A Man who Seeks Only Light

“Your next step is to look directly at the sun for half a minute,”said the master.

And the disciple obeyed. When the half-minute was over, the master asked him to describe the field that surrounded them.

“I can’t see it. The sun has affected my vision,”the disciple said.

“A man who seeks only the light, while shirking his responsibilities, will never find illumination. And one who keep his eyes fixed upon the sun ends up blind,” was the master’s comment.

~ Paulo Coelho, “Maktub”

Koin

Beberapa waktu lalu celengan koin saya penuh. Saya bingung harus diapakan. Sebenarnya ini masalah sejak zaman dahulu kala. Pokoknya ketika sudah penuh saya bingung mau diapakan.

Maka, setelah saya memikirkan 10 ide agar koin ini efektif dimanfaatkan, saya menemukan beberapa cara yang bisa membuat koin-koin ini bermanfaat. Here we go.

a. Ditabung di bank. Caranya mudah saja, selotip uang koin itu tiap 10. Lima ratusan sepuluh diselotip jadi lima ribu, dan seterusnya. Hitung dan beri label jumlahnya. Kemudian tinggal datang ke Teller. Kebetulan di bank tempat saya menyimpan uang, BNI, koin itu tidak dihitung kembali. Mereka menggunakan sistem “jaminan”. Saya meninggalkan nomor telepon, nanti kalau uangnya kurang atau lebih saya akan dihubungi. Hanya saja menyelotipnya adalah tedious and boring task.

b. Ditukarkan. Uang kertas tak seribet uang koin, dia bisa masuk dompet. Terutama bagi yang laki-laki yang dompetnya dilipat dan ditaruh di saku belakang celana, uang kertas jauh lebih nyaman. Ada beberapa merchant yang melayani penukaran uang koin. Yang saya tahu adalah Toko Istek Salman, sebuah mini market milik Masjid Salman ITB.

c. Didonasikan. Di depan mini market semacam Indomaret atau Alfamart biasanya ada kotak amal. Diberikan ke panti asuhan atau lembaga sosial lainnya. Untuk receh yang kecil sekali semacam 50 atau 100 rupiah, saya lebih suka untuk langsung memasukkannya ke sana. Nantinya tidak akan merepotkan saya, dapat pahala sedekah pula. Sedikit-sedikit tak apa. Yang penting kontinu.

d. Dibelanjakan untuk barang-barang kecil. Untuk barang-barang kecil kebutuhan sehari-hari yang harganya tidak seberapa. Indomie, sabun mandi, pasta gigi, shampo sachet, pulpen, tisu saku, semua masih terjangkau dengan menggunakan uang receh.

e. Ditaruh di bagasi motor untuk beli bensin. Saya kemarin kepikiran, bagaimana kalau uang-uang receh yang sudah saya selotip seperti di poin (a) itu saya taruh di bagasi motor. Sekali isi bensin saya biasanya menghabiskan Rp 20.000. Dengan adanya recehan yang sudah diselotip di bagasi motor, saya tak perlu mengeluarkan uang dari dompet. Setidaknya saya tidak merasa mengeluarkan uang.

f. Membayar parkir. Harga parkir sepeda motor sekitar 1000 rupiah hingga 2000. Begitu ada koin langsung dikeluarkan. Simpan 1000 dan 2000 yang kertas, karena menyimpannya lebih mudah.

g. Ditaruh di mobil. Mobil adalah target atau sasaran para penerima gaji jalanan. Pengamen, Pak Ogah, tukang “tambal lubang” jalan, pengemis, tukang parkir liar, dan masih banyak lagi. Dibutuhkan uang receh untuk meminimalisir pengeluaran. Kadang-kadang mereka diberi 5000, bukannya kembalian yang kita terima, tapi hanya ucapan terima kasih.

h. Dipakai kerokan. Oh wellit should says all right? Koin paling enak untuk kerokan yang keluaran sekarang adalah uang koin 1000 rupiah putih. Haha.

i. [Obsolete] Dipakai di telepon umum. Dulu di zaman saya masih SD, beberapa blok dari rumah saya ada telepon umum. Bersebelahan, satu menggunakan kartu telepon yang berlubang sesuai dengan sisa pulsanya dan bisa untuk panggilan interlokal, dan satu lagi telepon umum koin, hanya bisa untuk panggilan lokal. Dulu 100 rupiah bergambar wayang bisa mendapat 3 menit bicara, selang beberapa saat, harganya naik menjadi 100 rupiah per menit.

Dulu sempat kepikiran bagaimana kalau koinnya dilubangi dan diberi benang, bisakah kita telepon unlimited? Saya coba betulan, ternyata tidak bisa, koin berlubang yang sudah saya tali benangnya langsung masuk ke tempat kembalian, haha. Padahal susah melubangi koinnya.

j. Tetap disimpan. Harga celengan baru plastik yang termurah hanya sekitar 3000 rupiah, salah satu opsi yang baik adalah beli celengan baru. Ingat filosofi menabung sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Paman Gober saja bisa kaya dengan menyimpan uang koin!

***

Ada ide lagi?

How to be Ferociously Happy

images

Ini buku, hadiah dari Rizka. Well, sebenarnya saya titip beli, tapi saya mau ganti uangnya beliaunya tidak mau, dan sebagai gantinya saya diminta menuliskan reviewnya.

Baiklah.

Dushka Zapata adalah salah satu penulis favorit saya di Quora. Selain James Altucher. Keduanya punya pengalaman hidup dan writing skill yang saya kagumi.

Buku ini adalah kumpulan essay yang ditulis oleh Dushka, semua isinya ada di Quora, semua adalah jawaban-jawaban pertanyaan kepadanya. Tentang kehidupan. Tentu saja karena beda kultur, terkadang ada yang tidak bisa saya setujui, tetapi terlepas dari itu isinya sangat bagus.

Banyak kata-kata yang saya harus membuka kamus untuk mengerti maknanya. Di judulnya saja mula-mula saya tidak tahu apa arti ferociously yang ternyata artinya sama dengan extremely.

Agak susah menuliskan review dari buku yang merupakan kumpulan essay tiap halaman atau dua halaman. Tidak bisa disambung menjadi cerita. Tapi ada beberapa artikel yang signifikan menurut saya. So let’s browse through it beserta link di Quora-nya, jadi bisa dibaca.

  1. It will Always be Winter. Tentang depresi. “Depression disguise its voice as your own” katanya.
  2. An Expert At Getting Lost.”Finding yourself is a moving target. The world changes constantly. We change constantly. Once you find yourself you have to begin again.”
  3. You Can Do Anything. Tapi yang di buku, bagian tentang kissing nya dihilangkan. Yap, kita bisa belajar tentang apa saja, hingga bisa.
  4. Fallacy. “Time changes our perspective and our feelings, and we constantly acquire new information; all of which casts our already compromised memories in a different light.”
  5. Shortsighted. Tentang memahami bahwa mencoba memaksa untuk memenangkan argumen akan membawa petaka.
  6. Don’t Buy It. “There is no such thing as a charmed life. Perfection is bullshit (not to mention, grossly overrated. The joy is in the flaw.)”

Dan sebenarnya masih banyak lagi.

Buku ini enaknya diperlakukan begini: “Buka halaman randomly, lalu dibaca” dan selalu saja ada artikel yang bisa dipetik pelajarannya.

Saya juga sudah membeli buku kedua penulisnya, yang isinya mirip-mirip, tapi dengan topik yang berbeda. Dan Mei ini katanya akan ada buku ketiganya. Wah, sabarlah wahai dompet.

Tentang Bumi Datar

Yang mengambil ayat-ayat Al-Quran sebagai dasar bahwa bumi datar, please don’t.

  • Tuhan yang menguasai dua timur dan dua barat (QS 55:17). Dua timur dan dua barat hanya mungkin ada kalau bumi bulat.
  • Masih dari surat yang sama, di QS 55:33 ada kata aqthar (diameter). Benda yang bentuknya bulat punya diameter.
  • Jadwal Sholat yang kita pakai sehari-hari itu diambil dan dihitung berdasarkan equation of time, yang diturunkan dari kebulatan bumi dan revolusinya terhadap matahari.

Quote #NomorBerapaLupa

No amount of guilt can change the past, no amount of worrying can change the future

– ‘Umar ibn Al-Khattab r.a.

Rasanya Quote itu memang pantas sekali kalau diucapkan oleh ‘Umar kalau kita baca sejarahnya.

Bagaimana beliau menghadapi masa lalunya, seorang “preman pasar”, sangat membenci Nabi Muhammad, sampai-sampai pernah hampir membunuh Rasulullah. How much amount of guilt he faced after all he have done? I can’t imagine.

Tapi beliau pada akhirnya menjadi salah satu Sahabat Nabi yang paling diingat dalam sejarah, menjadi pemimpin di sebuah negeri di puncak kejayaannya, bijaksana dengan melaksanakan shalat di luar gereja ketika beliau berkunjung ke Jerusalem, karena tidak ingin dianggap mengubah gereja menjadi masjid.

Bayangkan dengan masa lalu seperti itu, kalau kita yang menghadapi pasti khawatir akan masa depan, hukuman apa yang diterima oleh kita di hadapan Yang Maha Adil? Tapi tidak dengan ‘Umar. He is living for the present, untuk sekarang lakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan. Worrying can not change the future.

***

Tapi penilaian orang lain terhadap kita memang bisa sangat lain. Ada orang-orang yang benar-benar membenci ‘Umar, salah satunya karena ungkitan masa lalu beliau. Bahkan ketika Piruz Navahandi menikamnya saat menjadi Imam Shalat Subuh di Masjid Nabawi, ada yang merayakannya. Hingga kini pun, makam sang pembunuh masih berdiri megah dan bahkan diziarahi.

Ah, manusia memang tak bisa lupa dan memaafkan masa lalu.