Parkir ITB

Seorang teman saya memposting tentang harga parkir baru di kampus ITB. Beginilah tarif barunya.

14225505_10209791012187217_6813546393503571464_n

Manajemen parkirnya juga berganti, dari ISS menjadi Auto Parking.

***

Kejadian ini bukanlah kejadian baru, tahun 2011, saya ingat betul pergantian manajemen parkir dari KKP-ITB ke ISS. Bahkan motor saya menginap di kampus waktu kejadian pergantian manajemen, kemarin masuk petugas parkirnya siapa, keluar petugas parkirnya siapa lagi.

Waktu itu kontroversi juga, tarif naik dari Rp 1000 per parkir menjadi Rp 1000 per hari. Tapi kontroversi waktu itu lebih kepada bagaimana nasib pegawai parkir KKP dibanding tarifnya.

Mas-mas parkir KKP akhirnya ditempatkan di beberapa unit Koperasi Karyawan dan Pegawai, kalau masih sering mampir di KKP ATM Center saya masih sering melihat Mas-mas yang dulu sering jaga di parkir belakang – yang kini sudah tiada – menjadi kasir di sana.

Beberapa tahun kemudian, saat saya mulai kuliah S2. Skema tarif ISS berubah, tanpa ada pemberitahuan. Tidak ada angin tidak ada hujan, boom, parkir jadi Rp 2000/hari kecuali untuk sejam pertama, cukup Rp 1000.

Protes pun ada di mana-mana, tapi ya tak didengarkan. Tarif tetaplah tarif.

***

Apa yang menjadi penyebab harga naik parkirnya?

Ini sepanjang yang saya tahu, kalau ada yang bisa meluruskan, silakan. Parkir di ITB itu dikelola oleh pihak swasta, bukan dari kampus sendiri. Bagaimana menentukan siapa yang berhak mengelola? Lelang.

Pada waktu kejadian 2011, KKP-ITB, pengelola sebelumnya juga ikut dalam lelang. Hanya saja, KKP-ITB kalah dalam lelang itu. Kenapa? Menurut beberapa sumber yang waktu itu saya baca, karena ISS menawarkan penghasilan yang lebih besar dengan pengeluaran yang kurang lebih sama.

Pendapat saya, ya, iyalah. Kalau skema parkir diubah dari per masuk jadi per hari, jelas akan menambah laba pengelolanya. Pengeluaran untuk pengelolaan tidak akan beda jauh, karena tidak akan ada perubahan signifikan dari sistem parkirnya bukan?

Jam 9 pagi parkir tetap penuh, jam 5 sore antrian keluar masih mengular.

***

Lompat 5 tahun, ke sekarang. Kejadian lagi. Kali ini sistem parkir berubah dari per hari jadi per jam. Ganti manajemen.

Apapun alasan lain yang diajukan, saya merasa ini memang soal bisnis. Siapa yang memberi lebih besar, yang menang.

Same old story, huh? Setelah kontrak Auto Parking habis, bersiaplah akan ada skema parkir dan tarif baru lagi. Per menit, mungkin.

***

Saya bukan lagi mahasiswa ITB, jadi saya tak terlalu merasakan akibat langsungnya. Tapi mungkin untuk para mahasiswa ITB, beberapa ide saya. Khususnya untuk yang naik motor:

  • Parkir di Saraga. Walaupun tidak bisa menginap, tarif parkirnya flat. Terakhir kalau tidak salah Rp 2000. Terowongan ke kampus masih bisa dimanfaatkan kan?
  • Parkir di Unpad Dipati Ukur. Bisa menginap, tarif flat Rp 1000. Jalan kaki atau naik angkot dari Unpad Dipati Ukur,
  • Mungkin bisa dibandingkan tarif parkir di RS. Borromeus dan di Balubur Town Square,
  • Parkir di Annex,😛
  • Menggunakan angkot,
  • Menggunakan sepeda,

Untuk yang terakhir, sepeda adalah barang yang paling sering dicuri di kampus. Entah berapa sepeda teman saya yang hilang selama kuliah di ITB.

***

Update:

Ternyata protes para mahasiswa membuahkan hasil. KM-ITB berhasil melakukan negosiasi ke rektorat. Tinggal lihat bagaimana hasilnya. Patut diapresiasi.

CrUSdNsUAAAUr7B

Well, setidaknya saya masih bisa pakai opsi ITB untuk menitipkan motor kalau bepergian.😛

2 thoughts on “Parkir ITB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s