In Memoriam Dr. Yudi Gondokaryono

Minggu subuh, saat saya terbangun sebelum sholat shubuh, sejenak saya mengecek notifikasi ponsel saya, banyak notifikasi di sana. Tidak biasanya. Benar saja, beberapa kawan dan grup mengabarkan bahwa Pak Yudi wafat. Saya terdiam seribu bahasa, susah berkata-kata, dan setengah tidak percaya.

“Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.”

Jumat sebelumnya, saya dan istri masih menyempatkan bertemu Pak Yudi sejenak. Masih bercanda dan bersenda gurau bersama kami. Beliau tampak sehat, tidak ada pertanda dan firasat. Hanya sekitar 15 menit kami bertemu, dan saya sama sekali tak menduga itulah pertemuan terakhir saya dengan beliau.

Dulu ketika saya mahasiswa dan beliau ketua program studi, saya berharap cara berpisah dengan beliau adalah bersalaman dengannya ketika wisuda, meski akhirnya tidak pernah terlaksana. Tapi Allah berkehendak lain. Cara yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan, saya berdiri untuk mensholatkan beliau di Salman.

***

Beliau adalah sosok guru yang sangat mengerti keadaan muridnya. Beliau adalah yang paling banyak memberikan influence dan nasehat bagi saya, Johan, Rizka, dan banyak lagi teman lain. Tanpa beliau, sulit rasanya membayangkan saya akan ada pada posisi sekarang ini.

Banyak kisah yang saya lalui dengan beliau. Berbagai project kami kerjakan bersama. Saya juga banyak membantu beliau di urusan akademis. Mengolah nilai, menyusun silabus dan kurikulum, mengkoreksi ujian, dan banyak lagi. Di luar itu, terkadang kami juga diajak keluar, memancing atau ke pantai.

Jasa beliau yang paling tak terlupakan bagi saya adalah ketika beliau membimbing saya tugas akhir. Saat itu, tugas akhir saya tak kunjung selesai, bisa dibilang sedikit lagi DO. Deadline sidang sudah semakin dekat, dan saya sudah pasrah akan ikut periode berikutnya – yang merupakan kesempatan terakhir buat saya.

Jumat adalah batas waktu pelaksanaan sidang. Tiba-tiba beliau menelepon di hari Rabu malam, “Wan, ke kampus sekarang.”, sesampainya di kampus beliau bilang, “Selesaikan draft TA malam ini, cukup eksperimennya, saya menginap kalau mau tanda tangan, besok cari penguji, Jumat sidang.”.

Kata-kata beliau Alhamdulillah berhasil saya laksanakan. Saya akhirnya minta tanda tangan pengesahan ke beliau jam 2 pagi. Tidur sejenak hingga subuh dan bersih-bersih sejenak. Sepanjang Kamis mencari penguji, dan pada akhirnya hari Jumat berhasil melaksanakan sidang yang membuat saya menyandang gelar sarjana.

Beliau bahkan rela menginap di kampus demi muridnya yang lamban ini agar bisa lulus. Sungguh baik apa yang beliau lakukan sepanjang hayatnya.

Masih banyak jasa beliau yang sangat besar bagi saya, mulai dari memberikan rekomendasi S2 dan beasiswa voucher, project-project yang hasilnya bisa saya gunakan untuk bertahan hidup selama kuliah S2, membimbing saya menyelesaikan thesis S2, hingga merekomendasikan saya untuk menjadi dosen di ITB yang baru diumumkan awal bulan kemarin.

***

Rasanya kata-kata tak akan cukup untuk menyebutkan semua kebaikannya. Tidak akan cukup pula tulisan beberapa paragraf.

Cara hidup seseorang bisa dilihat dari bagaimana respon orang-orang terdekatnya ketika dia wafat. Kata-kata yang terlontar dari teman-teman tidak satu pun yang menjelekkan beliau. Semua mengenang kebaikannya.

Saya masih teringat kata-kata nasihat terakhir yang diberikan kepada saya.

Jangan bergantung ke orang lain, termasuk saya. Kalau saya berbuat baik kepada kamu, jangan dianggap kamu berhutang budi ke saya. Kamu harus bisa berdiri sendiri.

Sir, you did really mean it😦

***

Mengutip kata-kata Prof. Armein, “Apa beda guru dengan mahaguru? Guru adalah tempat kita belajar semasa hidupnya. Mahaguru masih terus mengajari kita bahkan setelah ia wafat. Ia mengajari akan kekayaan hidup. Ia mengajari tentang memajukan orang lain.”

Beliau pergi sebagai mahaguru.

Selamat jalan mahaguru. Semoga Allah mengampuni dosa beliau, menerima segala amal ibadah beliau, ilmu yang beliau berikan bisa menjadi amal jariyah yang bermanfaat nantinya, semoga beliau khusnul khatimah.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

Yogyakarta, 28 Desember 2017, can’t hold my tears anymore.

Iklan

Bagasi di Kereta Api

Saya kepikiran tentang beberapa hal tentang bagasi di kereta api:

  • Weight dan volume limit ada, tapi bagasi kita tidak pernah diukur dan ditimbang,
  • Diperiksa ala bandara pun tidak, mau bawa pisau, gunting, staples, pistol, bahan kimia berbahaya, narkoba, bahkan bom, mungkin juga tidak akan ketahuan.
  • Kenapa gak ada sistem bagasi seperti di pesawat terbang? Ini bakal memudahkan bagi lansia, jadi tidak perlu angkat-angkat barang.
  • Waktu berhenti kereta hanya 3-5 menit mungkin jadi alasan, tapi rasanya harusnya bisa diatasi. Kereta jarak jauh saja bawa bagasi yang seringkali isinya sepeda motor, dan mampu diturunkan dengan cepat.
  • Troli hampir tidak ada di stasiun. Tapi porter selalu ada, walaupun harganya tidak pasti.

😀