SuperAyam

Seorang biologis, namanya William Muir, melakukan eksperimen sederhana. Mengembang biakkan ayam. Tujuan percobaannya sederhana, mengukur produktivitas ayam, karena cukup mudah mengatakan ayam “produktif” atau tidak. Cukup dengan menghitung telurnya.

Mula-mula, Muir beternak sekelompok ayam petelur hingga 6 generasi. Setelah itu dia membaginya menjadi dua kandang. Kandang pertama, diisi ayam yang biasa-biasa saja produksi telurnya, kita sebut saja kandang ini “Kandang Ayam”. Kandang kedua, diisi dengan ayam-ayam yang paling produktif jumlah telurnya dari setiap generasi. Sebutlah namanya “Kandang SuperAyam”.

Muir mengamati kedua kandang tersebut, menghitung produktivitas mereka, hingga enam generasi.

Di “Kandang Ayam”, terus produktif mengeluarkan telur. Ayam-ayam di sana sehat, berkembang biak dengan baik, telur-telur yang diproduksinya juga berkualitas prima. Bahkan jumlah telur terus bertambah. Semakin produktif.

Jika sekelompok ayam yang biasa-biasa saja bisa seperti itu, bagaimana dengan SuperAyam? Seharusnya dengan intuisi, “Kandang SuperAyam” akan jauh lebih produktif bukan?

Tidak, di “Kandang SuperAyam” hanya tersisa tiga ayam dari yang mula-mula ditaruh Muir. Sisanya dipatuk oleh mereka bertiga, hingga mati. Apa yang terjadi di sini?

Para SuperAyam ini, menurut Muir adalah ayam-ayam yang sangat kompetitif. Mereka produktif dengan cara membandingkannya dengan ayam lain. Mereka hanya bisa sukses dengan menekan produktivitas ayam lain. Bahkan, pada akhirnya mereka sampai membunuh ayam lain.

***

Super Ayam. Kata seorang teman, “Kebanyakan dari kita juga demikian, bukan? Senang meremehkan orang lain agar dapat terlihat ‘paling’. Menjatuhkan orang lain agar terlihat ‘wah’.”

Seberapa sering kita merasa “paling jago”, “paling pintar”, “paling benar”, “paling hebat”, dan paling-paling yang lain? Seberapa sering rasa “paling” kita ini membuat kita merasa lebih dari orang lain? Seberapa sering kita merendahkan orang lain?

Saya jadi ingat sebuah spanduk yang dahulu selalu dibentangkan di kampus ketika mahasiswa baru tiba. “Selamat datang putra-putri terbaik bangsa”. Para mahasiswanya dipilih dari yang paling baik di antara para siswa SMA. Datang dengan dipuji setinggi langit, menciptakan iklim “SuperAyam”.

Untunglah beberapa tahun terakhir, spanduk itu tak pernah dipasang lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s