After the Prophet (Part 1)

After the Prophet [by Lesley Hazleton] | Goodreads 4.06/5

6533039

Buku ini hasil khilaf saya di Kindle App. Itu tombol “Beli” ditambah nomor kartu kredit tertera di akun, sungguh berbahaya. Nah, setelah berlatih membaca di device android – tablet dan hape, saya menemukan setting yang cukup enak untuk dibaca. Background hitam dan tulisan putih, atau background hijau muda dan tulisan hitam.

***

Buku ini dikarang oleh Lesley Hazleton, seorang Yahudi. Kemudian beliau juga membanding-bandingkan sumber-sumber Sunni dan sumber Syiah. Tapi pada akhirnya saya pribadi menyimpulkan bahwa penulisnya lebih condong mengambil sudut pandang Syiah sebagai acuan.

So, kalau salah satu dari pembaca ada yang menganggap sesuatu dari “Yahudi” dan “Syiah” itu selalu salah, stop reading, it will be pointless from here.

Buku ini bermaksud mengisahkan apa yang terjadi di saat-saat terakhir Rasulullah dan huru-hara yang terjadi setelahnya. Dari hilangnya kalung Aisyah, saat-saat terakhir Rasulullah, penunjukkan Abu Bakar, sampai terakhir kejadian Hussein vs Yazid di Karbala.

Saya lebih banyak menyisakan tanda tanya daripada “Oh” setelah membaca buku ini.

[1] Tanda tanya pertama – Aisyah dan Ali.

Hazleton memulai cerita dengan hilangnya kalung Aisyah di tengah gurun. Dari sana lah semua cerita bermula. Di buku ini tidak diceritakan bahwa kejadian ini adalah azbabun nuzul bolehnya tayammum, tapi diceritakan bahwa Aisyah tertinggal dari rombongan ketika mencari kalungnya yang hilang.

Setelah menyadari bahwa ia tertinggal dari rombongan, beberapa saat kemudian Aisyah bertemu dengan Safwan yang mengantarkannya dengan unta ke Madinah. Dari sini, timbul gosip sana-sini yang tidak mengenakkan untuk Aisyah. Termasuk di dalamnya gosip adultery, hingga Aisyah “dipulangkan” ke rumah ayahnya, Abu Bakar.

Cerita selanjutnya membuat tanda tanya besar pertama di pikiran saya, disebutkan bahwa Ali menyarankan Rasulullah untuk menceraikan Aisyah. “Benarkah?” langsung terlintas di pikiran saya. Heck, setelah mengecek sana-sini, saya tak menemukan Hadits dari sumber Sunni yang menyebutkan ini. Atau ada? Help me?

Cerita lain tentang Ali dan Aisyah diceritakan juga di buku ini, bahwa suatu kali, istri-istri Rasulullah yang lain cemburu karena menganggap Aisyah terlalu difavoritkan. Salah satu dari mereka kemudian meminta Fatimah (istri Ali dan putri Nabi) untuk “menegur” Rasulullah. Tapi Rasulullah balik menegur Fatimah dengan kata-kata, “Apakah engkau tidak mencintai apa yang aku cintai?”. Fatimah pun sakit hati, menangis, dan mengadu pada suaminya. Dari kejadian ini, ada slek antara Ali dan Aisyah. Rivalitas.

Rivalitas Ali dan Aisyah ini menurut Hazleton terus terbawa, hingga Perang Unta (battle of camel) di Basra, sekitar 25 tahun kemudian. Tanda tanya kedua adalah Benarkah ada konflik di antara keduanya?

[2] Tanda tanya kedua – Ghadir Khumm

Salah satu yang tidak boleh terlewat dari sejarah perpecahan Sunni – Syiah tentu saja hadits Ghadir Khumm. Ditulis juga di buku ini.

Sebuah riwayat mengatakan bahwa setelah Haji Wada’, Rasulullah berhenti di Ghadir Khumm dan mengatakan “… man kuntu mawlāhu fa-ʿAlī mawlāh  “.

” … Barangsiapa menjadikan aku sebagai Mawla, maka ‘Ali adalah Mawla-nya juga…”

Hadits ini sahih menurut Sunni, untuk Syiah tidak perlu dipertanyakan lagi, hadits ini lah dasar semua pemahaman mereka, penunjukan Ali sebagai penerus hingga konsep Imamah – yang saya pribadi tidak mengimaninya.

Saya selalu penasaran, bagaimana sebenarnya interpretasi Sunni terhadap hadits ini. Yang saya tahu, hadits ini diinterpretasikan sebagai “penghibur” untuk Ali. Untuk meningkankan kepercayaan diri dan self esteem dari beliau. Tapi kejadian apa yang terjadi hingga membuat Ali perlu “dihibur”?

Ah ya, sedikit OOT, kata Mawla di situ dari triliteral m-w-l, kata dasar dari kata aulia yang kemarin menjadi sebuah keributan karena di Al-Maidah 51 disebutkan artinya sebagai “pemimpin”. Memang pemimpin adalah salah satu artinya, tapi ada puluhan makna lain darinya: “paduka”, “teman dekat”, “sahabat”, “sekutu (hence the word ‘ally’)”, “bawahan”, “baginda”, “kolega”, “rekan kerja”, “wali”, dan seterusnya, masih banyak lagi. Kenapa mereka yang berpolitik itu tidak mengartikan mawla di hadits ini sebagai pemimpin?

Pertanyaan yang lain, untuk Syiah, kalau memang maksud dari Rasulullah menunjuk Ali untuk menjadi penerus, mengapa tidak menggunakan kalimat yang lebih eksplisit? Atau setidaknya menggunakan kata yang jelas-jelas berarti “pemimpin”, misalnya “Amir” atau “Imam“. Kenapa harus “Mawla” yang sangat bergantung dari konteks?

[3] Saat-saat terakhir Rasulullah: Episode kertas dan pena.

Menuliskan pen and paper dalam bahasa Indonesia memang tidak keren.

Tapi diriwayatkan bahwa ketika Rasul sakit parah, pada hari Kamis, beliau meminta kertas dan pena untuk menuliskan sesuatu (tanda tanya kecil: um, beliau tidak buta huruf dan bisa menulis? atau akan mendiktekan sesuatu?). Beliau berkata bahwa dia akan menuliskan pernyataan yang mencegah Islam dari kehancuran.

Tapi permintaan beliau ditolak oleh Umar, yang mengatakan “Kitab Allah (Quran) cukup bagi kami.” Tapi beberapa sahabat yang lain mendebat beliau sampai terjadi keributan, ada yang mendukung dan ada yang tidak. Sampai akhirnya Rasulullah mengatakan “pergi!” karena keributan itu.

Tentu tanda tanya besarnya adalah “Apa yang hendak dituliskan/didiktekan Rasulullah sebenarnya?“. Mungkin pertanyaan yang tak akan terjawab hingga kapan pun.

***

Tapi saat itu, ayat ini sudah turun (Al Maidah: 3)

[…] Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. […]

Ayat yang menyatakan bahwa tentang agama Islam, sudah sempurna saat itu. Apa pun yang dituliskan Rasulullah, tidak akan menambah kesempurnaannya. Mungkin itu lah yang menjadi dasar bagi Umar untuk menolak apa yang diminta Rasulullah.

Setidaknya itu lah sudut pandang Sunni yang saya tahu.

***

Sudut pandang lain tentu saja dari sekte satunya, Syiah. Yang menganggap bahwa ini adalah ketidaktaatan Umar kepada Rasulullah, sekaligus melanggar QS Al-Hashr ayat 7

[…] Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. […]

***

Apa pun itu, setelah itu Rasulullah dalam keadaan tak sadarkan diri hingga akhirnya meninggal dunia. Menyisakan misteri. Misteri dari banyak sekali sudut pandang.

 

*** bersambung ***

Masih panjang ceritanya, dan masih banyak tanda tanya dari saya. FYI, saya sedang ingin belajar sejarah Islam [mulai zaman kenabian, hijrah, khulafaur rasyidin, bani umayyah, bani abbasiyah, hingga Turki Utsmani], dari berbagai buku dan sebisa mungkin dari banyak sudut pandang. Ada referensi?

Banyak sekali cerita sejarah yang menurut pandangan saya tidak masuk akal kalau dilihat dari satu sisi saja. Misalnya, bagaimana bisa bangsa Mongol mampu menaklukkan Bani Abbasiyah tapi tidak mampu mengalahkan Majapahit-nya Raden Wijaya?

No, history is not ‘his story’ written by the winner. It’s written by whoever wrote it. No matter they won or lose. There is always at least two viewpoints about a story. A Belgian historian may say that the Belgium helped Congo in their most difficult times like they said in TinTin Comics, but a Congolese surely view it as collonialism and slavery. Which one is the truth? No one knows unless we invent the time machine, which is impossible.

Iklan

4 pemikiran pada “After the Prophet (Part 1)

  1. Bagian ketiga emang bikin penasaran dari dulu wan.
    Biarlah itu menjadi salah satu kekhawatiran pribadi beliau yang mungkin akan menjadi misteri selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s