Kisah Orang Buta dan Gajah

Pernah dengar cerita orang buta dan gajah? Kalau belum, biarkan saya bercerita sejenak tentang mereka.

***

Alkisah di sebuah negeri yang jauh, ada enam orang buta yang tinggal di sebuah negeri. Suatu hari, sang raja negeri itu datang ke desa dengan menunggangi gajah. Penasaran, penduduk desa pun antusias melihat seperti apa gajah sang raja, termasuk si enam orang buta.

Singkat cerita, keenam orang buta itu memegang-megang dan sedikit meraba badan si gajah. Masing-masing punya gambaran seperti apa gajah itu, hingga akhirnya mereka menceritakannya ke satu sama lain, dan terjadilah adu mulut.

Orang buta pertama yang memegang belalai gajah berkata, “Gajah itu seperti ular raksasa!”.

Orang buta kedua menyanggah, “Ngawur kamu! Gajah itu seperti ujung pensil, runcing dan tajam!”. Kita sebagai orang yang bisa melihat tentu saja tahu kalau yang ia raba hanyalah bagian gadingnya.

Sambil menggerutu, orang ketiga yang memegang telinga berkata, “Kalian bicara apa sih? Gajah itu tipis, lebar, dan bergerak-gerak seperti daun jati ditiup angin!”.

“Salah kalian semua, dengarkan aku yang menunggangnya, gajah itu seperti batu keras yang bisa berpindah.” Kata orang keempat.

Keluhan kembali terdengar, kali ini dari si orang kelima yang mendeskripsikan kaki gajah, “Bah, gajah itu seperti empat batang pohon, tegak dan kokoh! Bukan seperti yang kalian bicarakan.”

Orang terakhir pun terpancing, “Bukan! Gajah itu seperti tali, panjang dan lentur!” Pekiknya sambil menjelaskan ekor gajah yang tadi dirabanya.

Sang raja yang tidak buta hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar mereka bertengkar.

***

Biasanya kisah ini diakhiri dengan hikmah bahwa si enam orang buta membayangkan sesuatu yang salah. Apabila diibaratkan, orang buta adalah akal kita, dan sang gajah adalah konsep ke-Ilahi-an.

Cerita ini berawal dari buku The Walled Garden of the Truth, karya Hakim Sanai, guru dari Jalaluddin Rumi, seorang penyair yang termasyhur.

Tapi saya ingin bertanya, seperti biasa.

Keenam orang buta itu, masing-masing punya gambaran yang salah. Tapi secara kolektif, mereka benar. Apakah akal kita juga bekerja seperti itu? Pemikiran kita saling melengkapi satu sama lain? Bukankah ini juga konsep ilmiah, standing on the shoulder of giants? Kita menuliskan suatu karya satu sama lain dari berbagai sudut pandang hingga kita akhirnya tahu bahwa bumi ini bulat, kita tahu berbagai jenis species yang ada, kita tahu bagaimana caranya ke bulan, kita tahu seberapa cepat cahaya melaju, dan seterusnya.

Pertanyaan kedua, bagaimana kita tahu bahwa kita bukan orang buta? Bagaimana kita tahu kalau kita tidak bisa melihat si gajah? Atau selama ini kita merasa tahu gajah itu seperti apa, merasa bisa melihatnya, dan merasa “gajah” kita lah yang paling benar?

Entahlah.

6 thoughts on “Kisah Orang Buta dan Gajah

  1. *Sok sokan mau ngasih opini ah
    1. nampaknya mmang begitu *apa coba
    2. Kita merasa benar karena kita menggunakan parameter yg kita yakini, yg beruntungnya seiya sekata dgn parameter org kebanhakan. Mgkin kalau ada makhluk dimensi lain, mereka menyetujui untuk menamakan itu guling jumbo😛

  2. Slamat apaaa cobaa haha

    Korelasinya bkn gitu sih maksud eik. Ada kata “kebetulan”, dlm makna lbh dalam nya lagi “ditakdirkannya”. Kalo ga yakin sama yg org lain yakini, ga bisa dihakimi kan… Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s