpaksa saya harus masuk kereta setelah menunaikan Sholat Subuh. Sehingga waktu untuk masuk ke kereta pun mepet. Saya masuk ke dalam gerbong kereta, tapi ternyata tempat duduk saya telah ditempati bapak yang seharusnya duduk di kursi 8C.

Saya pun bertanya, “8D?”. Si Bapak menjawab, “iya, 8 C-D”. Saya pun tetap berdiri, enggan untuk duduk, berharap semoga si Bapak mengerti maksud saya. “Tapi saya di sini saja”. Saya kesal, tentu saja, saya hendak bilang “Sekarang urutan kursinya A-B-D-C ya?”. Tapi ya sudahlah, daripada perjalanan saya tidak nyaman, saya pun duduk, menyebut nama Tuhan berusaha menenangkan hati.

Tapi tampaknya saya tak berhasil menenangkan hati. Selang beberapa menit kereta berjalan, si Bapak akhirnya minta tukar kursi pada saya. Mungkin melihat tampang kecewa dan cemberut saya. Saya hanya menjawab, “Oh” saja, karena tak rela berterima kasih dengan tulus untuk sesuatu yang sudah menjadi hak saya.

Bukan apa-apa, setiap kali naik kereta atau bis, saya selalu memilih kursi jendela. Memilih. Saya selalu memastikan kursi saya A atau D, kecuali terpaksa sekali. Itu pun bila saya mendapat kursi B atau C, saya tidak pernah sekalipun menduduki kursi mereka yang ada di A dan D. Cukuplah apa yang tertulis di tiket, sehingga saya pun ingin diperlakukan demikian.

Kursi B dan C adalah kursi gang, mereka memberikan akses yang mudah bila ingin ke toilet atau kereta makan. Tapi, tidak ada yang mengalahkan kursi jendela.

155734902

Bukan, bukan akses mudah ke colokan charger yang saya cari. Tapi pemandangan dari jendela itu lah yang saya cari. Melihat pepohonan dan rumah-rumah bergerak mundur, untuk kemudian kita tinggalkan, terus melaju ke depan, pasar, stasiun, hutan, sawah, sungai, jembatan, dan jalan raya silih berganti.

Membuat saya berfikir dalam-dalam tentang waktu dan kehidupan yang telah berlalu, merenung. Teman, saudara, tempat, kejadian, pengalaman, perjalanan, persahabatan, guru, sahabat, orang yang kita temui setiap hari, kedatangan, kehilangan, permusuhan, dan perpisahan datang silih berganti seiring berjalannya waktu. Ada banyak senang, ada juga beberapa sedih, ada juga cinta, ada pula patah hati.

Tapi sang waktu terus melaju tanpa ampun. Tak satu pun bagian darinya yang bisa kita kunjungi kembali. Tak mungkin memetik bunga di tepi rel yang saya sudah lewati tadi, karena kereta terus melaju, dan saya tak punya kuasa untuk menghentikannya. Persis seperti waktu.

Kereta berjalan menuju stasiun akhir, demikian juga waktu. Dialah kereta perjalanan hidup ini. Sudah siapkah saya melanjutkan perjalanan di ujung waktu nanti. Entahlah.

Yang pasti, please respect my choice to sit on the window seat.

3 thoughts on “Window Seat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s