Telur Kuda dan Panda

Diceplok enak.

Iklan

Cheatsheet Kahuripan

Kiaracondong-Lempuyangan:

  • Kursi genap maju, kursi ganjil mundur.
  • A, B, C duduk bertiga. A jendela, B tengah, C gang.
  • D, E duduk berdua. D gang, E jendela.

Lempuyangan-Kiaracondong

  • Kursi ganjil maju, kursi genap maju.
  • Sisanya sama.

Tips murah:

  • Pesan via Traveloka apps, pake kode promo. Diskon 25 ribu. Lumayan.

Proposal and Rejection

Tapi justru ini juga yang bikin saya salut sama doi, bisa ya se-santai itu menerima, sebut saja penolakan. Biasanya orang akan jadi cenderung menghilang pasca kejadian seperti itu.

My wife said this in her blog. I actually don’t understand people who avoid any social contact with the woman after rejection, why should they?

Last year in July, I proposed to her, but she “rejected” me. I put that in a quotation marks as she still insists that was not a rejection, lol.

Long time ago, I heard an advice, I forgot who said it to me – most likely my parents, that there if someone propose to marry someone else, the one who receive the proposal has a full right to accept or reject it.

She has the responsibilities to consider many things to say yes, she would also think very serious about saying no. That alone is a though task to do. She probably asked her parents, her family, or her friends. Probably she prayed very hard to get an answer.

When it come to conclusion to “yes” or “no”, I should respect her decision. It already a result of deep prayers, thoughts, advices, and considerations.

For me, no means no, I would not ask again because I respect a decision that is not easy to made. I feel that it will be crossing her boundaries if I keep asking her. Simply, no means no, not try harder. Girls, take a note on that.

So if someone has rejected you over a proposal, get over it. She just perform an obligations to considering a ‘yes’ or ‘no’. You and her still can be a friend, doing casual chat or may be replying comments in her social media. Don’t think as if she is an enemy whom have to be avoided.

Also, to propose to someone is a *very* hard thing to do. It takes a lot of time to gather courages, guts, nerves, just to say “will you marry me?”. If, someone doing it to you, at least appreciate his efforts.

Marriage is also a serious business to consider. It is very hard to convince yourself that he or she is “the one”.

However, that was an advice from a friend:

You will not be able to 100% convince yourself about it.

So, if you want to propose to someone or someone proposed to you, do not search any reason to say “yes, she is the one”, instead ask yourself, “what is the reason you should say ‘no’ to him/her?”

As she asked again later about the proposal, I had not find any reason of which I should say “no”.

As times goes by, I still don’t find any reason to say “no” 🙂

Quote #45

A: Sebel ya di media sosial kemarin isinya ribut-ribut tentang wanita karir vs ibu rumah tangga, nggak beres-beres.

B: Ya gak bakal beres lah, yang satu berusaha menyampaikan kebenaran, yang lain menjawab mencari pembenaran. Entah yang mana yang kebenaran dan mana yang pembenaran.

A: …

Well, I guess, everyone hold their own ‘truth’ and think the other is just make ‘justification’. Which of course, a never ending debate will be born.

And I just made up the number of the quotes as I am lost on tracking it. 😛

6 Desember 2016: Pertanyaan yang Dulu Masih Berlaku Nggak?

Alkisah, pada 6 Desember 2016, kebetulan saat itu kegiatan saya hanya ada di kampus ITB dari jam 11 pagi hingga jam 3 sore.

Bukan hari istimewa, hari yang sepertinya akan berlalu begitu saja. Kebetulan saya sedang menyiapkan ujian Arsikom untuk anak-anak, karena Pak Yudi, dosen saya, meminta saya menggantikannya, karena beliau sedang dirawat di rumah sakit.

15356580_10211306411446919_162550312878975340_n (1)

Setelah membuat soal, membuat absensi, menuliskan pembagian ruangan, dan menempelkannya di 9103 dan 9104. Saya pulang.

Yang saya ingat anak-anak angkatan ini, di jadwal Ujian Arsikom jam 9 hingga 12, lanjut Ujian Pengolahan Sinyal Digital jam 1 hingga 4 di hari Rabu besoknya itu. Untunglah tiba-tiba jadwal ujian PSD-nya diundur seminggu kemudian. Kasihan juga mereka.

***

Sampai di kosan saya, secara naluriah bersantai-santai tentu saja. Tidur siang, menikmati hidup, memandangi indahnya sore dari jendela kamar sembari berbaring.

Di bawah, tampak ada keributan. Bagian bawah kos saya adalah kantor Kabayan Consulting milik teman saya, Zul. Teman saya ini sedang resah dan gelisah, ada project yang tidak tertangani karena ditinggalkan oleh freelancer yang seharusnya mengerjakan project tersebut. Istilah kantor untuk ini adalah “kebakaran”.

Zul meminta saya menjadi “pemadam kebakaran” sore itu. Yang penting projectnya beres, sembari menawarkan kompensasi yang cukup menarik.

Baiklah, saya bilang pikir-pikir dulu nanti aja kita obrolin habis makan malam.

***

Dan, pergilah saya setelah maghrib ke Bakso Malang depan Bappeda jabar. Dekat Dago Asri. Mau coba bakso di situ, ambil sendiri juga.

Tiba-tiba masuk WhatsApp dari teman saya, Ella (waktu itu masih teman :)) ). Sekadar ngobrol sederhana, nanya kabar dan menanyakan proses rekrutmen dosen di ITB dan progres saya di sana – yang sampai sekarang masih segelap tinta cumi-cumi.

Terus cerita-cerita tentang Ph.D yang mana saya dapat LoA dari tempat dia sekolah dulu, dan yang interview saya adalah dosen pembimbing dia.

Terus cerita terhenti, karena dia gak bales agak lama. Saya pun pulang dari warung bakso dan melanjutkan negosiasi imbalan yang menarik dari Zul.

***

Akhirnya saya menerima tawaran dari Zul. Dan project ini ajaib, selama 3 bulan setelahnya saya ngoding aneh-aneh. Dari bikin fungsi buat regresi linier, bikin fungsi zeros dan ones-nya matlab di PHP, bikin regresi eksponensial dari scratch, belajar sigma-sigma itu.

Dan saya beruntung menerima project ini. Project ini jadi mengalihkan pikiran saya dari anxiety yang saya hadapi. Karena tepat setelah saya menerima tawaran dari Zul, percakapan dengan Ella berlanjut.

***

Ella bilang baru ngobrol sama Bunda-nya, jadi balesnya lama. Terus lanjut ngobrol tentang nanya-nanya usahanya Zul ngapain aja, jadi saya cerita-cerita dikit.

What I didn’t see, this is coming:

Ella: Btw wan, td abis ngobrol ama bunda, saya jadi mau nanya, heu, pertanyaan yang kamu yang dulu masih berlaku ga?

Tidak, saya tidak sempat bingung, (iya ini say #eh). Hanya jantung saya tetiba berdegup kencang.

Sekitar 6 bulan sebelumnya, saya memang sempat propose ke dia. Tapi bisa disebut saya ditolak waktu itu. Saya sih punya prinsip, ditolak itu hal biasa dan no means no, not try harder. Memang hak saya untuk propose dan hak dia untuk menerima atau menolak. No hard feeling.

Toh saya juga sudah pernah mengalami kejadian serupa sebelumnya, dan bisa kok tetap bersikap seperti biasanya.

Saya berusaha as normal as before, tapi sempat awkward juga sih waktu ketemu langsung di nikahan sahabat saya, yang secara ajaib menikahi sahabat dia. Tapi ya, itu kewajaran sih, manusiawi.

Untuk memastikan apakah pertanyaan tentang propose saya yang dimaksud, saya bertanya.

Saya: yang mana?

Dan iya.

Ella: Yg dlu, di blog, surat

Dan entah pikiran dari mana, entah dapat ilham dari siapa, entah saya mabuk apa, entah jaringan neuron yang mana yang membentuk jalur-jalur di otak saya, saya menjawab dengan dua kata sederhana.

Saya: Oh, masih

Fuuuu…

What I have done? Buset, ini gak pakai konsultasi ke orang tua dulu, curhat ke teman terdekat, atau diskusi ke siapa gitu. Saya jawab cuma dua menit setelah pertanyaan konfirmasi.

Tapi akal pikiran jernih saya masih bilang, ya kan masih ditanya ini itu sih, kalau nggak cocok tinggal bilang, proses tinggal kita terminate aja.

***

Dan, saya tidak bisa tidur malam itu. Anxiety.