Truth: Doesn’t Matter Who

Sedang ramai di media sosial dan televisi, Mario Teguh tidak mengakui anak dari pernikahan sebelumnya.

Fakta tentang dia benar tentang beliau betul-betul anaknya atau tidak, belum ada konfirmasi. Baru satu pihak yang memberikan bukti berupa dokumen dan foto. Dari pihak tertuduh belum ada konfirmasi.

Update: ternyata sudah ada lanjutannya, tapi berhubung saya tak terlalu peduli, silakan dicari sendiri. Google is just one click away. ūüėõ

Bukan, bukan ini yang ingin saya bahas lebih dalam. Yang ingin saya bahas lebih dalam adalah respons dari kejadian ini.

Banyak di antara mereka menyalah-nyalahkan Mario Teguh. Mengatakan apa yang dibilang Mario Teguh salah kalau mengatakan kita harus menyayangi keluarga dan anak-anak kita. Seolah semua yang dikatakan Mario Teguh adalah salah.

Tampaknya kita belum bisa membedakan yang mana¬†message dan yang mana¬†messenger. Apakah “Kita harus menyayangi keluarga dan anak-anak kita” (message) itu salah? Tidak, itu kebenaran. Apakah Mario Teguh (messenger) salah? Mungkin iya, kalau kejadian ini terbukti.

Siapa pun yang menyampaikannya, truth is truth. Kebenaran adalah kebenaran. Bukan soal siapa.

***

Ah, saya jadi ingat suatu kisah.

Alkisah di zaman Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah saat itu diamanahkan oleh Rasul untuk menjaga gudang beras tempat menyimpan zakat fitrah.

Ketika sedang menjaga beras-beras itu, seseorang datang ke gudang, menumpahkan beras, dan mengambilnya.

Abu Hurairah pun berkata, “Aku akan mengadukanmu pada Rasulullah.” Yang dijawab oleh orang itu, “Aku benar-benar dalam keadaan butuh, aku memiliki keluarga, dan aku sangat membutuhkan beras ini.” Karena kasihan, Abu Hurairah pun melepaskan dan membiarkannya.

Esok paginya, Abu Hurairah menceritakannya pada Rasulullah. Tetapi Rasulullah bersabda, “Dia telah berdusta dan akan kembali lagi.”

Di malam kedua, orang itu benar-benar datang lagi, dan melakukan hal yang sama. Abu Hurairah pun sekali lagi mengancam akan mengadukannya ke Rasulullah. Namun, kali ini, orang itu berjanji, “Aku tidak akan kembali lagi.” Sekali lagi Abu Hurairah kasihan dan membiarkannya pergi lagi.

Esok paginya, Abu Hurairah kembali menceritakannya kepada Rasulullah. Sekali lagi Rasulullah bersabda, “Dia telah berdusta dan akan kembali lagi”.

Benar saja, di malam ketiga, orang itu datang lagi. Abu Hurairah jelas geram, dan kali ini benar-benar berniat menangkapnya. Tapi lagi-lagi orang itu berkilah, “Aku akan mengajarkanmu hal yang bermanfaat, tapi lepaskanlah aku.”

Abu Hurairah pun tertarik dan mengatakan, “Apa itu?”

“Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat kursi hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Jawabnya.

Abu Hurairah, menepati janji, tentu saja melepaskannya.

Esoknya, Abu Hurairah kembali bercerita ke Rasulullah, dia menceritakan bahwa orang itu kembali datang, namun ia lepaskan karena menceritakan sesuatu yang bermanfaat. “Apa itu?” tanya Rasulullah. Abu Hurairah pun menceritakan faedah ayat kursi.

Rasulullah bersabda, “Ada pun dia berkata benar, meskipun dia pendusta. Tahukah engkau siapa yang datang tiga malam itu kepadamu?”. Abu Hurairah tentu saja mengatakan tidak tahu. “Dia adalah setan.” lanjut Rasulullah.

[Hadits Bukhari, 2311]

***

Kebenaran itu bisa datang dari mana saja, dari setan sekalipun. Verifikasilah apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan.