Kisah di Bulan Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang haram untuk berperang. Perjanjian di daerah Arab sewaktu itu. Tiga bulan lain yang tak boleh dipakai berperang adalah Dzulhijjah, Dzulqa’dah, dan Muharam.

***

Zaman Nabi, tahun 2 Hijriah, bulan Rajab.

Abdullah bin Jahsy diperintahkan Nabi Muhammad melakukan perjalanan melalui sebuah surat. Surat itu tidak boleh dibuka sebelum dua hari perjalanan.

Abdullah bin Jahsy pun melakukan perjalanan, setelah dua hari, surat pun dibuka. Perintahnya adalah lanjutkan perjalanan sampai Nakhlah, sebuah kota antara Mekkah dan Thaif, dan awasi kaum Quraisy yang ada di sana.

Sesampainya di Nakhlah, rombongan Abdullah bin Jahsy bertemu dengan rombongan karavan kaum Quraisy, yang dipimpin oleh Ibnu Al-Hadhrami.

Rombongan Ibnu Al-Hadhrami membawa karavan, yang berisi penuh makanan dan barang-barang. Jika dibiarkan lewat, besok mereka akan mencapai Madinah, tapi jika diperangi, rombongan Abdullah bin Jahsy melanggar perjanjian tentang bulan haram.

Abdullah bin Jahsy dan rombongan memutuskan untuk memerangi mereka. Bahkan dengan intrik, meminta salah satu anak buahnya menggunduli rambutnya agar rombongan Ibnu Al-Hadhrami mengira rombongannya adalah rombongan umrah.

Benar saja, rombongan Ibnu Al-Hadhrami tidak curiga sedikit pun, mengira rombongan Abdullah bin Jahsy adalah rombongan umrah. Dengan santai mereka menyiapkan makanan untuk bekal melanjutkan perjalanan.

Saat itu lah, Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawan menyerang mereka. Salah seorang anak buah Abdullah bin Jahsy melepaskan busur panah yang menewaskan Ibnu Al-Hadhrami. Dua orang anak buahnya ditangkap, dan seorang sisanya berhasil meloloskan diri.

Karavan mereka dan isinya diambil, selaku harta rampasan perang.

Kaum Quraisy, setelah kejadian ini, tentu saja marah besar. Mereka menganggap kaum muslimin telah melanggar perjanjian tidak berperang di bulan haram.

Memang, tak bisa dipungkiri, Abdullah bin Jahsy berperang di bulan haram.

***

Nabi Muhammad, mendengar kabar itu, tidak bisa dibilang senang. Beliau tidak mau menerima harta rampasan perang itu karena perang dilakukan di bulan haram.

Lalu turunlah ayat, Al-Baqarah 217:

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS 2:217)

Ayat ini, pada dasarnya mengatakan “Yang dilakukan oleh Abdullah bin Jahsy itu salah, tapi yang dilakukan kaum Quraisy lebih salah lagi.”

Fitnah (perilaku kaum Quraisy) lebih kejam dari pembunuhan (yang dilakukan Abdullah bin Jahsy dan rombongan).

Jadi two wrongs make a right? Apakah ayat ini merupakan pembenaran tindakan Abdullah bin Jahsy?

Kaum muslimin di Madinah tampaknya tak terlalu mempermasalahkan itu, mereka justru bertanya-tanya, apakah Abdullah bin Jahsy memperoleh dosa besar atau pahala atas tindakannya itu? Sehingga turunlah surat Al-Baqarah 218:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 2:218)

Yang jelas, Abdullah bin Jahsy masuk dalam ketiga syarat yang disebut di surat itu.

Dan setelah kedua ayat itu turun, Nabi Muhammad menerima bagian beliau dari harta rampasan perang itu.

***

Dan kisah ini menyisakan pertanyaan-pertanyaan besar di kepala saya.

Apakah tindakan melanggar perjanjian itu bisa dibenarkan begitu saja? Apakah bila salah satu pihak melakukan kesalahan yang lebih besar, kesalahan lain yang dilakukan oleh pihak lain bisa dibenarkan?

Yang jelas tindakan Abdullah bin Jahsy, bukanlah salah satu tindakan yang saya sukai.

Tapi Allah berfirman, persis sebelum ayat 2:217, di ayat 2:216

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2:216)

Kapan saya harus tahu bahwa sesuatu yang saya benci adalah sesuatu yang amat baik bagi saya? Sebaliknya, kapan yang saya sukai adalah yang buruk?

Tindakan Abdullah bin Jahsy itu yang dibenci tapi amat baik?

Adakah yang bisa menjawab pertanyaan saya?

Ah, ya mungkin sudah terjawab di Allah mengetahui, sedangkan saya tidak. Wallahu’alam.

***

Beberapa sumber yang saya baca: Tafsir Ibnu Kathsir, Asbabun Nuzul surat 2:217-218, dan Nakhla Raid di Wikipedia.

2 thoughts on “Kisah di Bulan Rajab

  1. Kalau dirunut lagi dari sisi Abdullah bin Jahsy:

    1. Tindakan Abdullah bin Jahsy masuk kategori “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar” -> maka Abdullah bin Jahsy mendapatkan dosa besar. Terlebih yang dibunuh rombongan yang tidak mengganggu dia. Tapi bisa jadi yang dibunuh adalah rombongan karavan yang merampas harta kaum Muhajirin yang ditinggal kediamannya di Mekkah.

    2. Abdullah bin Jahsy mendengar ayat tadi bisa jadi takut dan bertobat, karena hukum dari sisi agama tentang berperang di bulan itu bisa jadi belum jelas. Tapi hukum dari melanggar perjanjian bisa jadi sudah ada.

    3. Berdasarkan dari redaksi QS 2:218, terdapat redaksi “… dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”, yang bisa disimpulkan Allah mengampuni seseorang. Mengampuni didahului dengan permintaan ampun, maka Abdullah bin Jahsy bisa disimpulkan meminta ampun sebelum ayat ini turun.

    Adapun berperang hukum awal dasarnya adalah haram jika menilik dari runutan ayat QS 4:77.

    — Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. … (QS 4:77)

    Seingat saya ayat ini mengomentari orang-orang yang hobi kompor-kompor untuk berperang melawan musuh di saat yang seharusnya tidak diperbolehkan berperang. Orang-orang hobi kompor dan yang terkompori ini pun diperingatkan untuk menahan diri dari berperang dan melaksanakan kewajiban normal. Namun, ketika situasi berperang menjadi diwajibkan, orang-orang yang hobi kompor-kompor tadi justru jadi barisan terdepan yang paling takut melawan, dan yang justru yang kena getah kewajiban berperang bisa jadi orang-orang yang disebut di QS 2:216, yaitu orang-orang yang sebenarnya benci berperang.

  2. Namun, ketika situasi berperang menjadi diwajibkan, orang-orang yang hobi kompor-kompor tadi justru jadi barisan terdepan yang paling takut melawan, dan yang justru yang kena getah kewajiban berperang bisa jadi orang-orang yang disebut di QS 2:216, yaitu orang-orang yang sebenarnya benci berperang.

    Ah, jadi itu maksud 2:216.

    Kayanya saya mesti belajar dulu soal 4:77 deh. Haha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s