Semester Baru, Semangat Baru!

Di kampus ITB, semester baru sudah hampir dimulai, para mahasiswa baru sudah mulai mengikuti OSKM. Mari menyambut semester baru dengan bersemangat!

Sayang, saya sudah tak lagi berkuliah. Tetapi berikut beberapa tips dari saya yang bisa dimanfaatkan (di ITB, mungkin di kampus lain relevan juga):

Internet/Data

Tugas dan Kuliah

Kehidupan Sehari-hari

Transportasi

Semoga bermanfaat!

Yang Gratis di Kampus ITB

Beberapa barang/jasa yang bisa dimanfaatkan secara gratis di kampus ITB dan sekitarnya:

(1) Sarapan pagi KKP

Sarapan ini hanya tersedia kalau ITB sedang tidak libur. Disediakan oleh Koperasi Karyawan dan Pegawai (KKP). Tersedia antara jam 06:00 – 07:00 setiap hari Selasa, Rabu, dan Jumat di dekat gerbang Ganesha. Selama persediaan tentu saja. Berdasarkan pengalaman saya, menunya kira-kira: nasi kuning, nasi uduk, atau nasi ketan dengan srundeng.

Gratis tanpa syarat.

Sarapan KKP
Sarapan KKP, Selasa 21 April 2015

Eh, ada syaratnya sih. Bangun pagi. 😛

(2) Teh/Kopi Panas di Masjid Salman

Bagi yang Muslim, setelah selesai sholat, di dekat tempat duduk tempat memakai sepatu/sandal, ada dua tangki besar yang menyediakan teh dan kopi. Gelas juga sudah tersedia, tinggal minum. Kalau tidak salah, tersedia sepanjang hari hingga setelah Isya’.

Teh/Kopi Salman
Teh/Kopi Salman

Sampai sekarang rasanya masih ada. Foto diambil dari website Salman.

(3) Air minum

Sebelumnya, ada water tap di ITB yang disumbangkan oleh Alumni ITB 1970. Tapi sejak 2008 (that’s 7 f***ing years ago) tidak berfungsi. Sempat berfungsi sebentar tahun 2014 kemarin. Lalu kembali tidak berfungsi.

water tap
water tap

Semoga saja cepat berfungsi kembali.

Lalu bagaimana? Di setiap Lab, biasanya disediakan galon untuk persediaan minum bagi mahasiswa, peneliti, dan dosen-dosennya. Di lab saya sih ada. Baru datang lagi galonnya setelah 2 bulan. 😛

(4) Akses Internet

Akses Internet yang cepat dan murah, adanya ya di kampus ITB ini. Dulu kita memang harus membayar 12.500 tiap bulan untuk akun AI3, sekarang tidak lagi. Sudah gratis.

Tinggal cari tempat yang menangkap Wi-Fi “Hotspot ITB”, setting proxy, masukkan username password dan selesai. Tinggal akses internetnya.

Lebih nyaman lagi kalau ada di ruangan yang menyediakan kabel LAN.

(5) Tulisan Ilmiah

Paper-paper di organisasi profesi seperti IEEE atau ACM mahal harganya. Satu paper minimum berharga $30-an. Untunglah kampus ini berlangganan beberapa jurnal.

Yang saya kenal sehari-hari tentu saja dari IEEE: tinggal buka http://ieeexplore.ieee.org, cari judul, dan paper bisa didapat kalau menggunakan jaringan kampus ITB. Saya kurang tahu apa lagi yang dilanggan ITB, bisa dicek ke perpustakaan.

—-

Ada lagi?

Berburu Tulisan Ilmiah (1)

Bagi yang sedang mengerjakan Tugas Akhir, Tesis, atau Disertasi tentunya akrab dengan yang namanya tulisan ilmiah atau paper. Demikian juga yang sedang melakukan penelitian di lembaga riset tertentu. Masalahnya kadang kita perlu membaca paper yang harganya mahal (~$35 untuk satu paper) dan universitas atau lembaga riset kita bekerja tidak memiliki akses ke sana.

Nah, untuk itu, saya hendak berbagi cara mendapatkan paper-paper itu secara gratis. Sebagai catatan, di sini saya tidak terlalu peduli cara mendapatkan papernya legal atau ilegal, yang penting paper sampai ke tangan kita. Cobalah cara-cara ini satu per satu.

(1) Simple Google Search

Kalau kita beruntung, kita bisa menggunakan cara paling sederhana, cukup dengan mengetikkan judul paper ke google.

Misalkan kita ingin mendapatkan paper dari Oxford Journal, berjudul “Promise and perils of electronic public engagement“. Nah, saya tinggal memasukkan judulnya dan, voila! Dengan melakukan google search sederhana, saya sudah bisa memperolehnya!

Google Search!
Google Search!

Bagaimana kalau kita tidak seberuntung itu? Mari coba langkah selanjutnya.

(2) Google Scholar

Masih tidak jauh-jauh dari google, kali ini kita menggunakan salah satu layanan google yang memang diperuntukkan untuk mencari paper. Instead of searching in google.com, search it at scholar.google.com.

Kali ini yang menjadi “korban” adalah paper dari IEEE: “Model-integrated development of embedded software“. Kalau saya di kampus (ITB) sih mudah mendownload ini, tapi bagaimana jika Anda bukan dari kampus ITB? Mari kita coba google scholar.

Google scholar!
Google scholar!

Nah, itu di kanan ada tulisan [PDF]! Mari kita coba klik! Waaahh!

Screenshot_13
Paper!

Nah kan!

(3) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Tahukah Anda bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berlangganan beberapa jurnal internasional seperti Taylor & Francis dan Sage? Cukup dengan memberikan data diri sesuai KTP di website-nya, dan kita sudah memiliki akses ke sana secara gratis!

Mari kita melakukan eksperimen di sana dengan men-download paper dari Taylor & Francis berjudul “Dielectric properties of BaTiO3 by molecular dynamics simulations using a shell model“.

Mari masuk ke website perpustakaan nasional, dan login (saya sudah teregistrasi di sana, jika belum, registrasilah).

Tampilan PNRI
Tampilan PNRI

Lalu saya masuk ke Taylor & Francis (dengan mengklik No 17). Lalu mengetikkan apa yang saya cari di kolom search yang muncul.

Hasil pencarian
Hasil pencarian

Nah, di situ ada tulisan “Download Full Text”! Mari kita coba klik, daaan, hohoho:

Hasil PNRI
Hasil PNRI

Bravo PNRI! Ayo dong diperbanyak langganan jurnalnya! Hehehe.


 

Bagaimana kalau masih belum berhasil juga? Nantikan di seri Berburu Tulisan Ilmiah selanjutnya! Jangan lewatkan! Follow blog ini!

Capek juga nulis banyak-banyak.

 

Inch-by-inch Anything is a Cinch

Atau lengkapnya:

Yard-by-yard anything is hard, but inch-by-inch anything is a cinch

Adalah old saying berbahasa inggris yang artinya kurang lebih sama dengan peribahasa “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” atau ungkapan dalam bahasa Jawa “alon-alon waton kelakon“.

Saya sedang mengerjakan tesis, dan saya ingin menerapkan ini. Setiap hari harus ada progres. Sekecil apapun progres tetaplah progres, walaupun hanya satu kalimat pada draft. Keuntungan dari mengerjakannya setiap hari adalah adanya kontinuitas. Saya ingat kemarin mengerjakan apa, dan hari ini harus mengerjakan apa.

Ada kisah menarik dari Jerry Seinfeld tentang ini. Dia adalah seorang komedian yang harus menuliskan script untuk serial televisi, sehingga dia harus menyiapkan banyak jokes. Untuk mengatasi hal ini, dia menulis joke setiap hari. Setelah selesai, dia menyilang tanggal hari ini dengan huruf ‘X’ besar di kalender.

Lama kelamaan, tanda ‘X’ ini akan membentuk “rantai”: XXXXXXXXXXXXXXXXXXX…

Dia selalu memotivasi dirinya dengan “don’t break the chain!” pada kalender tersebut. Hasilnya? Seinfeild berhasil membuat serial komedi sebanyak 9 season, dari tahun 1989 hingga 1998!

Juga jangan lupa bahwa “Skipping one day makes it easier to skip the next.

Forward E-mail Students ITB ke Gmail

Sejauh ini, saya paling suka dengan interface dari Gmail dibanding menggunakan e-mail client seperti Thunderbird dan Outlook, dan saya mengecek e-mail di sana saya setiap hari. Nah, saya juga punya e-mail students ITB yang dipakai untuk berlangganan beberapa milis supaya tidak repot membuka banyak webmail, saya memforward e-mail ITB ke gmail saya.

Selain itu, agar ketika membalas e-mail tidak perlu membuka webmail ITB, saya perlu setting agar saya bisa mengirim email dengan alamat @students.itb.ac.id dari gmail.

Obrolan saya dengan Ola, ide tulisan ini.
Obrolan saya dengan Ola, ide tulisan ini.

Saya, mau menjelaskan caranya untuk itu. Ada dua bagian, cara forwarding dan cara setting agar e-mail gmail bisa mengirimkan atas nama @students.itb.ac.id

Cara Forwarding ke Gmail

  • Buka website http://students.itb.ac.id dan login dengan memasukkan username dan password.
  • Klik “Preferences” yang ada di kanan, akan muncul tampilan seperti ini:

Screenshot_16

  • Pilih “Mail” yang di sebelah kiri, lalu isilah “Forward a copy to” ke alamat Gmail. Jika tidak ingin e-mail student penuh, jangan lupa centang “Don’t keep local copy of messages”.

Screenshot_17

  • Simpan dengan mengklik “Save” di pojok kiri. Selesai.

Cara Mengirim dengan E-mail @students.itb.ac.id dari Gmail

  • Buka gmail dan login seperti biasa
  • Klik ikon gerigi di kanan atas, lalu pilih “Settings”

Screenshot_18

  • Pilihlah “Accounts and Import”, lalu di bagian “Send mail as” klik “Add another email address you own”

Screenshot_20

  • Isilah form dengan e-mail students, dan klik next step.

Screenshot_21

  • Isilah form, ikuti setting ini, jangan lupa isi username dan password:

Screenshot_23

  • Lalu klik “Add Account”, Gmail akan mengirimkan e-mail ke e-mail students yang berisi nomor verifikasi.
  • Masukkan nomor verifikasi yang dikirim Gmail:

Screenshot_24

  • Klik verify, dan selesai. 😀

Saatnya mencoba mengirim sesuatu, ternyata sudah bisa mengirim from @students:

Screenshot_25

Selamat mencoba!

Tutorial: Menyampul Buku

Sebelum ini saya tidak pernah menyampul buku-buku milik saya, dibiarkan begitu saja. Karena saya suka buku apa adanya, tidak terbungkus, dan tidak tertutup. Tapi sepertinya kalau buku-buku ini dibawa-bawa ke dalam tas, rasanya mudah sekali tertekuk atau rusak di sudut-sudutnya, terutama buku-buku yang memiliki paperback cover, bukan hard cover.

Nah, untuk mengatasinya, buku-buku ini saya sampul dengan plastik mika sampul. Saya tidak seperti bung Rousyan yang tidak menggunakan selotip, tetapi selotip yang saya gunakan sama sekali tidak menempel pada cover buku melainkan antar plastik sampul yang digunakan. Ini dilakukan karena kalau selotip ditempelkan ke sampul buku, saat dikelupas akan tersisa bekas tempelan selotip.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang saya gunakan adalah plastik mika sampul, gunting, dan selotip. Plastik mika sampul saya beli di Toko Buku Toga Mas di Jalan Supratman, Bandung. Untuk ukuran 45 cm x 5 m harganya 15.000 Rupiah saja.

Alat, bahan, dan buku yang akan disampul
Alat, bahan, dan buku yang akan disampul

Setelah semua alat dan bahan siap, mari kita mulai menyampul. 😀

Baca lebih lanjut

Backup Data

Seberapa penting sih backup data? Menurut saya sih penting. Penting sekali malah.

Coba pikir, data kita itu ditaruh di hard-disk laptop, yang ukurannya cuma 3.5 inci. Ditaruh di dekat processor, motherboard, yang suhunya bisa mencapai 70-80 derajat. Ditambah listrik Indonesia yang tidak stabil. Data kita bisa hilang sewaktu-waktu.

Media buat backup juga sebenarnya tidak terlalu mahal: hard-disk eksternal misalnya, harganya paling mahal 2 juta rupiah lah, itu pun sudah dapat yang kapasitasnya cukup besar. Kalau menurut Anda 2 juta terlalu mahal, coba pikir, mana yang lebih penting:

  • Uang 2 juta untuk membeli hard-disk eksternal untuk keperluan backup, atau
  • Data kita: PR-PR selama sekolah, laporan-laporan praktikum, tugas akhir kuliah, file-file proposal selama di organisasi, catatan keuangan bulanan, foto-foto momen bersama teman-teman, statement of purpose dan dokumen beasiswa lainnya, file-file pekerjaan, dan masih banyak lagi.

Buat saya data itu nilainya jauh lebih tinggi dari harga hardware. Data tidak terukur nilainya, priceless. Sedangkan hardware bisa dibeli kapan pun kita membutuhkannya.

Untuk keperluan backup, saya menggunakan software Lenovo Rescue and Recovery bawaan laptop saya. Dijadwalkan sebulan sekali pada hari Minggu pertama setiap bulannya. Mungkin buat yang lebih aktif produksi data, jadwalnya bisa diperketat.

Selain itu, semua tugas kuliah juga disimpan di DropBox. Walaupun kapasitasnya tidak seberapa, tapi dokumen kuliah ini nilainya sangat penting bagi saya. Kalau sewaktu-waktu hilang, paling tidak saya bisa mengakses data kuliah saya via DropBox.

Note: Sudah lama tidak menulis blog, rasanya agak kaku untuk menulis. Mungkin harus lebih rajin menulis.