No Idea

What will you do if you have to write, but have no idea in mind?

Well, let me try, I just put my fingers on keyboard. Trying to write something is this blog. Turns out that writing about having no idea to write is also an idea!

How to get an idea? It is also a good question.

Few days or a week ago or so, I watched a youtube video about a Japanese Toy Designer. How he come with a new ideas. Here is the video.

The video is in Japanese, but subtitle is available

With the game called “Shiritori” he came up with an ideas, elephant toothbrush, endless bubble popper, and so on.

Well, probably I should try this method to generate a new ideas.

Iklan

Arah Mata Angin

Kalau suatu saat kita bertanya ke orang di daerah Jawa tentang arah, seringkali kita memperoleh jawaban “Ke utara sekitar 100 meter, ke barat sampai ujung, lalu ke selatan sedikit.”

Sebagai orang Jawa, saya memang sedikit punya naluri tentang arah. Di daerah yang saya kenali, saya tahu utara ada di mana dan barat. Walaupun terkadang bila di daerah tak dikenal saya perlu mengandalkan beberapa petunjuk.

Beberapa petunjuk yang bisa digunakan untuk menentukan arah mata angin. Ingatlah, bahwa dengan mengetahui satu arah mata angin saja, semua arah bisa kita ketahui.

Masjid

Di Indonesia, masjid bertebaran di mana-mana. Cara mudahnya adalah lihat orang yang sedang sholat, arah tersebut kurang lebih adalah arah barat. Bila sedang tidak ada yang sholat, arah sajadah dan tonjolan tempat imam berada adalah arah barat.

Matahari

Kita beruntung ada di daerah tropis, matahari tidak bergerak terlalu jauh ke utara atau selatan. Jadi bisa dipastikan matahari kira-kira berada di timur saat pagi hari, dan berada di barat saat sore hari.

Kuburan

Kuburan? Iya, kuburan bisa menjadi penanda arah, khususnya kuburan muslim. Karena jenazah dihadapkan ke kiblat, posisi kuburan adalah utara-selatan, biasanya batu nisan yang bertuliskan nama ada di utara.

Rasi Bintang: Crux

Crux atau salib selatan adalah petunjuk arah paling mudah di malam hari. Tahu bendera Australia? Itulah rasi bintang Crux.

Formasi-Bintang-Crux

Tariklah sumbu tegak hingga cakrawala atau horizon, horizon itulah arah selatan.

Rasi Bintang: Scorpio

Ekor rasi bintang scorpio selalu menunjuk ke tenggara. Hanya saja, mencari rasi bintang scorpio ini agak tricky, dan arah yang ditunjuk juga tenggara, bukan arah mata angin utama, jadi saya jarang menggunakan ini.

***

Sebenarnya cara lebih mudah adalah menggunakan kompas di hape android kita. 😀

Ide: Web Remote Radio

Stasiun radio favorit saya adalah Delta FM Bandung, ada di frekuensi 94.4 MHz di siaran analognya. Kalau saya di luar kota, biasanya saya mendengarkannya via streaming di TuneIn.

Saya kepikiran bagaimana kalau radio yang tidak punya fasilitas streaming, tapi penggemarnya tetap ingin mendengarkannya meski sedang ada di luar kota. Misalnya saya ingin mendengarkan siaran radio XYZ FM Bandung (imajiner) di frekuensi 93.7 MHz, dan mereka tidak menyediakan fasilitas streaming.

Jadi, idenya adalah bagaimana kalau kita punya server di Bandung, bisa diakses via web, dan user web ini bisa memilih frekuensi yang dia inginkan via web tersebut. Dari web tersebut saya bisa tuning ke 94.4 MHz sehingga saya bisa mendengarkan Delta FM, atau 101.1 MHz MGT Radio. Sehingga saya bisa mengakses web ini di mana saja, dan mendengarkan siaran-siaran radio yang ada di Bandung, cukup dengan memilih frekuensinya.

Masalah dan Solusi Ide

Awalnya saya berpikir, cukup satu radio saja, yang tuningnya bisa saya remote via web lalu streaming hasilnya. Tapi ternyata ada masalah, katakanlah si A mengakses web radio ini dan mengaturnya ke 94.4 MHz, beberapa saat kemudian si B mengakses web ini dan mengaturnya ke 101.1 MHz. Maka, kedua user tadi akan mendengarkan siaran radio 101.1 MHz.

Solusi paling sederhana dari masalah ini, ya, sediakan saja multiple receiver. Tiap penerima diatur pada frekuensi tertentu, dari 88.0, 88.1, 88.2, …, 107.9, 108.0 MHz. Nanti si backend webnya yang mengatur dari receiver mana yang di-streaming oleh user. Masalahnya adalah, itu berarti kita butuh 201 buah penerima radio FM. Ditambah lagi sejumlah soundcard dengan jumlah yang sama.

Screenshot_55

Tapi saya merasa, itu jelas tidak efisien. Masa ada 201 perangkat, yang sebenarnya isinya sama. Cuma beda di bagian pemilih frekuensinya saja.

Dari sini, saya tidak punya ide untuk melangkah, implementasinya bagaimana, tapi saya hanya mengungkapkan apa yang saya pikirkan, agak technical.

Pada dasarnya penerima radio FM bekerja seperti ini:

Screenshot_56

Ketika kita memilih frekuensi tertentu, yang diubah hanyalah frekuensi osilator, sisanya tidak berubah sama sekali. Idenya adalah bagaimana supaya osilator ini bisa diatur, dari web misalnya, dan juga bisa diatur sedemikian rupa supaya bisa diakses oleh user berbeda secara independen? Jadi saya bisa mengatur radio saya pada 94.4 MHz dan kawan saya pada 101.1 MHz secara independen dan tidak mengganggu satu sama lain.

Tapi saya masih tidak ada ide, how to do it.

Related Research

Riset terkait ini adalah software defined radio (SDR), tapi saya tak menemukan SDR yang bekerja pada frekuensi komersial radio FM, 88.0 – 108.0 MHz. Kemarin saya menemukan sebuah web, yang mirip dengan ide saya, di http://websdr.org.

Di web tersebut kita bisa tuning radio pada lokasi servernya, meskipun saya hanya mendengar suara kresek-kresek kemarin. Kebanyakan frekuensinya adalah pada Shortwave Radio (SW).

Saya juga baca-baca tentang implementasi penerima radio FM di FPGA, tapi belum ada satu pun paper yang memuaskan hati saya. Ada ide?

Naik Bis di Singapura

Karena satu dan lain hal, saya terdampar di seberang lautan, Singapura. Terlama saya berada di luar Indonesia.

Untuk pergi ke mana-mana, banyak pilihannya, Bis, MRT, LRT, Taksi, Uber. Untuk yang kedua terakhir, saya tidak pernah gunakan karena harganya mahal. LRT jauh dari tempat saya tinggal, jadi juga tidak pernah. Tinggal Bis dan MRT.

Saya mau cerita tentang bisnya. Singapura punya ratusan rute bis. Benar-benar ratusan, dari nomor 1 hingga 900-an. Nomor bis tertinggi yang pernah saya naiki adalah 961.

Bus
Salah satu bus

Tarif

Untuk membayar tarif bisnya, diperlukan kartu ezlink, ini semacam kartu prabayar yang bisa diisi ulang. Kalau di Indonesia mirip-mirip kartu Flazz dari BCA dan eMoney dari Bank Mandiri.

ezlink dan Flazz punya saya
ezlink dan Flazz punya saya

Kedua kartu saya itu fungsinya hampir sama, yang satu untuk di Jakarta dan yang satu untuk di Singapura. Tapi ada beberapa perbedaan:

  • Di bis TransJakarta, pembayaran dilakukan di halte tempat kita masuk. 3500 Rupiah, ke mana pun tujuannya.
  • Sedangkan di Singapura, pembayaran dilakukan dengan cara menempelkan kartu di dekat pintu masuk bis setelah kita masuk. Saldo akan dipotong sebesar rute terjauh bis. Ketika turun, kartu ditempelkan lagi di pintu keluar. Saldo yang sudah dikurangi tadi dikembalikan, namun dipotong sesuai jarak yang kita tempuh. Tarif bis paling murah adalah $0.78 untuk beberapa halte pertama, saya tak tahu harga paling jauhnya.

Kedua kartu tersebut juga bisa digunakan untuk transportasi lain, di Jakarta kartu itu bisa dipakai untuk KRL dan di Singapura untuk MRT. Kedua transportasi rel andalan kedua kota itu.

Tapi soal kenyamanan di kendaraan umum, Jakarta harus belajar banyak dari Singapura. Antri, tertib, bersih, rapi. Kalau di Jakarta kebanyakan untel-untelan

Rute

Tadi sudah saya bilang, rutenya ada ratusan, hampir seribu malah. Meskipun di halte semua informasi jelas, bis nomor mana saja yang lewat, termasuk ada indeks tujuan yang diurutkan secara alfabetis.

Tapi tetap saja saya kan pendatang, mana saya tahu kalau mau ke Singapore Zoo itu harus ke daerah X dulu, lanjut lagi dengan bis nomor berapa lagi. Kalau mau ke Orchard harus ke halte yang ini atau yang seberang? Begitulah.

Untunglah ada aplikasi android bernama CityMapper. Aplikasi ini brilian! Tinggal memasukkan tujuan, berdasarkan GPS kita, dia akan memberi tahu lokasi halte terdekat, cara berjalan ke sana, dan bis nomor berapa yang harus dinaiki. Termasuk bila harus transit. Juga perkiraan waktu tunggu dan waktu sampainya.

CityMapper
CityMapper

Bahkan, sepanjang perjalanan kita tahu halte berikutnya. Sehingga tahu kapan harus memencet bel turun (bukan berteriak “kiri” :p).

Halte

Halte bis atau bus stop terdapat setiap kira-kira 1-3 kilometer. Bus hanya berhenti di halte-halte ini, tidak bisa naik dan turun di sembarang tempat layaknya Kopaja dan Metromini.

Hanya saja, saya agak tidak suka dengan penempatan dan ukuran nama halte di papan informasinya.

Halte
Halte

Nama haltenya kecil sekali, hampir tidak kelihatan dari bis. Atau bisa dikatakan tak terlihat dari bis. Sudah begitu, lokasinya agak tersembunyi, bahkan saya menemukan ada yang di belakang halte

Karena itulah CityMapper + GPS sangat membantu saya, untuk tahu kapan harus turun.

Ide

Kapan bakal ada semacam CityMapper untuk Jakarta? Bukankah kita sudah bisa men-tracking keberadaan Bis TransJakarta (via GoJek) dan KRL (via aplikasi Info KRL). Berarti kan sebenarnya mereka ada API-nya.

Mestinya bisa dibuat. Paling tidak halte/stasiun terdekat untuk naik, rute KRL/TransJakarta, dan halte/stasiun terdekat dari tujuan. Tampaknya menarik.

Ide: Payung Anti Basah

Kebetulan tadi saya lihat video di Youtube, mengenai “Never Wet”. Jadi never wet ini material yang tidak bisa basah. Sepertinya implementasi nanoteknologi.

Di iklannya sudah banyak ide-ide yang ditawarkan, sepatu, sikat, pendingin minuman, dan handphone.

Sepertinya si “Never Wet” ini banyak juga manfaatnya. Beberapa ide dari saya untuk penggunaannya:

Payung

Saat musim hujan, yang paling menyebalkan dari menggunakan payung adalah setelah dipakai, perlu dijemur hingga kering.

Rasanya kalau payungnya anti basah dengan “Never Wet”, kita tidak perlu menjemurnya lagi, praktis sekali. Tinggal dilipat kembali karena setelah dipakai pun masih dalam keadaan kering.

Yang jadi pertanyaan, apakah kalau dipakai dalam hujan, butiran-butiran air itu menyebar ke sekitar? Mengganggu sekali kalau iya soalnya.

Jas Hujan

Dengan alasan yang sama dengan payung. Jas hujan tinggal dilipat kembali, masuk rapi ke dalam jok motor.

Nyaman sekali sepertinya.

Kaos/Baju Putih

Kaos dan baju putih biasanya mudah sekali terkena noda yang membekas. Apalagi kalau hobi ngemil, minum teh atau kopi, yang mudah tumpah ke baju.

Apa lagi ya? Ada ide?

Saya juga mengecek harga Never Wet di toko online, harganya cukup terjangkau, 350.000 hingga 500.000 Rupiah. Tampaknya worth it buat dibeli.

Menulis 10 Ide Setiap Hari

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel dari James Altucher, The Ultimate Guide for becoming idea machine. Ide utamanya adalah menulis 10 ide atau lebih setiap hari. Apapun idenya, ide tulisan, ide bisnis, ide resep masakan, ide alat, ide software, ide script, ide pengaturan keuangan, ide tentang ide, apapun. Ditulis, minimal 10 ide sehari.

Eksekusi saya agak berbeda dengan Pak Altucher, tapi idenya mirip.

Modalnya cukup sederhana, buku catatan dan pulpen. Saya baru saja memulai beberapa hari yang lalu, belum ada seminggu. Sudah ada 78 ide, dan akan terus bertambah. Menimbang koin kemarin adalah salah satu ide yang muncul.

Tapi ide saya cupu

Tidak masalah, Tom Sam Cong memulai perjalanan ke barat dengan satu langkah, sendirian.

Setiap programmer memulai dengan “Hello World”. Siapapun dia, pencipta google sampai programmer rata-rata yang kita temui di hampir setiap perusahaan.

Grandmaster catur memulai dengan belajar cara bidak melangkah. Baru kemudian belajar notasi.

Pedagang memulai usahanya dengan untung yang kecil dahulu, atau bahkan dengan merugi dahulu.

Tidak ada orang yang memulai dengan langsung memperoleh hasil terbaik, lama kelamaan ide akan berkembang menjadi jauh lebih baik.

Seburuk apa pun idenya, tuliskanlah. Setidak masuk akal apa pun, tuliskanlah. Membuat kostum kevlar Batman? Memurnikan air laut dengan tenaga surya? Mengendalikan mobil dengan handphone android dengan koneksi bluetooth? Tuliskanlah.

Lama kelamaan akan ada banyak ide. Segudang. Jika ada 10 ide setiap hari, maka setahun ada 3650 ide, 3660 kalau beruntung kabisat, dan jauh lebih banyak jika pikiran sedang lancar.

Lalu diapakan ide sebanyak itu?

Bayangkan kalau kita punya 10.000 ide. Jika 1% saja yang bagus, itu berarti ada 100 ide bagus. Jika ada 0.5% ide brilian, berarti ada 50 ide brilian. Tidak mungkin dari ide sebanyak itu tidak ada yang menghasilkan, pasti ada jika dieksekusi dengan baik.

Kuantitas lebih penting dibanding kualitas. Dengan spamming jumlah, suatu saat akan ditemukan ide yang bagus. Edison melakukan hampir 1000 percobaan untuk filamen lampunya, bukan melakukan pemikiran sampai dia menemukan bahan yang sempurna. Kuantitas.

Masih tentang kuantitas, seorang siswa dengan kemampuan rata-rata bisa jadi masuk universitas favorit melalui tes, dengan mempelajari ratusan soal-soal tahun sebelumnya. Saya membuktikan sendiri dulu, saya hampir tahu semua tipe soal tes karena kuantitas soal yang saya pelajari dari jaman SKALU, Sipenmaru, UMPTN, hingga SPMB. Bahkan tes USM-ITB sebelum ada ujian masuk bersama.

Sepuluh ribu jam adalah angka minimum untuk menguasai sesuatu. Bermain gitar, catur, menulis, menari, melukis, atau apa pun yang bisa disebut. Sepuluh ribu jam adalah kuantitas. Kualitas akan meningkat seiring berjalannya waktu.

Ide bagus tak akan berguna tanpa eksekusi, tapi tetap saja, ide bagus perlu dicari.

Jadi mulai tuliskanlah.

Baiklah, tapi saya tidak punya ide

Benarkah? Pernah memikirkan aspal jalanan di depan rumah yang bolong? Bagaimana caranya supaya ada tindak lanjut dari pemerintah adalah ide. Bagaimana membuat warga sekitar memperbaikinya adalah ide.

Lihatlah sekitar, ada banyak masalah yang bisa diselesaikan. Lakukan kegiatan sehari-hari, ada saja masalah yang harus dipecahkan. Bagaimana cara ke Bank kalau jam buka bank sama persis dengan jam kerja kita juga ide bukan?

Berandai-andai. Kalau saya jadi Presiden, apa yang harus saya lakukan menghadapi orang yang terus menerus mencibir saya. Bagaimana mengatasi Lumpur Lapindo? Bagian mana lagi dari negara ini yang perlu diperbaiki? Bagaimana memberantas jaringan terorisme tanpa ada yang berkomentar tentang HAM? Ya, ide.

Tunggu apa lagi, tuliskanlah.

Saya sudah berhasil menulis beberapa, tapi susah sampai 10

Bagus. Paksakan, sampai sepuluh. Itu pertanda pikiran mulai bekerja. Pikiran kita ini seperti otot, harus dilatih. Mengenai latihan otot, petinju terkenal Muhammad Ali pernah berkata

I don’t count my sit-ups, I only start counting when it starts hurting, when I feel pain, that’s when I start counting, cause that’s really counts.

Setelah pikiran mulai blank, itu tandanya pikiran mulai seperti otot yang terasa sakit. Di sini lah banyak ide brilian muncul.

Tak muncul juga? Jangan menyerah, persistence. Tetesan air bisa melubangi batu karena terus menerus menetesinya. Tetesan air bisa menghasilkan hasil yang sama dengan bor yang tajam karena ke-terus-menerusan-nya.

Semoga saya bisa menghasilkan ide baru lagi besok. Erm, nanti maksudnya. Hari sudah berganti.

Ide: Menghitung Koin dengan Menimbang

Dua atau tiga minggu yang lalu saya menyetorkan uang di celengan ke Bank. Seperti biasanya, saya harus mengelompokkan koin satu per satu. Setiap sepuluh koin bernominal sama, diselotip hingga membentuk nominal yang sepuluh kali lebih besar. Sesampainya di bank, teller menghitung uang receh saya satu per satu, tanpa bantuan mesin.

Koin

Mengapa Bank di Indonesia tidak punya mesin penghitung koin? Mesin penghitung uang kertas biasanya sudah ada, tapi koin? Sama sekali tidak ada. Saya bahkan pernah dimarahi teller ketika setor dan koin belum dikelompokkan.

Saya jadi kepikiran, bagaimana caranya menghitung koin dengan mudah? Karena ini menyangkut uang, jadi harus akurat. Salah satu yang ada di pikiran saya adalah menimbangnya! Uang koin punya berat (well, massa kalau Anda seorang fisikawan sejati) yang berbeda-beda.

Berdasarkan wikipedia, uang koin yang umum beredar saat ini adalah:

  • 50 rupiah putih: 1.36 gram,
  • 100 rupiah putih: 1.79 gram,
  • 200 rupiah putih: 2.38 gram,
  • 500 rupiah kuning 1991: 5.29 gram,
  • 500 rupiah kuning 1997: 5.34 gram,
  • 500 rupiah putih: 3.10 gram,
  • 1000 rupiah putih-kuning: 8.60 gram,
  • 1000 rupiah putih: 4.50 gram

Katakanlah saya punya timbangan yang ketelitiannya 10 mg (mungkin biasa dipakai apoteker atau tukang emas). Dengan menimbang koin yang saya miliki, bisakah saya menentukan jumlah uang yang saya punya?

Misalkan a, b, c, d, e, f, g, dan adalah jumlah dari setiap jenis koin di atas, dan w adalah total berat dari koin di atas. Maka seharusnya persamaan ini bisa dipenuhi:

1.36a + 1.79b + 2.38c + 5.29d + 5.34e + 3.10f + 8.60g + 4.50h = w

Misalkan saya punya 100 koin seribuan putih, 80 koin limaratusan putih, dan 250 koin duaratusan, total uang yang saya punya adalah 190 000 rupiah dan beratnya 1293 gram. Persamaan di atas menjadi:

1.36a + 1.79b + 2.38c + 5.29d + 5.34e + 3.10f + 8.60g + 4.50h = 1293

Saya butuh bantuan matematikawan di sini:

  • Apakah persamaan tersebut dapat diselesaikan, sehingga diperoleh (a, b, c, d, e, f, g, h) = (0, 0, 250, 0, 0, 80, 0, 100)? Tidak masalah bila memerlukan data tambahan yang disimpan, bisa diatur.
  • Apabila dapat diselesaikan, apakah solusi tersebut unik? Karena bila tidak unik, tentu saja kita perlu mengatur strategi agar uang yang terhitung akurat.

Beberapa kemungkinan metode yang sudah saya baca-baca, dan mungkin bisa diterapkan:

Persamaan Diophantine

Persamaan di atas jelas memerlukan solusi a, b, c, d, e, f, g, dan h integer non-negatif, karena koin tidak mungkin pecahan bukan? Bukankah ini definisi dari persamaan diophantine?

Tapi saya tak banyak mengerti tentang teori bilangan, di Wikipedia pun hanya tersedia untuk 2 variabel, apakah untuk 8 variabel akan tetap sama? Well, need help here.

Apakah ada hubungannya dengan GCD dan LCM dari tiap-tiap berat koin?

Brute Force

Engineering solution starts here. Kita coba satu per satu nilai a, b, c, d, e, f, g, dan h. Untuk setiap variabel, kita coba sampai beratnya mencapai total berat koin.

Intinya nested for sampai 8 kali ke dalam. Tentu saja tidak efisien karena kompleksitasnya O(n^8), tapi sepertinya cara ini paling mudah dilakukan, sekaligus tahu apakah solusi tersebut unik atau tidak.

Aljabar Linier

Persamaan di atas terdiri dari 8 variabel, bisakah kita menyelesaikannya kalau kita punya 8 persamaan? Tujuh (atau lebih) persamaan yang lain kita simpan sebagai referensi dalam program.

Tapi sepertinya cara ini tidak bisa diterapkan, saya masih bingung memikirkan bagaimana caranya menyimpan referensinya.

Lainnya

Saya membaca referensi di reddit (internet positif, crap) namun lupa linknya. Beberapa user mengusulkan menggunakan weight to value ratio, ada pula yang mengatakan ini berhubungan dengan Knapsack Problem.

Bisakah ide ini dieksekusi? Entahlah.