Menulis

Setelah tulisan ini dirilis, maka dua bulan penuh berturut-turut setiap hari, blog ini terisi dengan tulisan. Tanpa jeda hari, sebuah pencapaian juga.

screenshot_103

Saya tidak tahu apakah kualitas tulisan saya berkembang selama dua bulan itu, yang pasti jumlahnya yang terus bertambah.

Apakah tidak bosan mengulang-ulang hal yang sama setiap hari? Bukankah Einstein pernah bilang

Kegilaan: Melakukan hal yang sama secara terus-menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda.

Saya tak setuju.

Para atlet basket berlatih 3 point shot setiap hari, dalam satu drill latihan mereka bisa melakukannya ratusan, bahkan ribuan kali. Apa yang terjadi? They get better.

Berapa kali kita perlu berlatih menyetir mobil sampai akhirnya dengan percaya diri mengatakan bisa mengendarainya? Kita berlatih terus menerus untuk itu bukan?

Menulis adalah salah satu kemampuan yang perlu dilatih. Seorang dosen saya pernah menasehatkan untuk menulis setiap hari. Idenya sama, latihan, training ground.

Kadang dalam sehari, saya punya banyak ide, kadang pula, saya tidak tahu apa yang harus dituliskan. Tapi tetap harus latihan. Untuk mengatasinya saya menuliskan ide di sebuah buku catatan, kalau sedang ada ide.

Saya juga percaya bahwa hardwork beats talent. Saya tidak terlalu punya bakat dalam menulis, jadi saya harus bekerja keras untuk mengejarnya.

Iklan

Memandang

Urip iki sawang sinawang

Sebuah pepatah jawa kuno. Berlatihlah memandang dari berbagai sudut pandang. Tempatkan dirimu sebagai dirinya, cobalah memandang dari kacamata mereka. Kamu harus berusaha mengerti.

Ojo dumeh

Jangan mentang-mentang. Jangan memandang rendah orang lain, siapa pun diri kita. Tak peduli pendidikan setinggi apa pun, jabatan sebesar apa pun, ilmu sedalam apa pun, jangan memandang rendah orang lain.

***

Note to self.

Kesal

Saya sedang kesal karena tidak ingat hal sederhana, di saat saya sangat memerlukannya. Di saat sudah ingat, terlambat.

Dan sampai detik ini masih kesal pada diri saya sendiri.

Crap. 😦

Bertambah Umur

Hari ini umur saya bertambah, semakin mendekati kepala 3 dari kiri menurut garis bilangan.

Selama setahun ke belakang, banyak sekali yang terjadi. Banyak. Jalanan yang dihadapi bukanlah jalan tol yang mulus, tapi jalanan off road. Seringkali terhempas jatuh di beberapa tempat. Untunglah selalu ada tangan-tangan yang terulur membantu atau ada telinga untuk mendengar. Terima kasih banyak teman-teman.

Tentang harapan, saya tak berharap banyak, cukup semoga apa yang saya cita-citakan dan perjuangkan tercapai. Entah itu tentang karir, jodoh, rezeki, atau yang lain. Mereka sudah ada yang mengatur, tinggal diusahakan dan berdoa.

Saya sudah tak peduli lagi tentang kapan. Yang jelas, saya sudah menerapkan ke diri sendiri untuk tidak bertanya hal-hal seperti itu ke orang lain. Saya belajar bahwa dengan tidak bertanya tentang hal-hal sensitif berarti juga tidak menambah beban mereka. Life is tough already.

Untuk hari ini, meskipun belum banyak, terima kasih untuk doa-doa yang dipanjatkan, terima kasih untuk ucapan-ucapan yang diberikan, dan terima kasih untuk harapan-harapan yang disampaikan. Semoga doa-doa itu didengar dan dikabulkan oleh Yang Maha Bijaksana.

Masih banyak hal yang perlu dan ingin saya pelajari, masih banyak tempat yang belum saya pijak, masih banyak orang yang belum saya temui, masih banyak tujuan yang saya perjuangkan.

Semoga saya diberi kekuatan untuk menghadapi semuanya. 🙂

Can You Unlearn How to Ride A Bike?

Pertanyaan yang cukup menarik.

Bisakah kita melupakan cara naik sepeda?

Salah satu life skill yang kita pelajari waktu kecil: bersepeda. Ajaibnya, sejarang apa pun kita naik sepeda, kita tidak pernah lupa bagaimana caranya.

Ternyata, ada yang membuktikan bahwa kita bisa “melupakan” atau “dengan sengaja lupa” cara naik sepeda.

Simak video ini.

Destin, sang pembuat video melakukan eksperimen yang sangat menarik. Mencoba belajar naik sepeda, yang apabila kemudinya ke kiri maka roda bergerak ke kanan, demikian pula sebaliknya.

Hingga 8 bulan dia berlatih sampai akhirnya bisa mengendarainya.

Setelah itu, dia mencoba kembali naik sepeda biasa. Apa yang terjadi? Tidak bisa, dia lupa caranya.

Woh menarik. Bagaimana dengan life skill lain? Bisakah kita unlearn berenang misalnya?