Solusi Masalah

Saya pernah membaca sebuah postingan di reddit, alkisah ada seorang yang bekerja sebagai costumer service sebuah maskapai penerbangan yang melayani komplain di bandara. Kebetulan beliau bekerja di maskapai yang sering bermasalah, kalau di Indonesia ekuivalen dengan singa udara.

Tentu saja pekerjaan itu membuatnya harus menghadapi orang-orang yang marah setiap hari. Komplain tentang delay, bagasi hilang, pelayanan tidak baik, toilet pesawat pesing, hingga makanan setengah basi. Bayangkan menghadapi orang marah setiap hari!

Akibatnya tekanan darahnya seringkali naik, menghadapi orang-orang seperti itu bukanlah hal yang mudah. Perlu kesabaran super besar. Namun, setiap orang pasti punya batas-batas kesabarannya. Dia stres, mudah marah, sering pusing, dan sudah mulai bersiap untuk mengundurkan diri dari si maskapai.

Suatu hari, kursi tempat dia duduk biasanya rusak. Kaki kursinya patah sehingga tidak bisa dipakai untuk duduk lagi. Di hari itu, dia tidak menemukan kursi lain, dan kantornya menjanjikan akan membeli kursi baru esok harinya.

Tapi tentu saja tidak mungkin dia terus berdiri di hari itu bukan? Kebetulan di bandara ada kursi roda menganggur. Dipakainya kursi roda itu untuk bekerja di hari itu.

Seperti biasa, pesawat maskapai pun lalu lalang dan beberapa masalah terjadi. Delay dan bagasi hilang selalu menjadi masalah utama. Orang-orang pun datang ke meja layanan pelanggan seperti biasanya, bersiap untuk melampiaskan kemarahan.

Namun, melihat sang pelayan menggunakan kursi roda, seketika amarah para pelanggan hilang. Alih-alih menyampaikan komplain dengan marah-marah, mereka menyampaikannya dengan lemah lembut. Sang pelayan pun heran dengan sikap orang-orang itu.

Keesokan harinya ia kembali bekerja, kursi baru sudah ada, tapi dia tidak menggunakannya. Ia tetap menggunakan kursi roda, reaksi pelanggan masih seperti kemarin. Tidak menunjukkan amarah.

Selang beberapa waktu, ia tak lagi stres, tekanan darahnya kembali normal, pusing jarang menghampirinya. Ia tak lagi berniat untuk resign.

Terkadang solusi masalah kita tidak harus yang rumit dan tak harus dicari. Ada kalanya ia datang sendiri. Untuk costumer service tadi, solusi yang dia temukan sederhana sekali, mengganti kursi kerjanya dengan kursi roda. Itu pun datang karena kursi yang biasa dia pakai rusak.

Prokrastinasi

Menunda-nunda pekerjaan adalah salah satu kebiasaan buruk saya, mungkin juga semua orang. Saat ini saya sedang mengerjakan pekerjaan yang seharusnya bisa saya selesaikan seminggu lalu, separah-parahnya tiga hari yang lalu. Tapi terus ditunda, dan kini di sini lah saya. Bahkan saya sudah membeli waktu tambahan dengan mengulur deadline.

Sebenarnya yang paling susah adalah melawan inersia. Dari “nanti, besok, dan lusa” menjadi memulai mengerjakannya. Setelah memulai pekerjaan, entah bagaimana saya selalu dalam mood untuk mengerjakannya. Sebaliknya bila belum mulai, otak nanti saya bekerja dengan baik.

Saat menunda-nunda, ada saja yang bisa saya lakukan. Membuka reddit, media sosial, Quora, menulis blog, makan, ngemil, berlatih bermain Rubik’s Cube, tidur siang, membaca buku, menonton video di Youtube, dan banyak lagi. Apa pun yang tak berhubungan dengan pekerjaan yang seharusnya saya lakukan terasa lebih indah. Seperti ada di taman berbunga-bunga, di cuaca yang cerah dengan awan putih berlarian di atas sana.

Sekejap waktu berlalu, lalu seolah ada truk trailer menghantam saya yang sedang di taman imajinasi tadi. Deadline sudah dekat, dan saya pun panik. Aaargh. Sambil mengutuk-ngutuk diri sendiri, saya pun memulai mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. Sambil merasa bersalah, “Kenapa tidak dari tadi? Apa saja yang kamu lakukan kemarin?”

Prokrastinasi berarti berharap kemudahan datang sebelum kesulitan. Terbalik. Inna ma’al usri yusra. Sesungguhnya setelah kesulitan datang kemudahan. Diulang lagi di ayat berikutnya. Benar-benar ditekankan. Dengan menunda-nunda pekerjaan, berarti kita juga menunda-nunda kesulitan, yang membuat kemudahan juga akan datang belakangan.

Tapi memang susah memulai mengerjakan sesuatu. Mungkin memang fitrah semua benda di dunia ini. Pernah bertanya-tanya mengapa koefisien gesek statis selalu lebih besar dari koefisien gesek dinamis? Menggerakkan benda yang diam jauh lebih susah daripada menggerakkan benda yang sudah bergerak.

Ironisnya, tulisan ini dibuat saat saya seharusnya mengerjakan pekerjaan yang lain yang saya tunda. Baiklah, mari mulai.

Belajar Hingga Bisa

Seringkali saya membaca suatu konsep, rumus, algoritma, atau paragraf kemudian tidak mengerti. Berulang kali membaca, tetap tak mengerti. Tapi saya selalu yakin bahwa pada suatu saat di masa depan, saya mengerti. Hanya soal waktu saja.

Yakinlah bahwa kita diberi anugerah yang sangat besar oleh Tuhan, kemampuan untuk belajar. Bahkan Dia menjadikan manusia pemimpin di muka bumi karena kemampuan belajarnya. [2:30-31]. Pemberian yang harus kita syukuri.

Semua orang bisa belajar, belajar apa saja yang dia minati. Ini bukan masalah bakat atau talenta, hanya soal bekerja keras dan waktu.

Kalau kita merasa kesulitan untuk belajar, tengoklah dahulu sewaktu kita kecil. Kita belajar bahasa, belajar berjalan, belajar naik sepeda, dan mungkin untuk sebagian orang, berenang.

Pernahkah mencoba belajar bahasa asing? Kalau pernah tentu tahu betapa susahnya belajar bahasa. Grammar, tenses, grammatical gender, irregular verbs, dan seterusnya. Bayangkan konsep seperti itu pernah kita pelajari di usia di bawah 5 tahun, hingga kita fasih bicara.

Lihatlah orang yang baru pulih dari stroke dan mengikuti terapi untuk kembali berjalan. Betapa susahnya untuk belajar berjalan. Saat kita kecil dahulu, orang tua kita melatih kita berjalan. Ada suatu saat di mana kita jatuh, menangis sejenak, tapi kemudian kita belajar kembali. Pada akhirnya kita bisa berjalan, bahkan berlari.

Saat kita belajar mengendarai sepeda, tentu ada kisah-kisah unik tentang itu. Pernah suatu kali saya kesal sampai meninggalkan sepeda kecil saya di jembatan ujung desa karena tak kunjung berhasil menemukan cara menaikinya. Saya sempat mogok berlatih sampai Om saya menaruh sepeda saya di atas meja ruang tamu sambil memaksa saya untuk berlatih. Tapi tentu saja berakhir dengan saya mampu naik sepeda kecil, sampai sepeda besar dengan baik.

Bahasa, berjalan, dan bersepeda adalah sesuatu yang amat sulit dipelajari. Tapi kita mampu mempelajarinya di usia muda. Seharusnya seiring dengan bertambahnya usia, kita mampu belajar yang lebih kompleks bukan?

Kalau ada yang bilang, anak kecil bisa belajar, tapi orang dewasa tidak, jangan percaya. Lebih butuh waktu iya, tapi tidak bisa adalah omong kosong. Saya belajar berenang di umur 18 tahun, dari tidak bisa sama sekali. Memang tak akan sesempurna ketika belajar ketika kecil, tapi bukan berarti tidak bisa.

Kalau kita belajar sesuatu dan tak kunjung mengerti, berilah waktu, seminggu, sebulan, dua bulan, atau bahkan hitungan tahun. Percayalah, suatu saat nanti, kita akan mengerti.

Lingkaran Setan

Lingkaran setan adalah beberapa kegiatan atau keadaan yang kita berulang-ulang terus melakukannya.

Para mahasiswa di tingkat awal biasanya terjebak pada lingkaran kuliah, unit mahasiswa, kamar kos, dan warung sebelah.

Para mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi atau tugas akhir terjebak pada siklus tidak ada progres, tidak bimbingan, takut bertemu dosen, dan akhirnya tidak ada progres kembali.

Karyawan baru menerima gaji, membeli segala macam barang yang tak perlu, kehabisan uang, kembali lagi menerima gaji. Akibatnya, tak ada uang yang mampir di tabungan.

Karyawan yang tak betah di tempat kerjanya merasa butuh uang, tetap bekerja di sana, bekerja tak maksimal, konflik dengan atasan, dan akhirnya kembali ke tak betah di tempat kerjanya.

Perlu tekad yang kuat untuk keluar dari lingkaran setan ini. Tapi mengumpulkan tekad pun adalah lingkaran setan. Berniat mengumpulkan tekad, tekad tak kunjung datang walau sedikit, akhirnya tak lagi ada tekad. Begitu seterusnya.

Saya teringat pada kisah balapan kelinci dan kura-kura. Lingkaran setan ini persis tingkah laku kelinci dalam kisah ini. Merasa jauh di depan, kelinci berhenti melaju. Saat sudah tersusul dan kura-kura sudah di depan, kelinci pun meremehkan karena merasa pasti mampu menyusulnya. Saat sudah panik, barulah dia berlari lagi, itu pun kembali pada kelinci merasa jauh di depan.

Bagaimana dengan kura-kura? Ia tidak pernah terjebak pada lingkaran-lingkaran itu. Apa pun yang terjadi, dia terus melaju. Sejengkal demi sejengkal. Setiap waktu, ia lebih maju dibanding pada waktu sebelumnya. Tak peduli seberapa jauh, progres adalah progres.

Siapa yang menang pada akhirnya? Kura-kura.

Untuk para mahasiswa tingkat akhir, sekedar menuliskan kata pengantar adalah progres, satu atau dua kalimat adalah progres, bertemu pembimbing adalah progres, eksperimen yang gagal adalah progres. Sekecil apa pun itu, kemajuan adalah kemajuan.

Untuk karyawan yang selalu kehabisan gaji. Mulailah menabung, sedikit atau banyak, menabung tetaplah menabung. Itu juga sebuah progres.

Bagi mereka yang sudah tak lagi betah di kantor, mulailah bicara dengan manager, menulis surat pengunduran diri, merencanakan apa yang dilakukan ke depan.

Jangan terjebak dalam lingkaran setan!

Die Twice

You only live once, but you will die twice. The first is when you really die, and the second is when people no longer remember and mention your name anymore.

There are people who only die once.

One who remembered because their kindness, their givings, and their contributions to the world. The ones who we call a hero.

The other is the villains whom remembered for their evil conducts, their wrongdoings, and their crime.

The best people is who only die once for their kindness.