Pengalaman Naik Trans Metro Bandung

First warning: akan banyak rant di sini.

***

Berawal dari obrolan kecil dengan Ira, pengguna setia Trans Metro Bandung koridor 3. Katanya bisnya bagus dan selalu berhenti di halte saja. Saya penasaran. Okay, baiklah, mari kita coba merasakan naik semua koridor, dari ujung ke ujung. Sekalian jalan-jalan, weekend kemarin, hari Sabtu dan Minggu.

Mari kita mulai ceritanya.

Tentang Informasi

Tentu saja yang pertama dilakukan adalah mencari informasi tentang rutenya bukan? Baiklah, saya googling, harus mulai dari halte mana, rutenya ke mana saja, harga tiketnya berapa, petanya kaya apa.

Daaan, nihil. Tidak ada website resmi seperti Trans Jakarta atau beberapa orang baik yang berinisiatif mendokumentasikannya dengan baik seperti Trans Jogja.

Ketika saya di Jakarta, saya terbantu sekali dengan peta halte per halte di website resminya. Di Jogja saya terbantu sekali dengan informasi dari yogyes.com – dan petugas di haltenya sangat membantu.

Yang paling membantu justru ada di link transportasiumum.com. Meskipun hanya jalan ke jalan, belum halte per halte, tapi tetap harus diapresiasi. Terima kasih!

Baiklah, ke halte terdekat. Paling dekat dari saya adalah halte Cikapayang, dekat Annex, saya berharap di sana ada informasi apa lah ditempel di dindingnya. Tapi …

Okay, gak ada, baiklah. Let me do this myself: Rute Lengkap Trans Metro BandungCurse you!

Tentang Halte

Saya mampir di beberapa halte, Halte Cikapayang 1 dan PHH Mustofa 3 di koridor 3, Halte Perintis Kemerdekaan di koridor 2, dan Halte LPKIA di koridor 1.

Keadaan halte Cikapayang: ada beberapa kaca dan keramik lantai yang pecah, tidak ada papan informasi, seperti bangunan tak terawat. Beruntunglah masih ada petugas yang menjual tiket. Tarifnya Rp 3000 untuk umum dan Rp 1500 untuk pelajar berseragam. Harus dibeli dengan uang tunai, dan kita akan diberi karcis.

850617137_30065_11034131412723286857
Karcis TMB

Tradisional sekali? Hoho, tunggu dulu, ini hanya ada di halte-halte koridor 3. Yang lain? Simaklah ceritanya.

Saya mampir sejenak ke Bandung Book Center, beli buku sebentar, jadi singgah dulu di halte PHH Mustofa 3. Keadaan halte PHH Mustofa 3, mirip-mirip dengan halte Cikapayang. Lantai pecah, bangunan penuh debu, beberapa puntung rokok terlihat di lantai, tapi masih ada petugas.

Jadi untuk koridor 3, demikianlah keadaan haltenya. Pada umumnya masih ada petugas penjual karcis di sana.

850617177_32268_500334815777905180
Karcis TMB

Lanjut ke halte di koridor 2. Saya ada singgah di Halte Perintis Kemerdekaan, dekat viaduct kereta api Braga. Keadaannya masih sama, ada petugas, halte tak terawat, tapi masih mending ada tempat sampah.

Bedanya di halte koridor 2 ini, petugasnya adalah petugas yang memastikan bus datang dan berangkat jam berapa, bukan penjual tiket. “Lah, bayarnya gimana Pak?” tanya saya. Beliau bilang bahwa bayarnya di atas bis, ke kondektur. Hmm, apa bedanya ini sama bus kota biasa dong?

Paling parah adalah di halte-halte koridor 1. Begitu sampai halte, yang saya lihat adalah, sampah di situ. Ini halte apa tempat pembuangan akhir? Petugas? Tidak ada sama sekali.

851439054_22821_16213385027186688476
Karcis TMB

Padahal di halte koridor 1 ini ada papan informasi digital pakai LED yang canggih. Masih berfungsi pula.

Tentang Bus

Kalau tentang armada busnya, bisa dikatakan sangat bagus. Bus besar, pegangan berdiri di sepanjang bus, kursi saling berhadapan, AC yang berfungsi dengan baik, nyaman sekali. Saya tidak mengeluh sama sekali soal armada busnya.

850514487_133275_5461254988841017257
Karcis TMB

Baiklah, langsung lanjut ke poin selanjutnya kalau begitu.

Tentang Pelayanan

Saya tidak bisa meng-generalisir secara umum untuk pelayanannya, tapi dibagi per koridor. Yang saya rasakan, standar pelayanannya berbeda-beda setiap koridor.

Koridor 3

Koridor 3 adalah koridor yang paling baik pelayanannya. Bus hanya berhenti di halte saja. Dari Halte Cicaheum sampai Halte Sarimanis. Tidak sekalipun penumpang turun sembarangan.

Petugas penjual tiket ada di setiap halte dari ujung ke ujung. Di atas Bus, kondektur hanya memeriksa tiket yang sudah dibeli, persis seperti ketika naik kereta api. Waktu tunggu bisnya sekitar 15 menit.

Saya juga memperhatikan, ada ibu-ibu yang meminta Bapak Sopir buat berhenti di Padasuka, tempat yang bukan halte, Bapak Sopir dengan sopan menolak dan bilang busnya hanya boleh berhenti di halte. Wah, thumbs up Pak!

Koridor 2

Sepanjang perjalanan dari Cicaheum ke Cibereum, halte yang berfungsi untuk tempat naik dan turun penumpang hanya halte Cicaheum dan halte Perintis Kemerdekaan yang saya sebut tadi.

Di koridor ini penumpang bisa naik dan turun di mana saja, tidak peduli halte atau bukan. Bayar juga di atas bus.

Saya sempat berbincang dengan petugas di Halte Perintis Kemerdekaan, karena saya sempat bingung, ada Bus Biru yang lewat tapi tidak berhenti di halte, menaikkan saya? Ternyata yang lewat adalah Bus DAMRI, dengan rute yang sama persis. Cicaheum – Cibeureum, dengan jalan-jalan yang dilewati sama pula.

850516352_34670_4297945405467199462
TMB vs DAMRI, Rute sama persis, pelayanan sama persis

Lah, apa bedanya dong? Satunya berhenti di halte saja satunya di sembarang tempat? Tidak juga, di bus yang saya naiki, penumpang naik dan turun di mana saja.

Untuk bus DAMRI, katanya akan ada ujicoba bus hanya boleh berhenti di halte. Tapi dari pengalaman saya naik kemarin pun, tidak hanya di halte. Oh ya, halte DAMRI dan halte TMB beda loh. Jadi bisa jadi ada dua halte dalam jarak yang sangat dekat, bahkan bersebelahan.

Halte DAMRI Lembong dan Shelter TMB Lembong ini misalnya. Dulu di kantor, ini adalah jalur saya tiap berangkat ke masjid, tidak sampai 2 menit jalan kaki juga.

Screenshot_84
Halte Lembong – Shelter TMB Lembong

Kemarin Bus TMB yang saya tumpangi justru berhenti di Halte Lembong. Laah, ngapain ada dua halte kalau begitu? Ini terjadi juga di Kosambi, ada 2 halte bersebelahan.

Di koridor ini, pembayaran dilakukan ke kondektur. Jadi bukan di loket. Pintu samping bus juga rusak, dan harus masuk lewat pintu depan.😦

Kesimpulan saya di koridor 2 ini: tidak ada bedanya Bus Trans Metro Bandung koridor 2 dan Bus Kota yang dikelola DAMRI.

Pantas saja Pak Petugas Halte Perintis Kemerdekaan bilang sering ada konflik antara keduanya.

Koridor 1

Saya menunggu cukup lama di halte LPKIA yang penuh sampah itu. Ada sekitar 40 menit waktu tunggunya. Bus TMB tak kunjung datang.

Yang datang justru Bus DAMRI, jurusan Elang-Cibiru-Jatinangor. Berhenti di halte tempat saya menunggu.

Kok beda ya? Waktu di Perintis Kemerdekaan, Bus DAMRI terus saja berjalan, tapi waktu di LPKIA berhenti. Ya sudahlah, waktu tunggu yang 40 menit lebih mengecewakan saya.

Jadi saya di koridor 1 naik DAMRI saja. Oh ya, di Jalan Soekarno Hatta ini, ada 3 operator bus, ketiganya akan berhenti di halte yang sama, haha.

  • Trans Metro Bandung koridor 1, Elang – Cibiru,
  • DAMRI trayek 4, Elang – Cibiru,
  • DAMRI trayek 9, Elang – Cibiru – Jatinangor

Saya kebagian yang terakhir. Jadi buat yang ini, review DAMRI saja.

Pembayaran lewat kondektur, kalau sampai Cibiru tarifnya Rp 4000, sampai Jatinangor Rp 8000. Saya cuma naik sebentar di koridor ini.

Walaupun haltenya mengerikan, bus DAMRI yang saya tumpangi cukup canggih lo. Ada rincian halte-halte yang dilewati, terlihat juga halte mana yang berikutnya. Di bagian depan bus juga ada pengumuman, halte berikutnya berapa km lagi.

Bus ini hanya berhenti di halte-halte yang tertulis di bawah.

850619882_29363_3879603357171413093
Sebentar lagi berhenti di Halte Samsat

 

***

Btw, ini jadi koridor 1, TMB-nya belum direview ya. Ini adalah review untuk Bus DAMRI yang kebetulan lewat dan berhenti di rute yang sama. Kalau nunggu TMB, sampai berapa lama saya harus menunggu? Haha.

Kesimpulan

  • Tidak ada informasi jelas tentang rute, halte, tarif, jadwal. Baik secara online (website) atau offline (poster di halte).
  • Halte-halte Trans Metro Bandung umumnya tidak terawat, tidak ada informasi tersedia, beberapa bagian rusak, bahkan ada yang menjadi tempat sampah. Belum lagi di koridor yang belum dibuka seperti yang mangkrak di Jalan BKR ini.
  • Di koridor 3, tiket harus dibeli di halte. Bus hanya berhenti di halte saja. Sopir bahkan mampu menolak penumpang yang ingin turun di sembarang tempat.
  • Di koridor 2, tarif dibayar di atas bus ke kondektur, penumpang bisa naik dan turun di sembarang tempat.
  • Di koridor 1, waktu tunggu yang saya alami cukup lama, tapi ada 2 rute bus DAMRI yang siap melayani untuk menelusuri jalan Soekarno Hatta.
  • Belum ada metode pembayaran lain selain cash.

Penutup

Quote petugas halte PHH Mustofa 3, untuk ini saya setuju banget:

Harusnya Pak Walikota teh jangan cuma membangun taman di sana dan di sini, angkutan umum harus dibenahi. Masa Trans Metro Bandung sama DAMRI bisa berhenti di mana saja? Buang uang dong bangun Shelter sama Halte, gak usah ada aja.

Ini halte jadi udah rusak gini, baru setahun dibangun padahal, gara-gara gak pernah dipakai.

*…*

Sama gimana caranya biar orang-orang mau naik kendaraan umum. Sekarang harga motor murah, DP 500 ribu udah dapat, bikin macet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s