Koin

Beberapa waktu lalu celengan koin saya penuh. Saya bingung harus diapakan. Sebenarnya ini masalah sejak zaman dahulu kala. Pokoknya ketika sudah penuh saya bingung mau diapakan.

Maka, setelah saya memikirkan 10 ide agar koin ini efektif dimanfaatkan, saya menemukan beberapa cara yang bisa membuat koin-koin ini bermanfaat. Here we go.

a. Ditabung di bank. Caranya mudah saja, selotip uang koin itu tiap 10. Lima ratusan sepuluh diselotip jadi lima ribu, dan seterusnya. Hitung dan beri label jumlahnya. Kemudian tinggal datang ke Teller. Kebetulan di bank tempat saya menyimpan uang, BNI, koin itu tidak dihitung kembali. Mereka menggunakan sistem “jaminan”. Saya meninggalkan nomor telepon, nanti kalau uangnya kurang atau lebih saya akan dihubungi. Hanya saja menyelotipnya adalah tedious and boring task.

b. Ditukarkan. Uang kertas tak seribet uang koin, dia bisa masuk dompet. Terutama bagi yang laki-laki yang dompetnya dilipat dan ditaruh di saku belakang celana, uang kertas jauh lebih nyaman. Ada beberapa merchant yang melayani penukaran uang koin. Yang saya tahu adalah Toko Istek Salman, sebuah mini market milik Masjid Salman ITB.

c. Didonasikan. Di depan mini market semacam Indomaret atau Alfamart biasanya ada kotak amal. Diberikan ke panti asuhan atau lembaga sosial lainnya. Untuk receh yang kecil sekali semacam 50 atau 100 rupiah, saya lebih suka untuk langsung memasukkannya ke sana. Nantinya tidak akan merepotkan saya, dapat pahala sedekah pula. Sedikit-sedikit tak apa. Yang penting kontinu.

d. Dibelanjakan untuk barang-barang kecil. Untuk barang-barang kecil kebutuhan sehari-hari yang harganya tidak seberapa. Indomie, sabun mandi, pasta gigi, shampo sachet, pulpen, tisu saku, semua masih terjangkau dengan menggunakan uang receh.

e. Ditaruh di bagasi motor untuk beli bensin. Saya kemarin kepikiran, bagaimana kalau uang-uang receh yang sudah saya selotip seperti di poin (a) itu saya taruh di bagasi motor. Sekali isi bensin saya biasanya menghabiskan Rp 20.000. Dengan adanya recehan yang sudah diselotip di bagasi motor, saya tak perlu mengeluarkan uang dari dompet. Setidaknya saya tidak merasa mengeluarkan uang.

f. Membayar parkir. Harga parkir sepeda motor sekitar 1000 rupiah hingga 2000. Begitu ada koin langsung dikeluarkan. Simpan 1000 dan 2000 yang kertas, karena menyimpannya lebih mudah.

g. Ditaruh di mobil. Mobil adalah target atau sasaran para penerima gaji jalanan. Pengamen, Pak Ogah, tukang “tambal lubang” jalan, pengemis, tukang parkir liar, dan masih banyak lagi. Dibutuhkan uang receh untuk meminimalisir pengeluaran. Kadang-kadang mereka diberi 5000, bukannya kembalian yang kita terima, tapi hanya ucapan terima kasih.

h. Dipakai kerokan. Oh wellit should says all right? Koin paling enak untuk kerokan yang keluaran sekarang adalah uang koin 1000 rupiah putih. Haha.

i. [Obsolete] Dipakai di telepon umum. Dulu di zaman saya masih SD, beberapa blok dari rumah saya ada telepon umum. Bersebelahan, satu menggunakan kartu telepon yang berlubang sesuai dengan sisa pulsanya dan bisa untuk panggilan interlokal, dan satu lagi telepon umum koin, hanya bisa untuk panggilan lokal. Dulu 100 rupiah bergambar wayang bisa mendapat 3 menit bicara, selang beberapa saat, harganya naik menjadi 100 rupiah per menit.

Dulu sempat kepikiran bagaimana kalau koinnya dilubangi dan diberi benang, bisakah kita telepon unlimited? Saya coba betulan, ternyata tidak bisa, koin berlubang yang sudah saya tali benangnya langsung masuk ke tempat kembalian, haha. Padahal susah melubangi koinnya.

j. Tetap disimpan. Harga celengan baru plastik yang termurah hanya sekitar 3000 rupiah, salah satu opsi yang baik adalah beli celengan baru. Ingat filosofi menabung sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Paman Gober saja bisa kaya dengan menyimpan uang koin!

***

Ada ide lagi?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s