You May Save a Life

If someone out of nowhere message or call you, then telling about his/her problem please give a response.

Tell him/her you are listening, you care for him/her, you are trying to understand. Even though it just eleven or twelve messages.

The worst response is no response at all. Avoid this. Avoid. No matter what he or she did to you in the past, always give a response. I repeat, always give a response. Yes, I look at you, girls. You may save a life.

That person who called you probably have depression, anxiety, or even suicidal thoughts. They have hard time with their problems. When someone with severe depression and anxiety in their down time, one of their most recurring negative thought is, “No one care about me.”

If you don’t give a response to a someone who is suffering from his/her thoughts. The thoughts will become stronger and stronger. “No one care about me. I am worthless. Why should I stay here? Even if I die, no one will really care about me.”

There was someone who suicide in facebook, doing it in live video. What I hate most is the comment, “Just do it, cowards”, “Come on”, “What a sinner”, and so on.

Let me tell you that some people can not control their thoughts, what we can do is prevent that thoughts to become an action. Without judging them.

Don’t tell them they are not grateful for life, they are. Don’t tell them they are a sinner. Telling them about it just make it worse. Just listen, try to understand, state clearly that “I am here, listening”.

Depression, anxiety, and suicidal thoughts are very common. But here, someone who admit they have it treated as weak person, judged being religiously ignorant, can not control theirselves, sinner, not grateful with life, and so on. So they hide it, don’t talk about it, then things get worse.

And they who seeks treatment to psychiatrist is judged as crazy and need to be excluded from society. Dilemma, isn’t it?

We have right to keep our mind healthy.

Last, please response to anyone who wanted to share their problems with you.

After the Prophet (Part 1)

After the Prophet [by Lesley Hazleton] | Goodreads 4.06/5

6533039

Buku ini hasil khilaf saya di Kindle App. Itu tombol “Beli” ditambah nomor kartu kredit tertera di akun, sungguh berbahaya. Nah, setelah berlatih membaca di device android – tablet dan hape, saya menemukan setting yang cukup enak untuk dibaca. Background hitam dan tulisan putih, atau background hijau muda dan tulisan hitam.

***

Buku ini dikarang oleh Lesley Hazleton, seorang Yahudi. Kemudian beliau juga membanding-bandingkan sumber-sumber Sunni dan sumber Syiah. Tapi pada akhirnya saya pribadi menyimpulkan bahwa penulisnya lebih condong mengambil sudut pandang Syiah sebagai acuan.

So, kalau salah satu dari pembaca ada yang menganggap sesuatu dari “Yahudi” dan “Syiah” itu selalu salah, stop reading, it will be pointless from here.

Buku ini bermaksud mengisahkan apa yang terjadi di saat-saat terakhir Rasulullah dan huru-hara yang terjadi setelahnya. Dari hilangnya kalung Aisyah, saat-saat terakhir Rasulullah, penunjukkan Abu Bakar, sampai terakhir kejadian Hussein vs Yazid di Karbala.

Saya lebih banyak menyisakan tanda tanya daripada “Oh” setelah membaca buku ini.

[1] Tanda tanya pertama – Aisyah dan Ali.

Hazleton memulai cerita dengan hilangnya kalung Aisyah di tengah gurun. Dari sana lah semua cerita bermula. Di buku ini tidak diceritakan bahwa kejadian ini adalah azbabun nuzul bolehnya tayammum, tapi diceritakan bahwa Aisyah tertinggal dari rombongan ketika mencari kalungnya yang hilang.

Setelah menyadari bahwa ia tertinggal dari rombongan, beberapa saat kemudian Aisyah bertemu dengan Safwan yang mengantarkannya dengan unta ke Madinah. Dari sini, timbul gosip sana-sini yang tidak mengenakkan untuk Aisyah. Termasuk di dalamnya gosip adultery, hingga Aisyah “dipulangkan” ke rumah ayahnya, Abu Bakar.

Cerita selanjutnya membuat tanda tanya besar pertama di pikiran saya, disebutkan bahwa Ali menyarankan Rasulullah untuk menceraikan Aisyah. “Benarkah?” langsung terlintas di pikiran saya. Heck, setelah mengecek sana-sini, saya tak menemukan Hadits dari sumber Sunni yang menyebutkan ini. Atau ada? Help me?

Cerita lain tentang Ali dan Aisyah diceritakan juga di buku ini, bahwa suatu kali, istri-istri Rasulullah yang lain cemburu karena menganggap Aisyah terlalu difavoritkan. Salah satu dari mereka kemudian meminta Fatimah (istri Ali dan putri Nabi) untuk “menegur” Rasulullah. Tapi Rasulullah balik menegur Fatimah dengan kata-kata, “Apakah engkau tidak mencintai apa yang aku cintai?”. Fatimah pun sakit hati, menangis, dan mengadu pada suaminya. Dari kejadian ini, ada slek antara Ali dan Aisyah. Rivalitas.

Rivalitas Ali dan Aisyah ini menurut Hazleton terus terbawa, hingga Perang Unta (battle of camel) di Basra, sekitar 25 tahun kemudian. Tanda tanya kedua adalah Benarkah ada konflik di antara keduanya?

[2] Tanda tanya kedua – Ghadir Khumm

Salah satu yang tidak boleh terlewat dari sejarah perpecahan Sunni – Syiah tentu saja hadits Ghadir Khumm. Ditulis juga di buku ini.

Sebuah riwayat mengatakan bahwa setelah Haji Wada’, Rasulullah berhenti di Ghadir Khumm dan mengatakan “… man kuntu mawlāhu fa-ʿAlī mawlāh  “.

” … Barangsiapa menjadikan aku sebagai Mawla, maka ‘Ali adalah Mawla-nya juga…”

Hadits ini sahih menurut Sunni, untuk Syiah tidak perlu dipertanyakan lagi, hadits ini lah dasar semua pemahaman mereka, penunjukan Ali sebagai penerus hingga konsep Imamah – yang saya pribadi tidak mengimaninya.

Saya selalu penasaran, bagaimana sebenarnya interpretasi Sunni terhadap hadits ini. Yang saya tahu, hadits ini diinterpretasikan sebagai “penghibur” untuk Ali. Untuk meningkankan kepercayaan diri dan self esteem dari beliau. Tapi kejadian apa yang terjadi hingga membuat Ali perlu “dihibur”?

Ah ya, sedikit OOT, kata Mawla di situ dari triliteral m-w-l, kata dasar dari kata aulia yang kemarin menjadi sebuah keributan karena di Al-Maidah 51 disebutkan artinya sebagai “pemimpin”. Memang pemimpin adalah salah satu artinya, tapi ada puluhan makna lain darinya: “paduka”, “teman dekat”, “sahabat”, “sekutu (hence the word ‘ally’)”, “bawahan”, “baginda”, “kolega”, “rekan kerja”, “wali”, dan seterusnya, masih banyak lagi. Kenapa mereka yang berpolitik itu tidak mengartikan mawla di hadits ini sebagai pemimpin?

Pertanyaan yang lain, untuk Syiah, kalau memang maksud dari Rasulullah menunjuk Ali untuk menjadi penerus, mengapa tidak menggunakan kalimat yang lebih eksplisit? Atau setidaknya menggunakan kata yang jelas-jelas berarti “pemimpin”, misalnya “Amir” atau “Imam“. Kenapa harus “Mawla” yang sangat bergantung dari konteks?

[3] Saat-saat terakhir Rasulullah: Episode kertas dan pena.

Menuliskan pen and paper dalam bahasa Indonesia memang tidak keren.

Tapi diriwayatkan bahwa ketika Rasul sakit parah, pada hari Kamis, beliau meminta kertas dan pena untuk menuliskan sesuatu (tanda tanya kecil: um, beliau tidak buta huruf dan bisa menulis? atau akan mendiktekan sesuatu?). Beliau berkata bahwa dia akan menuliskan pernyataan yang mencegah Islam dari kehancuran.

Tapi permintaan beliau ditolak oleh Umar, yang mengatakan “Kitab Allah (Quran) cukup bagi kami.” Tapi beberapa sahabat yang lain mendebat beliau sampai terjadi keributan, ada yang mendukung dan ada yang tidak. Sampai akhirnya Rasulullah mengatakan “pergi!” karena keributan itu.

Tentu tanda tanya besarnya adalah “Apa yang hendak dituliskan/didiktekan Rasulullah sebenarnya?“. Mungkin pertanyaan yang tak akan terjawab hingga kapan pun.

***

Tapi saat itu, ayat ini sudah turun (Al Maidah: 3)

[…] Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. […]

Ayat yang menyatakan bahwa tentang agama Islam, sudah sempurna saat itu. Apa pun yang dituliskan Rasulullah, tidak akan menambah kesempurnaannya. Mungkin itu lah yang menjadi dasar bagi Umar untuk menolak apa yang diminta Rasulullah.

Setidaknya itu lah sudut pandang Sunni yang saya tahu.

***

Sudut pandang lain tentu saja dari sekte satunya, Syiah. Yang menganggap bahwa ini adalah ketidaktaatan Umar kepada Rasulullah, sekaligus melanggar QS Al-Hashr ayat 7

[…] Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. […]

***

Apa pun itu, setelah itu Rasulullah dalam keadaan tak sadarkan diri hingga akhirnya meninggal dunia. Menyisakan misteri. Misteri dari banyak sekali sudut pandang.

 

*** bersambung ***

Masih panjang ceritanya, dan masih banyak tanda tanya dari saya. FYI, saya sedang ingin belajar sejarah Islam [mulai zaman kenabian, hijrah, khulafaur rasyidin, bani umayyah, bani abbasiyah, hingga Turki Utsmani], dari berbagai buku dan sebisa mungkin dari banyak sudut pandang. Ada referensi?

Banyak sekali cerita sejarah yang menurut pandangan saya tidak masuk akal kalau dilihat dari satu sisi saja. Misalnya, bagaimana bisa bangsa Mongol mampu menaklukkan Bani Abbasiyah tapi tidak mampu mengalahkan Majapahit-nya Raden Wijaya?

No, history is not ‘his story’ written by the winner. It’s written by whoever wrote it. No matter they won or lose. There is always at least two viewpoints about a story. A Belgian historian may say that the Belgium helped Congo in their most difficult times like they said in TinTin Comics, but a Congolese surely view it as collonialism and slavery. Which one is the truth? No one knows unless we invent the time machine, which is impossible.

Not Reciprocal

LPT: Genuinely caring about somebody a lot, does not guarantee they care about you equally (or at all) in return. Some people will never care about you regardless of what you do or say. So don’t assume somebody appreciates you just because you do nice things for them.

Reddit

Please note this, to whoever value “caring” and hoping to get to more serious relationships.

A Man who Seeks Only Light

“Your next step is to look directly at the sun for half a minute,”said the master.

And the disciple obeyed. When the half-minute was over, the master asked him to describe the field that surrounded them.

“I can’t see it. The sun has affected my vision,”the disciple said.

“A man who seeks only the light, while shirking his responsibilities, will never find illumination. And one who keep his eyes fixed upon the sun ends up blind,” was the master’s comment.

~ Paulo Coelho, “Maktub”

Koin

Beberapa waktu lalu celengan koin saya penuh. Saya bingung harus diapakan. Sebenarnya ini masalah sejak zaman dahulu kala. Pokoknya ketika sudah penuh saya bingung mau diapakan.

Maka, setelah saya memikirkan 10 ide agar koin ini efektif dimanfaatkan, saya menemukan beberapa cara yang bisa membuat koin-koin ini bermanfaat. Here we go.

a. Ditabung di bank. Caranya mudah saja, selotip uang koin itu tiap 10. Lima ratusan sepuluh diselotip jadi lima ribu, dan seterusnya. Hitung dan beri label jumlahnya. Kemudian tinggal datang ke Teller. Kebetulan di bank tempat saya menyimpan uang, BNI, koin itu tidak dihitung kembali. Mereka menggunakan sistem “jaminan”. Saya meninggalkan nomor telepon, nanti kalau uangnya kurang atau lebih saya akan dihubungi. Hanya saja menyelotipnya adalah tedious and boring task.

b. Ditukarkan. Uang kertas tak seribet uang koin, dia bisa masuk dompet. Terutama bagi yang laki-laki yang dompetnya dilipat dan ditaruh di saku belakang celana, uang kertas jauh lebih nyaman. Ada beberapa merchant yang melayani penukaran uang koin. Yang saya tahu adalah Toko Istek Salman, sebuah mini market milik Masjid Salman ITB.

c. Didonasikan. Di depan mini market semacam Indomaret atau Alfamart biasanya ada kotak amal. Diberikan ke panti asuhan atau lembaga sosial lainnya. Untuk receh yang kecil sekali semacam 50 atau 100 rupiah, saya lebih suka untuk langsung memasukkannya ke sana. Nantinya tidak akan merepotkan saya, dapat pahala sedekah pula. Sedikit-sedikit tak apa. Yang penting kontinu.

d. Dibelanjakan untuk barang-barang kecil. Untuk barang-barang kecil kebutuhan sehari-hari yang harganya tidak seberapa. Indomie, sabun mandi, pasta gigi, shampo sachet, pulpen, tisu saku, semua masih terjangkau dengan menggunakan uang receh.

e. Ditaruh di bagasi motor untuk beli bensin. Saya kemarin kepikiran, bagaimana kalau uang-uang receh yang sudah saya selotip seperti di poin (a) itu saya taruh di bagasi motor. Sekali isi bensin saya biasanya menghabiskan Rp 20.000. Dengan adanya recehan yang sudah diselotip di bagasi motor, saya tak perlu mengeluarkan uang dari dompet. Setidaknya saya tidak merasa mengeluarkan uang.

f. Membayar parkir. Harga parkir sepeda motor sekitar 1000 rupiah hingga 2000. Begitu ada koin langsung dikeluarkan. Simpan 1000 dan 2000 yang kertas, karena menyimpannya lebih mudah.

g. Ditaruh di mobil. Mobil adalah target atau sasaran para penerima gaji jalanan. Pengamen, Pak Ogah, tukang “tambal lubang” jalan, pengemis, tukang parkir liar, dan masih banyak lagi. Dibutuhkan uang receh untuk meminimalisir pengeluaran. Kadang-kadang mereka diberi 5000, bukannya kembalian yang kita terima, tapi hanya ucapan terima kasih.

h. Dipakai kerokan. Oh wellit should says all right? Koin paling enak untuk kerokan yang keluaran sekarang adalah uang koin 1000 rupiah putih. Haha.

i. [Obsolete] Dipakai di telepon umum. Dulu di zaman saya masih SD, beberapa blok dari rumah saya ada telepon umum. Bersebelahan, satu menggunakan kartu telepon yang berlubang sesuai dengan sisa pulsanya dan bisa untuk panggilan interlokal, dan satu lagi telepon umum koin, hanya bisa untuk panggilan lokal. Dulu 100 rupiah bergambar wayang bisa mendapat 3 menit bicara, selang beberapa saat, harganya naik menjadi 100 rupiah per menit.

Dulu sempat kepikiran bagaimana kalau koinnya dilubangi dan diberi benang, bisakah kita telepon unlimited? Saya coba betulan, ternyata tidak bisa, koin berlubang yang sudah saya tali benangnya langsung masuk ke tempat kembalian, haha. Padahal susah melubangi koinnya.

j. Tetap disimpan. Harga celengan baru plastik yang termurah hanya sekitar 3000 rupiah, salah satu opsi yang baik adalah beli celengan baru. Ingat filosofi menabung sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Paman Gober saja bisa kaya dengan menyimpan uang koin!

***

Ada ide lagi?