Differences

Jadi, kamu biarkan saja yang pandai di kelas, tidur begitu?

– Interviewer di suatu Universitas.

Dia melanjutkan sambil tersenyum meremehkan.

Pertanyaannya adalah, “Bagaimana menghadapi kondisi mahasiswa yang pandai dan ada yang kurang di kelas”.

Saya menjawab, “Saya lebih mempedulikan yang kurang daripada yang pandai. They know what to do. Sedangkan yang kurang tidak.”

Well, saya tidak diterima di sini.

***

Kemarin, ketika berbincang dengan dosen yang cukup senior di kampus saya sekarang.

Buat apa kita beri perhatian berlebih pada yang pandai? Anak olimpiade misalnya, keberhasilan mereka bukan cermin keberhasilan sistem pendidikan kita. Pada dasarnya mereka akan excel dengan sendirinya, entah dari rumah, dirinya sendiri, atau yang lain. Bukan karena sistem.

Tolok ukur pendidikan itu harusnya dari yang kekurangan dan juga tidak pandai. Kalau kita berhasil mendidik pola pikir mereka, berarti sistem kita berhasil. Kalau tidak, berarti ada yang salah dengan sistem kita.

Ah, akhirnya saya tahu kenapa saya ada di sini dan bukan di sana. 🙂

Memandang

Urip iki sawang sinawang

Sebuah pepatah jawa kuno. Berlatihlah memandang dari berbagai sudut pandang. Tempatkan dirimu sebagai dirinya, cobalah memandang dari kacamata mereka. Kamu harus berusaha mengerti.

Ojo dumeh

Jangan mentang-mentang. Jangan memandang rendah orang lain, siapa pun diri kita. Tak peduli pendidikan setinggi apa pun, jabatan sebesar apa pun, ilmu sedalam apa pun, jangan memandang rendah orang lain.

***

Note to self.