No Procrastinating

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (QS 18:23-24)

Besok belum tentu Dia mengizinkan bukan?

Iklan

Buku

Konon, setiap 200-500 buku yang dibaca setara dengan seorang mentor. James Altucher yang bilang.

*menatap koleksi buku di rak yang banyak yang belum tersentuh*

Mungkin harus membangun habit, membaca seberapa banyak setiap hari.

Statistik

Apakah hidup manusia ini hanya kumpulan-kumpulan kejadian, sehingga kita bisa memperlakukannya seperti data statistik, melakukan regresi dari kejadian di masa lalu dan menyimpulkan apa yang akan terjadi di masa depan?

Seringkali kita menjadi hakim, menilai orang lain dari apa yang kita lihat. Menyimpulkan baik dan jahatnya seseorang, hanya dari beberapa sampel data yang bisa kita lihat.

Di media sosial, bahkan orang bisa menghakimi orang yang mana yang akan masuk surga dan neraka, kafir atau alim, hanya dari tulisan mereka.

Tanpa kita sadari, kita memperlakukan kehidupan seperti data statistik.

Sports

14068551_10210283581756816_4022259853346071926_o

Yesterday, I hit the running track after months of absence. My target is simple, finish 6 laps running.

My personal best is 11:45 minutes, back then I was still a freshman. Years go on, I still haven’t beat my younger self.

But I want to keep trying, and trying. When I was sprinting for the last two laps, I thought that the essence of a sport is not to beat others. We try to beat ourselves, to get the best of us. No matter what the result is, we keep try! Don’t give up.

Another “sport” that I routinely do is playing Rubik’s Cube. I’m not too interested in speedsolving but I’m a fan of fewest moves solving. I was a national champions three times, but I lost it this year.

Like running, I still haven’t beat my personal best of it. 24 moves, happened three (or four?) years ago. Last week, I almost tied it with 25. But I won’t give up!

Try to beat yourself, and get the best of you

Khotbah Jumat Hari Ini

Seperti biasa, kalau hari Jumat, saya mau menulis apa yang disampaikan khatib. Kalau cuma didengarkan, biasanya saya ngantuk, jadi supaya konsentrasi penuh, saya niatkan ditulis.

Hari ini lokasinya di Batan. Bukan yang di Yogyakarta, tapi yang di Bandung. Nama masjidnya Dzarratul Ulum, beda tipis sama yang di Yogya, Dzarratul Khair. Mungkin karena ada di Batan, jadi mereka bermain-main dengan partikel inti atom, namanya diambil dari Dzarrah, sesuatu yang sangat kecil.

Berhubung tempatnya penuh karena sedang ada career fair SBM-ITB, saya hanya dapat tempat di belakang. Suara speakernya agak kemresek tapi saya masih dapat beberapa poinnya.

  • Sekarang menurut perhitungan kalender hijriah adalah bulan Dzulqa’dah, salah satu dari empat bulan yang dimuliakan. Saya tidak terlalu dengar tadi keistimewaannya apa. :/
  • Sekarang juga bulan Agustus, bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia.
  • Perbanyak bersyukur. Salah satu bentuk bersyukur adalah dengan melaksanakan Shalat. Termasuk di antaranya Shalat Sunnah.
  • Aisyah berkata, “Nabi biasa melakukan shalat malam hingga bengkak kedua kaki beliau.”

  • QS Al-Kautsar 1-3, cara bersyukur adalah mendirikan shalat dan berkorban.
  • Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

  • Dalam shalat, berarti kita bersyukur dengan lisan, dengan membaca doa-doa dan bacaan di dalamnya. Dengan badan, dengan melakukan gerakan-gerakan, dan dengan hati.
  • Tentang Kurban, karena sebentar lagi bulan Dzulhijjah, khatib bercerita tentang kisah Nabi Ibrahim dan anaknya, juga tentang event lain yang berkaitan tentang kurban, yaitu ibadah haji.

Demikian yang saya dapat poinnya, lumayan dengan speaker yang kemresek.

Pejuang Subuh + Pengalaman Pribadi

Pejuang Subuh

Seperti biasanya, kalau saya berkunjung ke toko buku, selalu saja khilaf. Ada saja yang terbeli. Meskipun sebenarnya di rak koleksi saya masih banyak yang belum tersentuh, terbaca apalagi.

Salah satu hasil khilaf bulan Juli lalu adalah buku berjudul pejuang subuh. Ditulis oleh pengelola twitter @pejuangsubuh.

850514811_125647_7855300838690727172

Premis yang mendasari buku ini tertulis di covernya. Menurut bukunya, quote ini dikatakan oleh seorang rabi.

Kebangkitan Islam hanya akan terjadi jika jamaah Shalat Subuh di masjid sudah seramai Shalat Jumat

Tentang isi di dalam buku ini, ada beberapa kisah-kisah dan pengalaman, dari beberapa orang. Untuk yang laki-laki, melakukan Shalat Subuh berjamaah secara kontinu, mula-mula 40 hari berturut-turut. Bagi yang wanita, 21 hari di awal waktu – karena ada datang bulan.

Bagian pertama menjelaskan keistimewaan Shalat Subuh berjamaah, ada 10 hadits dan 1 ayat. Berhubung panjang kalau ditulis di sini, sebaiknya baca bukunya. Mulai dari kesaksian malaikat, menghindarkan siksa neraka, pembuka rezeki, dan seterusnya. Kemudian di bagian berikutnya, tentang manfaat kesehatan bangun sebelum Subuh.

Porsi terbanyak buku ini  ada di bagian kedua. Pengalaman 40 hari melakukan Shalat Subuh di masjid dan berjamaah oleh yang laki-laki. Bagian ketiga isinya pengalaman bagi para wanita untuk menjalankan Shalat Subuh 21 hari di awal waktu

Intinya adalah dengan melakukan Shalat Subuh berjamaah di masjid, good things happen. Mulai dari yang tadinya gemar menikmati dugem dan klub malam hingga akhirnya mampu keluar dari sana, ada yang berhenti dari pacaran yang berlebihan, ada yang bertemu jodohnya, sembuh dari sakit parahnya, ada yang berhenti dari praktek suap menyuap, mulai berhijab, dan masih banyak kisah lainnya.

Para penutur kisah selalu menceritakan bagaimana latar belakangnya, bagaimana mereka menemukan tentang “40/21 hari” Shalat Subuh, bagaimana usaha mereka, dan akhirnya hal-hal baik yang terjadi pada mereka.

Kadangkala mereka membagi kiat, yang paling berkesan adalah

Kalau mau mudah, siapkan saja indomie sekardus, isinya 40 bungkus. Ambil tiap hari satu setelah Shalat Subuh.

Saya tersenyum kecil saat membacanya. Nanti selain terbiasa Shalat Subuh, juga terbiasa sarapan indomie dong, nggak sehat. :/

Demikian tentang bukunya.

***

Pengalaman Pribadi

Saya pribadi adalah orang yang rasional, terlalu rasional mungkin. Setelah membaca buku itu dan menemukan inti dari buku tadi bahwa

Dengan melakukan Shalat Subuh berjamaah di masjid, good things will happen

Saya langsung berpikir bahwa ini mungkin karena statistik, ada korelasi yang tinggi dari “Shalat Subuh di masjid” dan “good things”. Saya juga tahu bahwa correlation does not imply causationJadi pada intinya pada statistik, variabel A dan variabel B selalu bisa dihitung korelasinya, apapun A dan B itu.

Contohnya adalah ada korelasi tinggi antara konsumsi mentega per kapita dan jumlah perceraian di suatu kota. Mungkin kalau tahu tentang Feng Shui, variabel-variabelnya mungkin semacam rumah menghadap ke barat dan penghasilan penghuninya yang sedikit. Mereka yang percaya menganggap korelasinya tinggi.

Kalau soal ujian masuk perguruan tinggi, jawabannya B, sebab benar dan alasan benar tetapi tidak menunjukkan hubungan sebab akibat.

Tapi saya jadi teringat apa yang saya ucapkan sendiri ke salah seorang teman sewaktu di perjalanan dari Bandung ke Garut untuk menghadiri pernikahan sahabat kami. Waktu itu konteksnya tentang usaha. Sebut saja namanya Fadjrin dan Arkan.

*… randomness obrolan perjalanan …*

Fadjrin: “Kalau mau saya ada materi-materi dari seminar dan training tentang enterpreneurship. Bisa saya bagi nanti.”
Arkan: “Wah, kalau dari materi-materi kaya gitu, kebanyakan teori doang bukan pengalaman nyata, saya agak skeptis. Jadi agak males mempelajarinya.”
Saya: “Skeptis itu wajar, tapi jangan sampai menghalangi kita untuk do something.”

Saya pikir, ah, kenapa gak coba aja sekalian? do somethingYour own word.

Cerita saya justru dimulai sebelum saya menemukan buku itu, yang saya beli tanggal 26 Juli. Saya sudah berusaha rutin datang ke masjid di subuh hari dari tanggal 18 Juli. Sehari sebelum itu, saya ada di Stasiun untuk perjalanan ke Jakarta, sempat mampir ke masjid di stasiun, jadi tak apalah dihitung sejak 17 Juli.

Mulanya adalah saat saya ikut Shalat Isya’ di masjid sebelah kosan, sebelahnya persis. Jamaah hanya 2 atau paling banyak 3 orang. Oleh bapak-bapak yang jadi imam, saya diberi tahu cara menghidupkan lampu speaker, dan diberi pesan “Kalau mau adzan ini cara nyalain ini dan itu, yang rajin ke sini ya Dik.”

Dari tanggal 18 sampai 26 Juli, saya subuh di situ. Mengumandangkan adzan di masjid (for the first time, shame me). Kalau ada yang datang paling satu orang, jadi jamaahnya berdua saja. Kadang justru tidak ada yang datang, saya jadi tidak bersemangat. Maklum juga, di sekitar kosan saya hanya ada 5 rumah di lereng bukit dan di tengah hutan.

Setelah baca buku ini, saya berpikir mungkin harus cari masjid lain. Di masjid sebelah kosan mungkin kalau selain Subuh. Teringat obrolan dengan seorang teman yang lain.

Saya: “Kalau Jumatan biasanya di mana?”
Zulfikar: “Di blok A, ada masjid.”
Saya: “Jauh?”
Zulfikar: “Nggak terlalu.”

Yay, ada kandidat tempat lain untuk didatangi. Kosan saya di blok L, blok A adalah blok yang berseberangan.

Mulai tanggal 27 Juli, saya paling sering ke Masjid di Blok A. Nama masjidnya, masjid Al-Ikhlas. Saya bertemu dosen-dosen di sana, mula-mula yang saya kenal adalah Pak Eniman dan Pak Sarwono. Sampai akhirnya saya tahu beberapa dosen lainnya, Prof. Umar dari Fisika, Prof. Masyhur dari Sipil, Prof. Syahril dari Sipil, Prof. Andi Isra dari Penerbangan, Prof. Sukrasno dari Farmasi, semuanya guru besar. ._.

Tapi saya teringat pepatah

If you are the smartest person in the room, you are probably in the wrong room

Mungkin berlaku juga sebaliknya, mungkin saya tidak berada di wrong room. Karena saya the dumbest, cuma lulusan S2 dari mereka yang sudah S3. Heu.

Yang saya senangi di masjid ini adalah kegiatan setelah Shalat Subuhnya, ada baca Qur’an 2 ayat setiap hari Senin hingga Kamis, dengan artinya. Berusaha mengartikan langsung dari bahasa Arab tanpa teks terjemahan. Setiap Jumat ada kajian hadits oleh Prof. Umar. Setiap Minggu bergiliran membaca Qur’an sebanyak satu ‘ain beserta terjemahannya. Ada guru bahasa Arab yang datang sebulan sekali. I feel home. 🙂

Untuk kegiatan hari Sabtu, saya tidak pernah ikut, jadi saya tidak tahu. Kenapa tidak pernah ikut? Karena akhir-akhir ini saya harus banyak pergi ke luar kota. Saya harus ke Solo untuk tes di UNS untuk apply sebagai dosen, saya ke Yogyakarta untuk mengikuti Indonesian Championship 2016, dan saya ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan sahabat saya. Tapi jangan khawatir, di sana tetap ke masjid kok, yang jadi korban adalah Masjid Al-Fajar di dekat kosan adik saya di Solo, Masjid At-Taqwa di Babarsari, Yogyakarta, dan Masjid At-Taqwa di Bandara Juanda Surabaya.

Hari ini tepat 40 hari sejak 17 Juli. Jadi itulah kenapa tulisan ini muncul. Tentu saja saya tidak memakai penghitungan indomie, tidak sehat. Untuk membangun kebiasaan ada aplikasi android yang bernama Habit Bull.

photo304996996923631967

Yup, tepat 40 hari. Tapi tentu saja tak akan berhenti sampai situ bukan? 🙂

Ah, sayang sekali saya kemungkinan besar akan meninggalkan Bandung dalam waktu dekat.

Did Good Things happen?

Bagian kedua dari variabel. Apakah good things terjadi selama 40 hari ini? Menurut saya pribadi, bisa dibilang iya. Apa saja good things yang terjadi?

Tentang jodoh, saya masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk memperbaiki diri lagi. Indah sekali cara Sang Pencipta mengatakan kepada saya, “Yang itu bukan jodohmu.”. Good thing number #1

Tentang rezeki, kadang-kadang saya randomly mendapat hal yang tidak disangka-sangka. Suatu kali saya dapat sarapan gratis karena memperbaiki kursi ibu kos, dapat makan siang gratis karena memperbaiki keran shower di kamar mandi, bahkan dapat penghasilan tambahan untuk melakukan training dasar pemrograman dalam bahasa Java. Good thing number #2. Anyway, selama 40 hari itu ada beberapa kali saya mendengar, melihat, atau membaca tentang surat Ibrahim ayat 7, intinya “Bersyukurlah maka rezekimu akan Ku-tambah”, mungkin benar-benar ditekankan bahwa harus bersyukur.

Tentang karier, Alhamdulillah aplikasi saya ke sebuah pekerjaan lancar sampai sejauh ini. Belum ada halangan yang bisa dibilang cukup berarti. Lancar seluruh tahap hingga kini, meskipun beberapa kali ada penundaan pengumuman. Good thing number #3.

Tentang lain-lain, tetap saja ada good thing yang terjadi. Misalnya penerbangan saya lebih cepat sampai Surabaya 45 menit dari waktu seharusnya, dan saya masih bisa menemui Syafiq dan istri setelah akad nikah. Padahal prediksi saya, kalau penerbangan tepat waktu dan agak macet, saya akan terlambat sekitar 1.5 jam, lontang-lantung di Surabaya sampai siang waktu check in hotel, dan baru datang pada malamnya di resepsi.

Kenyataannya, saya tiba 45 menit lebih awal, hanya setengah jam perjalanan naik taksi ke lokasi, masih bertemu pengantin baru, bertemu teman-teman yang sudah datang lebih dahulu, tidak lontang-lantung di sana, makan siang dan bercerita bersama Eja, Wahyu, dan Haris tentang pengalaman-pengalaman mereka dari pekerjaan hingga bagaimana bertemu pasangannya masing-masing. Cerita yang menarik. Hingga kembali ke hotel di kompleks bandara dan ketika akan menghadiri resepsinya, saya bertemu sopir taksi yang jujur dan menceritakan pengalamannya sebagai rekanan di PLN memasang instalasi listrik, tentang keluarganya di Kediri, yang super menarik.

***

Good things do happen.

Apakah saya cherry picking good things? Mungkin.

Apakah ada hubungan sebab akibat antara subuh berjamaah di masjid 40 hari berturut-turut dengan good things? Wallahu’alam. Saya juga tidak tahu.

Semoga saya bisa tetap konsisten.

Saya tidak bermaksud pamer atau riya’, hanya berbagi tentang apa yang saya alami dan rasakan, kalau percaya terima kasih, kalau tidak juga hak pembaca. 🙂