Mutiara Selatan

Kemarin saya naik Mutiara Selatan dari Solo ke Bandung. Tentang cerita bagaimana saya masih di Bandung, that’s very long story, some plot twist but happy ending, I will tell later.

Mutiara Selatan, dalam imajinasi saya adalah kereta kelas bisnis yang berangkat jam 5 dari Bandung, kelas bisnis. Zaman kuliah dulu, saya selalu menggunakan kereta ini kalau pulang kampung ke Madiun, rumah nenek. Bahkan pernah saya dan teman-teman mengantri subuh-subuh untuk mendapatkan tiketnya, dan esoknya foto kami ada di headline Pikiran Rakyat!

Minggu malam, dari Solo, saya naik kereta Mutiara Selatan, karena hanya itulah satu-satunya kereta yang tersisa dengan tujuan Bandung. Jadwalnya agak tidak mengenakkan, 23:25 berangkat dan tiba pukul 09:59. Sudah tak ada lagi kelas bisnis di Mutiara Selatan, adanya Ekonomi AC. Downgrade? Kalau menurut saya tidak juga sih.

Kereta penumpang yang dipakai tergolong baru. Sayang saya tidak memperhatikan dan lupa memotret kodenya, buatan INKA mungkin.

(catatan: kita biasanya menyebut dengan “gerbong“, tapi sebenarnya istilah yang tepat untuk yang mengangkut manusia adalah “kereta”, makanya “kereta makan dan pembangkit”, bukan “gerbong makan dan pembangkit”)

Kursi saya 16D, kursi jendela tentu saja. Saat saya masuk, kursinya menghadap belakang. Lah? Diputar pun tidak bisa. Setelah saya perhatikan memang kursinya posisinya fixed, tidak bisa diputar.

photo304996996923632061

Jadi semua kursi menghadap ke layar TV yang di tengah-tengah itu. Tidak bisa diubah lagi. Saya sih tidak terlalu masalah, karena biasanya saya naik Harina, di mana setengah perjalanan dihabiskan dengan “mundur”.

Di tengah-tengah, kursi saling berhadap-hadapan, dan sisanya mengikuti arah kursi yang di depannya. Kursi bernomor 11 dan 12 adalah yang berhadap-hadapan. Tinggal tambah meja dan papan catur saja sepertinya akan seru.

photo304996996923632065

Soal kursinya, masih cukup tegak, wajar untuk ukuran kereta kelas ekonomi, tapi tidak setegak kalau naik kereta Kahuripan atau Pasundan.

Untuk fasilitas yang diberikan, tak seperti kereta eksekutif, tidak ada bantal dan selimut gratis. Keduanya harus disewa dari restorasi. Colokan untuk charging tentu saja ada, selalu menyenangkan memang naik kereta api setelah ada fasilitas ini.

Fasilitas yang baru saya lihat adalah, ada cup holder di sandaran kursi depan kita duduk. Sepertinya cukup nyaman untuk meletakkan secangkir teh atau kopi panas. Bisa dilipat dan tidak terlalu makan tempat.

photo304996996923632069

Selain itu ada juga display panel dengan LED Dot Matrix (haha), yang menampilkan stasiun berikutnya yang akan disinggahi. Ketika kereta menuju Kroya misalnya, akan tertulis “Menuju Kroya”. Ada juga temperatur, jam, dan nomor kereta.

photo304996996923632066

Singkat cerita begitulah pengalaman saya naik Mutiara Selatan yang baru. Jadwalnya bukan lagi jam 5 sore dari Bandung dan kelasnya bukan lagi kelas bisnis. Mungkin saya harus mengubah mental image saya tentang kereta ini.

Overall, saya cukup puas naik kereta ini, meskipun jadwalnya tidak mengenakkan kalau dari Solo.

6 thoughts on “Mutiara Selatan

  1. ngeliat kursinya, kupikir eksekutif loh, ternyata ekonomi. Tumben bukan jenis kursi tegak 90 derajat yang keras😄

    btw congratulation for the happy ending Iwan!!

  2. Udah nyoba juga naik KA Mutsel yg baru ini. Bagus sih interiornya. Kelihatan lebih bersih daripada kereta sebelumnya. Salut sama ide nambahin dudukan gelas itu. Tapi agak kecewa. Legroom-nya lebih sempit. Buat perjalanan Bandung-Surabaya 14 jam, lumayan pegel sih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s