Khotbah Jumat Hari Ini

Masjid dekat rumah, lagi. Sama seperti minggu lalu.

Khotbah hari ini tidak panjang, sedikit poin yang disampaikan. Sangat to the point.

Ayat yang disampaikan adalah, sama seperti minggu kemarin. QS Adz-Dzariyat (51): 56

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS 51:56)

Nah, jadi kewajiban manusia itu adalah mengabdi, beribadah, kepada-Nya. Dari premis ini, khatib kemudian menyampaikan mengenai ibadah yang disukai Allah.

Sebuah hadits, disampaikan beliau:

Ya Nabi SAW, amalan apa yang paling disukai Allah SWT ? Nabi SAW menjawab, “Sholat tepat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi, ” Kemudian apa lagi ?”. Rasulullah SAW menjawab “Berbakti kepada orang tua”. Ibnu mas’ud bertanya lagi, “Kemudian apa lagi ya Rasulullah ?”. Rasulillah SAW menjawab “Berjihad di jalan Allah”.

Kemudian beliau menjelaskan satu per satu tiap amalan itu. Dimulai dari diperintahkannya Sholat melalui kejadian Isra’ Miraj, amalan pertama yang ditanyakan nanti, keutamaan Sholat berjamaah.

Untuk poin kedua, beliau menjelaskan cukup singkat, yang saya ingat termasuk menjelaskan amalan yang tidak putus pahalanya di akhirat.

Yang terakhir, beliau menjelaskan contoh jihad di jalan Allah adalah mengajak orang-orang sekitar untuk berbuat kebaikan.

Iklan

Khotbah Jumat Hari Ini

Seperti biasanya, kalau hari Jumat saya menuliskan khotbah yang saya dengarkan. Kali ini tempatnya di masjid dekat rumah.

Khotbah dimulai dengan bersyukur dan wasiat seperti biasa. Kemudian yang pertama kali disampaikan adalah QS Adz-Dzariyat (51): 56

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS 51:56)

Salah satu bentuk pengabdian yang dilaksanakan pada bulan sekarang, Dzulhijjah, adalah ibadah haji. Salah satu rukun Islam, yang wajib dilaksanakan sekali seumur hidup, apabila mampu. Bapak Khatib menegaskan, hanya sekali seumur hidup kewajibannya, sisanya sunnah. Tetapi alangkah bijaksananya kalau memberikan giliran kepada yang lain yang belum pernah, mengingat antrian yang sudah sangat panjang.

Dasar ibadah haji, dijelaskan oleh beliau, adalah QS Ali Imran (3):97

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS 3:97)

Bagi orang yang mampu, ini juga ditegaskan dalam perkataan Umar bin Khattab:

Bahwa Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Siapa yang mampu haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mau mati yahudi atau nasrani.”

Ah, ya, tentang istilah “yahudi atau nasrani” di sini dikonotasikan negatif. Ada beberapa sudut pandang sih tentang ini, mungkin lain kali dibahas.

Tapi, intinya, Umar bin Khattab mengecam mereka yang mampu, tapi tidak melaksanakan ibadah haji.

Lalu, khatib menyampaikan hadits

“Wahai sekalian manusia, Allâh telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kewajiban berhaji)?” Maka beliau diam, sampai orang tadi bertanya tiga kali. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika aku mengatakan ‘ya’, maka tentu wajib (haji setiap tahun), dan kamu tidak mampu.” [HR. Muslim no. 1337]

Jadi tidak wajib hukumnya haji setiap tahun.

Terakhir beliau menutup dengan sebuah hadits lagi, tentang keutamaan ibadah haji.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Demikian, semoga bermanfaat. Anyway, kalau daftar haji sekarang, berangkatnya berapa tahun lagi? Tiga puluh?

Khotbah Idul Adha

Saya Sholat Ied, di masjid rumah, momen langka kami berkumpul berempat di rumah. 😀

Kemarin beberapa poin yang disampaikan oleh Khatib Sholat Ied:

QS Al-Hajj 32:

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS 22:32)

Menurut beliau ibadah kurban adalah salah satu syi’ar Allah. Bentuk cinta manusia kepada penciptanya.

Kemudian beliau menjelaskan sebuah hadits, saya agak lupa hadits yang mana (seingat saya disampaikan oleh Abu Hurairah, tapi gak nemu), tapi yang ini maknanya dekat dengan yang disampaikan:

Ketika Abu Ruzain Al-‘Uqaili bertanya tentang hakikat iman, Rasulullah pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih kau cintai daripada yang lain.” (HR. Ahmad)

Selain itu beliau menjelaskan bahwa kurban bukan hanya punya makna ritual, tetapi juga memiliki makna spiritual, yaitu berupaya menghilangkan sifat hewani pada manusia. Tiga poin yang disampaikan tentang sifat yang berusaha dihilangkan ini:

  • Rakus dan serakah,
  • Tidak punya rasa malu,
  • Tidak punya akhlak yang baik.

Dan dijelaskan dengan detail satu per satu tiap poin.

Hanya ini yang saya ingat, semoga bermanfaat.

Khotbah Jumat Kemarin

Late post. Banyak yang harus dikerjakan kemarin. Saya ada di Masjid Dzarratul Ulum, Batan Bandung, kemarin, sama seperti 2 Minggu yang lalu.

Cerita dari Bapak Khatib yang saya ingat:

Seorang sahabat datang ke Rasulullah SAW dan meminta doa agar diberkahi Allah, lalu Rasulullah mengajarkan tentang lima hal, dan khatib menjelaskan satu per satu tiap poinnya. Lima poin itu adalah

  • Ya Allah berkahilah umur-ku,
  • Ya Allah berkahilah rezeki-ku,
  • Ya Allah berkahilah keluarga-ku,
  • Ya Allah berkahilah ilmu-ku,
  • Ya Allah berkahilah jihad-ku.

Menurut Bapak Khatib, sumbernya dari hadits, tapi saya belum menemukan. Ada yang bisa bantu?

Sedangkan ayat Al-Qur’an yang disampaikan adalah, QS Al-Mu’minun (23) ayat 29

Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat”. (QS 23:29)

Dan juga QS Al-Baqarah (2) ayat 186

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS 2:186)

Hanya itu yang saya ingat. Semoga bermanfaat.

Truth: Doesn’t Matter Who

Sedang ramai di media sosial dan televisi, Mario Teguh tidak mengakui anak dari pernikahan sebelumnya.

Fakta tentang dia benar tentang beliau betul-betul anaknya atau tidak, belum ada konfirmasi. Baru satu pihak yang memberikan bukti berupa dokumen dan foto. Dari pihak tertuduh belum ada konfirmasi.

Update: ternyata sudah ada lanjutannya, tapi berhubung saya tak terlalu peduli, silakan dicari sendiri. Google is just one click away. 😛

Bukan, bukan ini yang ingin saya bahas lebih dalam. Yang ingin saya bahas lebih dalam adalah respons dari kejadian ini.

Banyak di antara mereka menyalah-nyalahkan Mario Teguh. Mengatakan apa yang dibilang Mario Teguh salah kalau mengatakan kita harus menyayangi keluarga dan anak-anak kita. Seolah semua yang dikatakan Mario Teguh adalah salah.

Tampaknya kita belum bisa membedakan yang mana message dan yang mana messenger. Apakah “Kita harus menyayangi keluarga dan anak-anak kita” (message) itu salah? Tidak, itu kebenaran. Apakah Mario Teguh (messenger) salah? Mungkin iya, kalau kejadian ini terbukti.

Siapa pun yang menyampaikannya, truth is truth. Kebenaran adalah kebenaran. Bukan soal siapa.

***

Ah, saya jadi ingat suatu kisah.

Alkisah di zaman Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah saat itu diamanahkan oleh Rasul untuk menjaga gudang beras tempat menyimpan zakat fitrah.

Ketika sedang menjaga beras-beras itu, seseorang datang ke gudang, menumpahkan beras, dan mengambilnya.

Abu Hurairah pun berkata, “Aku akan mengadukanmu pada Rasulullah.” Yang dijawab oleh orang itu, “Aku benar-benar dalam keadaan butuh, aku memiliki keluarga, dan aku sangat membutuhkan beras ini.” Karena kasihan, Abu Hurairah pun melepaskan dan membiarkannya.

Esok paginya, Abu Hurairah menceritakannya pada Rasulullah. Tetapi Rasulullah bersabda, “Dia telah berdusta dan akan kembali lagi.”

Di malam kedua, orang itu benar-benar datang lagi, dan melakukan hal yang sama. Abu Hurairah pun sekali lagi mengancam akan mengadukannya ke Rasulullah. Namun, kali ini, orang itu berjanji, “Aku tidak akan kembali lagi.” Sekali lagi Abu Hurairah kasihan dan membiarkannya pergi lagi.

Esok paginya, Abu Hurairah kembali menceritakannya kepada Rasulullah. Sekali lagi Rasulullah bersabda, “Dia telah berdusta dan akan kembali lagi”.

Benar saja, di malam ketiga, orang itu datang lagi. Abu Hurairah jelas geram, dan kali ini benar-benar berniat menangkapnya. Tapi lagi-lagi orang itu berkilah, “Aku akan mengajarkanmu hal yang bermanfaat, tapi lepaskanlah aku.”

Abu Hurairah pun tertarik dan mengatakan, “Apa itu?”

“Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat kursi hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Jawabnya.

Abu Hurairah, menepati janji, tentu saja melepaskannya.

Esoknya, Abu Hurairah kembali bercerita ke Rasulullah, dia menceritakan bahwa orang itu kembali datang, namun ia lepaskan karena menceritakan sesuatu yang bermanfaat. “Apa itu?” tanya Rasulullah. Abu Hurairah pun menceritakan faedah ayat kursi.

Rasulullah bersabda, “Ada pun dia berkata benar, meskipun dia pendusta. Tahukah engkau siapa yang datang tiga malam itu kepadamu?”. Abu Hurairah tentu saja mengatakan tidak tahu. “Dia adalah setan.” lanjut Rasulullah.

[Hadits Bukhari, 2311]

***

Kebenaran itu bisa datang dari mana saja, dari setan sekalipun. Verifikasilah apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan.

Kisah di Bulan Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang haram untuk berperang. Perjanjian di daerah Arab sewaktu itu. Tiga bulan lain yang tak boleh dipakai berperang adalah Dzulhijjah, Dzulqa’dah, dan Muharam.

***

Zaman Nabi, tahun 2 Hijriah, bulan Rajab.

Abdullah bin Jahsy diperintahkan Nabi Muhammad melakukan perjalanan melalui sebuah surat. Surat itu tidak boleh dibuka sebelum dua hari perjalanan.

Abdullah bin Jahsy pun melakukan perjalanan, setelah dua hari, surat pun dibuka. Perintahnya adalah lanjutkan perjalanan sampai Nakhlah, sebuah kota antara Mekkah dan Thaif, dan awasi kaum Quraisy yang ada di sana.

Sesampainya di Nakhlah, rombongan Abdullah bin Jahsy bertemu dengan rombongan karavan kaum Quraisy, yang dipimpin oleh Ibnu Al-Hadhrami.

Rombongan Ibnu Al-Hadhrami membawa karavan, yang berisi penuh makanan dan barang-barang. Jika dibiarkan lewat, besok mereka akan mencapai Madinah, tapi jika diperangi, rombongan Abdullah bin Jahsy melanggar perjanjian tentang bulan haram.

Abdullah bin Jahsy dan rombongan memutuskan untuk memerangi mereka. Bahkan dengan intrik, meminta salah satu anak buahnya menggunduli rambutnya agar rombongan Ibnu Al-Hadhrami mengira rombongannya adalah rombongan umrah.

Benar saja, rombongan Ibnu Al-Hadhrami tidak curiga sedikit pun, mengira rombongan Abdullah bin Jahsy adalah rombongan umrah. Dengan santai mereka menyiapkan makanan untuk bekal melanjutkan perjalanan.

Saat itu lah, Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawan menyerang mereka. Salah seorang anak buah Abdullah bin Jahsy melepaskan busur panah yang menewaskan Ibnu Al-Hadhrami. Dua orang anak buahnya ditangkap, dan seorang sisanya berhasil meloloskan diri.

Karavan mereka dan isinya diambil, selaku harta rampasan perang.

Kaum Quraisy, setelah kejadian ini, tentu saja marah besar. Mereka menganggap kaum muslimin telah melanggar perjanjian tidak berperang di bulan haram.

Memang, tak bisa dipungkiri, Abdullah bin Jahsy berperang di bulan haram.

***

Nabi Muhammad, mendengar kabar itu, tidak bisa dibilang senang. Beliau tidak mau menerima harta rampasan perang itu karena perang dilakukan di bulan haram.

Lalu turunlah ayat, Al-Baqarah 217:

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS 2:217)

Ayat ini, pada dasarnya mengatakan “Yang dilakukan oleh Abdullah bin Jahsy itu salah, tapi yang dilakukan kaum Quraisy lebih salah lagi.”

Fitnah (perilaku kaum Quraisy) lebih kejam dari pembunuhan (yang dilakukan Abdullah bin Jahsy dan rombongan).

Jadi two wrongs make a right? Apakah ayat ini merupakan pembenaran tindakan Abdullah bin Jahsy?

Kaum muslimin di Madinah tampaknya tak terlalu mempermasalahkan itu, mereka justru bertanya-tanya, apakah Abdullah bin Jahsy memperoleh dosa besar atau pahala atas tindakannya itu? Sehingga turunlah surat Al-Baqarah 218:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 2:218)

Yang jelas, Abdullah bin Jahsy masuk dalam ketiga syarat yang disebut di surat itu.

Dan setelah kedua ayat itu turun, Nabi Muhammad menerima bagian beliau dari harta rampasan perang itu.

***

Dan kisah ini menyisakan pertanyaan-pertanyaan besar di kepala saya.

Apakah tindakan melanggar perjanjian itu bisa dibenarkan begitu saja? Apakah bila salah satu pihak melakukan kesalahan yang lebih besar, kesalahan lain yang dilakukan oleh pihak lain bisa dibenarkan?

Yang jelas tindakan Abdullah bin Jahsy, bukanlah salah satu tindakan yang saya sukai.

Tapi Allah berfirman, persis sebelum ayat 2:217, di ayat 2:216

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2:216)

Kapan saya harus tahu bahwa sesuatu yang saya benci adalah sesuatu yang amat baik bagi saya? Sebaliknya, kapan yang saya sukai adalah yang buruk?

Tindakan Abdullah bin Jahsy itu yang dibenci tapi amat baik?

Adakah yang bisa menjawab pertanyaan saya?

Ah, ya mungkin sudah terjawab di Allah mengetahui, sedangkan saya tidak. Wallahu’alam.

***

Beberapa sumber yang saya baca: Tafsir Ibnu Kathsir, Asbabun Nuzul surat 2:217-218, dan Nakhla Raid di Wikipedia.

Khotbah Jumat Hari Ini

Masjid LIPI, Sangkuriang, Bandung. Alhamdulillah, saya masih melihat Pak Mamo, berjualan di sana. Siomay dan bakso tahu. Semoga berkah Pak. Saya hari ini tak mampir karena memang sedang ada urusan lain.

***

Tentang khotbahnya:

Khotbah dimulai dengan Khatib memberikan stern telling ke jamaah tentang tidak bolehnya menggunakan handphone saat khotbah berlangsung. Mungkin ada jamaah yang bermain hape saat itu.

Tapi Bapak Khatib juga terlambat datang, sekitar 5 menit setelah masuk waktu Dhuhur. But two wrongs don’t make it right, bukan?

Poin-poinnya tadi, karena sudah mendekati Idul Adha, maka topiknya tidak jauh-jauh

  • Haji, salah satu ibadah yang dilakukan di bulan Dzulhijjah. Pada ibadah haji, semua orang yang melaksanakan menggunakan pakaian yang sama, tidak peduli kaya atau miskin, dari negara mana pun, menyimbolkan semua orang sama di hadapan-Nya.
  • Kurban, sama seperti minggu lalu, yang dibahas adalah Al-Kautsar: 2. Kurban adalah salah satu bentuk bersyukur. Jangan dilihat nilainya, karena tidak sebanding dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita.
  • Hari tasyrik, kutipan hadits yang disampaikan khatib:
  • Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan banyak mengingat Allah.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

  • Jadi pada hari itu kita dilarang berpuasa, hari makan dan minum. Selain itu juga hari untuk banyak berdzikir.

Khotbahnya tidak panjang, hanya poin-poin itu saja yang disampaikan. 🙂